Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Belajar tidak selalu berarti membaca seluruh materi berulang kali dari awal sampai akhir. Dalam prosesnya, siswa perlu mengetahui bagian mana yang sudah dipahami dan bagian mana yang masih terasa membingungkan. Kemampuan mengenali bagian yang belum dikuasai dapat membuat waktu belajar digunakan secara lebih efektif.
Setiap siswa memiliki tingkat pemahaman yang berbeda. Ada materi yang dapat langsung dipahami setelah dijelaskan di kelas, tetapi ada pula bagian yang membutuhkan beberapa kali membaca, latihan, atau penjelasan tambahan. Karena itu, mengenali bagian yang perlu dipelajari kembali menjadi salah satu kebiasaan yang dapat membantu siswa membangun cara belajar yang lebih terarah.
Salah satu kesalahan dalam belajar adalah menganggap semua bagian materi harus mendapatkan waktu yang sama. Padahal, ada konsep yang sudah dipahami dengan baik dan ada konsep yang masih membutuhkan perhatian.
Misalnya, setelah membaca satu bab, siswa mungkin merasa sudah mengerti sebagian besar pembahasan, tetapi masih bingung ketika menemukan beberapa istilah atau contoh soal. Jika siswa mengetahui bagian tersebut, mereka tidak perlu mengulang seluruh bab dengan tingkat perhatian yang sama.
Waktu belajar dapat diarahkan lebih banyak kepada bagian yang belum dikuasai. Sementara itu, materi yang sudah dipahami tetap dapat ditinjau secara singkat agar tidak mudah terlupakan.
Rasa ragu dapat menjadi salah satu tanda bahwa sebuah materi perlu dipelajari kembali. Ketika siswa membaca sebuah penjelasan tetapi tidak yakin dengan maksudnya, bagian tersebut sebaiknya diberi tanda.
Siswa dapat menggunakan tanda sederhana seperti garis bawah, tanda bintang, atau catatan kecil di samping halaman. Tidak perlu langsung mencari jawaban saat itu juga jika sedang membaca materi secara keseluruhan.
Setelah selesai membaca, siswa dapat kembali ke bagian yang ditandai. Dengan cara ini, mereka memiliki daftar bagian yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat pemahaman adalah mencoba menjelaskan materi menggunakan bahasa sendiri tanpa melihat catatan. Jika siswa dapat menjelaskan konsep dengan runtut, kemungkinan besar mereka sudah memahami dasar materi tersebut.
Sebaliknya, jika siswa hanya mengingat beberapa kata tetapi kesulitan menjelaskan hubungan antarbagian, mungkin ada konsep yang perlu dipelajari kembali.
Latihan ini tidak harus dilakukan secara formal. Siswa dapat berbicara sendiri, menjelaskan kepada teman, atau menuliskan penjelasan singkat di buku.
Latihan soal dapat menjadi petunjuk yang cukup jelas mengenai bagian materi yang belum dikuasai. Siswa tidak hanya perlu memperhatikan nilai akhir, tetapi juga melihat jenis soal yang paling sering membuat mereka berhenti atau salah.
Misalnya, dari sepuluh soal, siswa dapat mengerjakan delapan soal dengan lancar tetapi selalu kesulitan pada dua soal yang berkaitan dengan konsep tertentu. Dua jenis soal tersebut dapat menjadi petunjuk untuk melihat kembali materi yang berkaitan.
Beberapa hal yang dapat dicatat setelah latihan antara lain:
Catatan tersebut dapat membantu siswa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki tanpa harus mengulang semua materi secara acak.
Terkadang siswa merasa tidak bisa mengerjakan sesuatu padahal sebenarnya mereka hanya lupa langkah atau istilah tertentu. Kondisi seperti ini berbeda dengan belum memahami konsep.
Jika siswa masih mengerti konsep dasarnya tetapi lupa rumus atau urutan tertentu, mereka mungkin cukup melakukan pengulangan singkat. Namun, jika mereka tidak mengerti mengapa suatu langkah harus dilakukan, berarti diperlukan pemahaman yang lebih mendalam.
Membedakan kedua kondisi tersebut membantu siswa menentukan bentuk belajar yang sesuai. Menghafal ulang belum tentu menyelesaikan masalah jika sumber kesulitannya adalah pemahaman konsep.
Siswa dapat membuat beberapa pertanyaan untuk mengetahui apakah mereka benar-benar memahami materi. Pertanyaan tersebut dapat dibuat sederhana dan disesuaikan dengan isi pelajaran.
Contohnya:
Jika siswa dapat menjawab sebagian besar pertanyaan dengan jelas, mereka memiliki gambaran mengenai tingkat pemahamannya. Jika ada pertanyaan yang sulit dijawab, bagian terkait dapat dimasukkan ke daftar belajar kembali.
Ketika mempelajari kembali suatu materi, siswa sebaiknya memiliki tujuan yang jelas. Jangan hanya membaca halaman yang sama berulang kali tanpa mengetahui apa yang ingin diperbaiki.
Misalnya, tujuan membaca kembali adalah memahami satu istilah, mengetahui urutan sebuah proses, atau mencari alasan mengapa sebuah rumus digunakan. Dengan tujuan yang spesifik, siswa dapat membaca secara lebih aktif.
Cara ini juga membuat kegiatan belajar terasa lebih ringan karena siswa tidak harus mengulang semua informasi yang sudah dikuasai.
Catatan pelajaran dapat menjadi alat untuk melihat bagian mana yang masih belum lengkap. Jika terdapat konsep yang hanya ditulis sebagian atau ada bagian yang tidak sempat dicatat, siswa dapat memeriksanya kembali melalui buku atau sumber pembelajaran lain.
Catatan yang memiliki bagian kosong bukan berarti selalu menunjukkan bahwa siswa tidak memahami materi. Namun, bagian tersebut dapat menjadi tanda untuk memastikan apakah informasi yang hilang memang penting.
Dengan membandingkan catatan dan materi utama, siswa dapat melengkapi informasi yang dibutuhkan.
Kemampuan memberikan contoh merupakan salah satu cara untuk melihat apakah sebuah konsep sudah dipahami secara lebih nyata. Siswa dapat mencoba membuat contoh sendiri tanpa menyalin contoh dari buku.
Jika mereka mampu membuat contoh yang sesuai, berarti mereka tidak hanya mengingat definisi, tetapi mulai memahami cara konsep tersebut diterapkan.
Sebaliknya, jika siswa mengetahui definisinya tetapi tidak mampu menemukan contoh, materi tersebut mungkin masih perlu dipelajari dari sisi penerapannya.
Siswa sering kali baru mempelajari kembali materi ketika ujian sudah dekat. Padahal, mengecek pemahaman secara berkala dapat membantu mencegah materi menumpuk.
Setelah satu pelajaran selesai, siswa dapat meluangkan waktu beberapa menit untuk melihat kembali catatan dan menandai bagian yang belum jelas. Bagian tersebut kemudian dapat dipelajari secara bertahap pada waktu berikutnya.
Kebiasaan kecil seperti ini membuat proses belajar lebih berkelanjutan. Siswa tidak perlu menghadapi terlalu banyak materi yang terlupakan sekaligus ketika masa ujian tiba.
Siswa dapat membuat daftar sederhana berisi topik yang perlu dipelajari kembali. Daftar tersebut dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan tingkat kesulitan.
Contohnya:
Perlu segera dipelajari
Materi yang belum dipahami dan berkaitan dengan pembahasan berikutnya.
Perlu latihan
Materi yang sudah dipahami tetapi masih sering salah ketika digunakan dalam soal.
Perlu diingat kembali
Materi yang sebenarnya sudah dipahami tetapi mulai terlupakan.
Pembagian seperti ini membantu siswa menentukan apa yang perlu dilakukan terhadap setiap materi, bukan sekadar menuliskan daftar panjang tanpa prioritas.
Merasa familiar dengan sebuah materi tidak selalu berarti sudah benar-benar memahaminya. Terkadang siswa merasa mengenal suatu konsep karena sering melihatnya di buku, tetapi ketika diminta menjelaskan atau menggunakannya, mereka masih mengalami kesulitan.
Karena itu, pemahaman dapat diuji melalui tindakan sederhana seperti menjelaskan, mengerjakan latihan, memberikan contoh, atau menjawab pertanyaan tanpa melihat catatan.
Cara tersebut memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai kemampuan siswa daripada sekadar membaca ulang materi.
Jika setelah mencoba beberapa cara siswa masih belum memahami bagian tertentu, mereka dapat meminta bantuan guru atau teman. Sebelum bertanya, siswa dapat menunjukkan bagian spesifik yang membuat mereka kesulitan.
Pertanyaan yang jelas akan membuat proses penjelasan menjadi lebih efektif. Guru dapat mengetahui konsep mana yang belum dipahami, sementara siswa tidak perlu mengulang semua materi yang sebenarnya sudah mereka kuasai.
Mengenali materi yang perlu dipelajari kembali pada akhirnya merupakan bagian dari kemampuan mengevaluasi proses belajar. Siswa belajar memperhatikan dirinya sendiri, menemukan kesulitan, kemudian menentukan langkah yang dapat dilakukan.
Kebiasaan tersebut dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran. Tidak harus menggunakan metode yang rumit; cukup dengan membaca secara aktif, mencoba menjelaskan, mengerjakan latihan, mencatat bagian yang sulit, dan memeriksa kembali pemahaman.
Dengan mengetahui bagian materi yang benar-benar membutuhkan perhatian, siswa dapat menggunakan waktu belajar dengan lebih terarah dan membangun kebiasaan untuk tidak sekadar menyelesaikan kegiatan belajar, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan yang dipelajari benar-benar dipahami.