Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Kehidupan santri di boarding school tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar di kelas dan pembelajaran agama. Santri juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat, bakat, keterampilan sosial, serta kemampuan fisik melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Salah satu bidang yang menarik bagi banyak remaja adalah olahraga bela diri.
Di lingkungan Pesantren Siswa Al Ma’soem, kegiatan ekstrakurikuler menjadi bagian dari pengembangan diri santri. Pilihan kegiatan yang tersedia mencakup berbagai bidang, termasuk olahraga dan bela diri. Taekwondo tercantum sebagai salah satu pilihan ekstrakurikuler yang dapat menjadi sarana bagi santri untuk mengembangkan kemampuan fisik sekaligus kedisiplinan.
Lalu, bagaimana dengan santri yang ingin mengikuti bela diri seperti Tarung Drajat dan Taekwondo? Apakah status sebagai santri boarding school membuat mereka tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut?
Bela diri pada dasarnya merupakan aktivitas fisik yang membutuhkan latihan teratur. Dalam proses latihan, peserta tidak hanya belajar mengenai teknik menyerang atau bertahan, tetapi juga mengenal aturan, disiplin, pengendalian gerakan, dan keselamatan.
Karena itu, kegiatan bela diri di lingkungan pendidikan dapat mempunyai fungsi yang lebih luas daripada sekadar olahraga.
Santri yang mengikuti latihan perlu belajar datang tepat waktu, menggunakan perlengkapan sesuai ketentuan, mendengarkan instruksi pelatih, serta memahami bahwa latihan mempunyai aturan yang harus dipatuhi.
Hal tersebut sejalan dengan karakter kehidupan pesantren yang menekankan keteraturan dan tanggung jawab.
Taekwondo merupakan salah satu cabang bela diri yang dikenal luas dan mempunyai sistem latihan yang terstruktur. Dalam latihan, peserta dapat mempelajari teknik dasar, gerakan, tendangan, keseimbangan, koordinasi, serta pola latihan sesuai tingkat kemampuan.
Bagi santri, kegiatan seperti ini dapat menjadi pilihan untuk menjaga kebugaran tubuh sekaligus mengembangkan keterampilan.
Informasi kegiatan ekstrakurikuler Al Ma’soem mencantumkan Taekwondo sebagai salah satu kegiatan yang tersedia. Dengan demikian, santri yang memiliki minat terhadap bela diri mempunyai ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut melalui kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan lembaga.
Namun, jadwal, mekanisme pendaftaran, pembagian kelompok, serta ketentuan latihan tetap mengikuti aturan yang berlaku pada tahun ajaran dan program yang sedang berjalan.
Tarung Drajat juga merupakan olahraga bela diri yang dikenal di Indonesia. Bagi santri yang tertarik dengan cabang ini, hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan program pada jenjang, periode, dan unit pendidikan yang diikuti.
Nama kegiatan yang tercantum dalam daftar ekstrakurikuler resmi dapat berubah sesuai program lembaga. Oleh sebab itu, orang tua dan calon santri sebaiknya tidak hanya berpatokan pada informasi umum tentang ekstrakurikuler.
Jika Tarung Drajat menjadi pilihan utama, konfirmasi kepada pengelola pesantren dapat dilakukan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut tersedia pada periode pendaftaran yang bersangkutan.
Sementara itu, Taekwondo merupakan salah satu kegiatan bela diri yang tercantum dalam informasi ekstrakurikuler Al Ma’soem.
Pertanyaan ini cukup penting bagi orang tua yang mempertimbangkan boarding school.
Kegiatan ekstrakurikuler seharusnya tidak menggantikan kegiatan utama pesantren. Santri tetap mempunyai jadwal pendidikan formal, kegiatan keagamaan, pembelajaran Al-Qur’an, ibadah, belajar mandiri, serta aktivitas asrama.
Ekstrakurikuler ditempatkan sebagai kegiatan pengembangan minat yang mengikuti pengaturan waktu lembaga.
Karena itu, mengikuti bela diri bukan berarti santri harus memilih antara olahraga atau mengaji. Keduanya dapat ditempatkan dalam jadwal yang berbeda.
Kemampuan mengikuti jadwal justru menjadi bagian dari pembelajaran hidup di boarding school.
Latihan bela diri membutuhkan konsistensi. Kemampuan tidak terbentuk hanya dengan satu atau dua kali latihan.
Santri harus datang secara rutin, mempraktikkan teknik yang diberikan, menerima koreksi, dan mengulang gerakan sampai mampu melakukannya dengan benar.
Kebiasaan tersebut dapat mendukung pembentukan disiplin.
Santri juga belajar bahwa kemampuan fisik harus disertai pengendalian diri. Dalam latihan bela diri, kekuatan tidak boleh digunakan sembarangan. Ada aturan mengenai bagaimana teknik dilakukan dan kapan teknik tersebut boleh digunakan.
Pemahaman seperti ini penting terutama bagi remaja yang sedang berada pada tahap perkembangan fisik dan sosial.
Olahraga bela diri juga dapat menjadi sarana belajar mengenai sportivitas.
Dalam pertandingan atau latihan bersama, santri mungkin mengalami kemenangan maupun kekalahan. Kedua pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Ketika menang, santri belajar menghargai lawan dan tidak berlebihan. Ketika kalah, santri belajar menerima hasil dan melakukan evaluasi.
Pelatih juga mempunyai peran penting dalam memastikan kegiatan berlangsung sesuai aturan olahraga dan memperhatikan keselamatan peserta.
Bela diri merupakan aktivitas fisik sehingga keselamatan perlu diperhatikan.
Santri harus mengikuti instruksi pelatih, melakukan pemanasan, menggunakan perlengkapan yang diperlukan, dan tidak mencoba teknik berbahaya tanpa pengawasan.
Orang tua juga dapat menanyakan bagaimana prosedur latihan, jadwal, pendampingan, serta penanganan apabila terjadi cedera.
Informasi tersebut membantu orang tua memahami kegiatan secara lebih lengkap sebelum anak mengikuti latihan.
Tidak semua santri mempunyai kemampuan fisik yang sama.
Ada yang sudah pernah mengikuti latihan bela diri sebelum masuk pesantren. Ada pula yang benar-benar pemula.
Program latihan yang baik perlu memperhatikan tingkat kemampuan peserta. Santri pemula dapat memulai dari teknik dasar, sedangkan peserta yang sudah mempunyai pengalaman dapat mengikuti latihan sesuai tingkatannya.
Yang terpenting adalah santri mengikuti proses secara bertahap dan tidak memaksakan diri.
Orang tua dapat berdiskusi dengan anak sebelum menentukan pilihan.
Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain minat anak, pengalaman sebelumnya, kondisi fisik, jadwal kegiatan, tujuan mengikuti latihan, dan kesesuaian dengan program pesantren.
Jika anak memilih Taekwondo, orang tua dapat memastikan jadwal dan mekanisme kegiatan kepada pihak pesantren.
Jika anak ingin Tarung Drajat, sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu apakah cabang tersebut tersedia pada tahun ajaran dan unit yang diikuti.
Dengan cara tersebut, keputusan mengikuti ekstrakurikuler dibuat berdasarkan informasi yang jelas.
Santri boarding school tetap dapat mengembangkan minat dalam olahraga bela diri selama kegiatan tersebut tersedia dan sesuai dengan ketentuan lembaga. Taekwondo merupakan salah satu kegiatan bela diri yang tercantum dalam pilihan ekstrakurikuler Al Ma’soem.
Sementara itu, untuk Tarung Drajat, ketersediaannya perlu dikonfirmasi berdasarkan program ekstrakurikuler yang berlaku pada periode tertentu.
Mengikuti bela diri tidak harus menghilangkan kegiatan mengaji atau pembelajaran sekolah. Dengan jadwal yang teratur, santri dapat menjalankan kewajiban akademik dan keagamaan sekaligus mengembangkan kemampuan fisik.
Lebih jauh, latihan bela diri dapat menjadi pengalaman untuk belajar disiplin, sportivitas, pengendalian diri, tanggung jawab, dan ketekunan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian penting dari proses pendidikan santri selama menjalani kehidupan boarding school.