Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّـلْمُتَوَسِّمِيْنَ
“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda,” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 75)
Kehancuran Orang Durhaka Adalah Tanda Kekuasaan Allah bagi Orang yang Mau Mengambil Pelajaran
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Seiring datangnya suara keras yang mengguntur itu maka Kami jungkir balikkan kota Sodom dan Gomorah yang menjadi tempat tinggal kaum Nabi Luth, dan selain itu, Kami juga hujani mereka secara bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang keras sehingga mereka hancur dan binasa.
Kata “آيَاتٍ” (āyāt) dalam al hijr 75 berarti tanda-tanda, bukti-bukti, atau petunjuk yang menunjukkan kekuasaan dan kebesaran Allah. Yang dimaksud dalam konteks ayat ini adalah kehancuran kaum Nabi Luth yang diceritakan pada ayat-ayat sebelumnya (73–74).
Jadi, kehancuran kaum tersebut merupakan salah satu tanda kekuasaan, keadilan, dan sunnatullah Allah dalam memperlakukan umat yang terus-menerus membangkang setelah datang peringatan yang jelas.
Namun, Al-Qur’an tidak membatasi tanda kekuasaan Allah hanya pada azab. Alam semesta, kehidupan, rezeki, pergantian siang dan malam, serta rahmat-Nya juga merupakan ayat-ayat Allah. Dengan demikian, azab adalah salah satu bentuk ayat Allah, bukan satu-satunya.
Beberapa pelajaran yang dapat ditadabburi adalah:
1. Setiap peristiwa besar mengandung pelajaran. Allah tidak menceritakan kehancuran suatu kaum sekadar sebagai sejarah, tetapi agar manusia mengambil hikmah dan tidak mengulang kesalahan mereka.
2. Kekuasaan Allah tidak dapat dilawan. Kaum Nabi Luth merasa kuat dan bebas berbuat maksiat, tetapi ketika ketetapan Allah datang, mereka tidak mampu menghindar sedikit pun.
3. Tidak semua orang mampu membaca tanda-tanda Allah. Ayat ini menyebut bahwa tanda-tanda itu hanya bermanfaat bagi “al-mutawassimīn” (الْمُتَوَسِّمِينَ), yaitu orang-orang yang tajam pengamatan, mau berpikir, merenung, dan mengambil ibrah dari setiap kejadian.
4. Sejarah adalah guru kehidupan. Al-Qur’an mengajak manusia mempelajari sejarah agar mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilegalkan dan dipertahankan pada akhirnya membawa kehancuran suatu masyarakat.
5. Tanda kekuasaan Allah tidak hanya terlihat pada penciptaan, tetapi juga pada kehancuran. Sebagaimana kehidupan menunjukkan kasih sayang-Nya, kehancuran kaum yang membangkang menunjukkan keadilan dan kekuasaan-Nya.
Ayat ini juga mengajak kita merenung bahwa keruntuhan suatu masyarakat tidak selalu dimulai dengan runtuhnya bangunan, tetapi sering kali diawali oleh runtuhnya moral, keadilan, dan rasa malu. Ketika kemaksiatan dibanggakan, kezaliman dinormalisasi, dan kebenaran dibungkam.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap masyarakat perlu bercermin pada kisah-kisah umat terdahulu. Bentuk akibatnya bisa berbeda-beda sesuai kehendak Allah, tetapi sunnatullah bahwa kerusakan moral membawa dampak buruk bagi kehidupan.
Karena itu, QS. Al-Hijr: 75 mengajak kita menjadi orang yang mampu membaca “ayat-ayat Allah” dalam kehidupan, bukan sekadar melihat peristiwa, tetapi menangkap hikmah, memperbaiki diri, dan semakin takut serta tunduk kepada Allah SWT.
QS. Al-Hijr: 75, tadabburnya adalah bahwa kisah kaum Nabi Luth merupakan ayat (tanda) bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan berusaha untuk ;
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاحْفَظْ مُجْتَمَعَنَا مِنَ الْفَوَاحِشِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَسِّمِينَ الَّذِينَ يَتَّعِظُونَ بِآيَاتِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سُوءَ الْفِتَنِ وَالْعُقُوبَاتِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Jagalah masyarakat kami dari segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Mu, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai. Perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum Muslimin, serta jauhkanlah kami dari berbagai fitnah dan hukuman-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”