Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Membaca merupakan salah satu kebiasaan sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi perkembangan siswa SMA. Di tengah banyaknya aktivitas sekolah, penggunaan teknologi, media sosial, dan berbagai kegiatan di luar kelas, membaca terkadang dianggap sebagai kegiatan yang hanya berkaitan dengan tugas pelajaran. Padahal, membaca dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, memperluas wawasan, serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Masa SMA merupakan periode ketika siswa mulai berhadapan dengan materi pembelajaran yang semakin kompleks. Mereka tidak hanya perlu menghafal informasi, tetapi juga memahami, membandingkan, menganalisis, dan menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Kebiasaan membaca dapat menjadi salah satu dasar untuk mendukung proses tersebut.
Selain buku pelajaran, siswa juga dapat membaca novel, artikel, majalah, biografi, berita pendidikan, karya ilmiah populer, maupun berbagai bacaan lain yang sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Semakin beragam bacaan yang diperoleh, semakin luas pula kesempatan siswa untuk mengenal berbagai sudut pandang.
Manfaat pertama dari membaca adalah bertambahnya wawasan. Siswa dapat menemukan informasi yang mungkin tidak dibahas secara mendalam di dalam kelas. Melalui buku dan bacaan lainnya, siswa dapat mengenal sejarah, teknologi, budaya, sains, ekonomi, lingkungan, hingga berbagai perkembangan yang terjadi di masyarakat.
Wawasan yang luas dapat membantu siswa ketika mengikuti diskusi maupun mengerjakan tugas. Mereka memiliki lebih banyak referensi untuk memahami suatu persoalan. Siswa juga dapat lebih mudah menghubungkan materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan membaca tidak harus dimulai dengan buku yang sangat tebal. Siswa dapat memulainya dari bacaan yang sesuai dengan minat. Setelah terbiasa, durasi dan jenis bacaan dapat ditingkatkan secara perlahan.
Siswa SMA perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi, memahami alasan di balik sebuah pendapat, dan tidak langsung menerima semua informasi yang ditemukan. Hal tersebut semakin penting karena siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber digital.
Membaca berbagai sumber dapat melatih siswa untuk membandingkan informasi. Misalnya, ketika membaca tentang suatu topik, siswa dapat memperhatikan bagaimana penulis menyampaikan argumen, bukti yang digunakan, serta apakah informasi tersebut memiliki dasar yang jelas.
Kemampuan tersebut sejalan dengan pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif memahami dan mengolah informasi. Dalam program Al Ma’soem International Class, kegiatan pembelajaran dirancang secara interaktif dengan topik yang relevan serta mengembangkan kemampuan inti siswa.
Membaca juga memiliki hubungan erat dengan kemampuan berbahasa. Semakin sering membaca, siswa akan menemukan lebih banyak kosakata dan berbagai bentuk penyusunan kalimat. Hal tersebut dapat membantu ketika mereka menulis tugas, menyampaikan pendapat, maupun melakukan presentasi.
Bagi siswa yang belajar dalam lingkungan bilingual, kebiasaan membaca dapat dikembangkan dalam dua bahasa. Program Al Ma’soem International Class menerapkan bilingual instruction menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Program tersebut juga memiliki extended English learning hours serta Native English Teacher.
Membaca teks berbahasa Inggris secara rutin dapat membantu siswa mengenali kosakata dalam konteks. Mereka tidak hanya menghafalkan kata secara terpisah, tetapi melihat bagaimana kata tersebut digunakan dalam kalimat.
Beberapa jenis bacaan berbahasa Inggris yang dapat digunakan siswa antara lain:
Dengan kebiasaan tersebut, kemampuan bahasa dapat berkembang secara bertahap.
Menulis dan membaca merupakan dua aktivitas yang saling berkaitan. Siswa yang memiliki pengalaman membaca berbagai jenis tulisan dapat memiliki lebih banyak referensi mengenai cara menyusun sebuah tulisan.
Misalnya, ketika mendapat tugas membuat artikel, siswa dapat belajar dari struktur artikel yang pernah dibaca. Mereka dapat memperhatikan bagaimana sebuah tulisan membuka pembahasan, mengembangkan ide, memberikan contoh, dan menyusun informasi agar mudah dipahami.
Hal ini tidak berarti siswa harus meniru tulisan orang lain. Justru berbagai bacaan dapat menjadi referensi untuk menemukan gaya penulisan dan cara menyampaikan ide yang sesuai dengan dirinya.
Salah satu alasan siswa kurang tertarik membaca adalah anggapan bahwa membaca selalu berarti membaca buku pelajaran. Padahal, membaca dapat dilakukan melalui berbagai jenis bahan.
Novel, misalnya, dapat membantu siswa menikmati cerita sekaligus mengenal karakter dan konflik dari sudut pandang tertentu. Buku biografi dapat memperkenalkan perjalanan hidup seseorang. Sementara artikel mengenai teknologi atau lingkungan dapat membuat siswa mengetahui perkembangan yang terjadi di luar sekolah.
Karena itu, orang tua dapat membantu dengan memberikan pilihan bacaan yang beragam. Siswa sebaiknya memiliki kesempatan untuk memilih bacaan berdasarkan minat selama isinya sesuai dan memberikan manfaat.
Kebiasaan membaca akan lebih mudah berkembang apabila lingkungan sekitar siswa memberikan dukungan. Sekolah dapat menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk mencari informasi, berdiskusi, dan menggunakan berbagai sumber belajar.
Fasilitas pembelajaran juga dapat mendukung proses tersebut. Dalam brosur Al Ma’soem Upper Secondary tercantum fasilitas seperti multimedia, komputer di dalam kelas, Smart TV, serta integrated e-learning network.
Teknologi dapat menjadi pelengkap kegiatan membaca. Siswa tidak hanya mengandalkan buku fisik, tetapi juga dapat mengakses sumber digital yang relevan. Namun, penggunaan sumber digital tetap perlu disertai kemampuan memilih informasi yang berkualitas.
Kebiasaan membaca sejak SMA juga dapat menjadi bekal ketika siswa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Di lingkungan perkuliahan, mahasiswa akan berhadapan dengan berbagai jurnal, buku referensi, modul, artikel, dan sumber informasi lainnya.
Jika sejak SMA siswa sudah terbiasa membaca secara teratur, mereka dapat lebih siap menghadapi kebutuhan tersebut. Mereka juga dapat belajar menemukan informasi yang dibutuhkan secara mandiri.
Pembelajaran dengan standar Cambridge yang tercantum dalam program Al Ma’soem International Class juga memberikan konteks akademik yang mendorong siswa untuk berkembang dalam lingkungan pendidikan berstandar internasional.
Membentuk kebiasaan membaca tidak perlu dilakukan secara berlebihan. Yang lebih penting adalah konsistensi. Siswa dapat menentukan waktu tertentu setiap hari untuk membaca, misalnya 15–30 menit sebelum tidur atau setelah menyelesaikan tugas sekolah.
Beberapa cara sederhana yang dapat dicoba adalah:
Target membaca sebaiknya tidak terlalu berat. Kebiasaan yang dilakukan sedikit demi sedikit tetapi konsisten akan lebih mudah dipertahankan dibandingkan target besar yang hanya dilakukan sesekali.
Orang tua juga dapat menjadi contoh bagi anak. Ketika anak melihat orang tuanya memiliki kebiasaan membaca, aktivitas tersebut dapat terasa lebih natural dan tidak hanya dianggap sebagai kewajiban sekolah.
Orang tua juga tidak harus selalu meminta anak membaca buku tertentu. Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih bacaan yang sesuai dengan ketertarikannya dapat membuat kegiatan membaca terasa lebih menyenangkan.
Yang terpenting adalah menciptakan suasana bahwa membaca merupakan kegiatan untuk memperoleh pengetahuan sekaligus menikmati proses belajar. Dengan dukungan sekolah dan keluarga, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari rutinitas siswa.
Bagi siswa yang dipersiapkan untuk memiliki wawasan global, membaca dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal dunia yang lebih luas. Siswa dapat membaca mengenai budaya negara lain, perkembangan pendidikan, teknologi, isu lingkungan, maupun berbagai topik internasional.
Al Ma’soem Upper Secondary sendiri menggambarkan programnya sebagai pendidikan yang berorientasi pada pembentukan generasi muda yang global minded, cerdas, kompeten, serta memiliki kemampuan bahasa Inggris dan nilai moral yang kuat.
Dengan membaca, siswa dapat mengenal berbagai perspektif tanpa harus selalu mengalaminya secara langsung. Jika dipadukan dengan pembelajaran interaktif, kemampuan bahasa, teknologi, dan pengalaman pendidikan lainnya, kebiasaan membaca dapat menjadi salah satu bagian dari proses pengembangan diri selama masa SMA.
Pada akhirnya, membaca bukan hanya aktivitas untuk menyelesaikan tugas sekolah. Kebiasaan tersebut dapat membantu siswa memperluas pengetahuan, memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan menulis, melatih pemikiran kritis, serta mempersiapkan diri menghadapi lingkungan pendidikan yang lebih tinggi. Semakin dini kebiasaan membaca dibangun, semakin besar kesempatan siswa menjadikannya sebagai bagian dari cara belajar dan mengembangkan dirinya.