Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ شَرَّ الدَّوَآ بِّ عِنْدَ اللّٰهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ
“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 22)
Tidak mau mendengar, mengatakan, dan memikirkan yang benar.
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menyamakan orang-orang munafik itu dengan binatang yang paling buruk, karena mereka itu tidak mau mempergunakan pendengarannya untuk mengetahui seruan-seruan yang benar dan tidak memperhatikan nasihat-nasihat yang baik.
Orang-orang munafik disamakan dengan binatang dalam ayat ini, bukanlah fisik mereka seperti binatang, tetapi sifat kejiwaan merekalah yang seperti binatang. Mereka menolak pengertian dari firman Allah dan tidak mau memikirkan dan memahami kebenaran. Dalam hal ini mereka tidak mau membedakan mana seruan yang benar dan mana ajakan yang salah dan mana itikad yang benar serta mana kepercayaan yang salah.
Sebagai alasan yang lain dipersamakannya mereka dengan binatang adalah karena tidak mau menuturkan kebenaran, seolah-olah mereka tidak berfikir, karena mereka menyia-nyiakan akal mereka sehingga tidak dapat menuturkan kebenaran itu sebagaimana mestinya. Seandainya mereka menggunakan akal, tentulah mereka mau mendengarkan seruan Rasul serta mau mengikutinya.
Di dalam ayat ini atau ayat yang lain Allah, menerangkan bahwa orang-orang munafik itu lebih sesat dari binatang.
Pendengaran dan penglihatan tidak dapat dibuat manusia, karena keduanya bertalian dengan jiwa, dengan hidup. Tidak bisa diharapkan dari benda mati yang tidak mempunyai pendengaran dan penglihatan itu. Bahkan pendengaran dan penglihatan yang hidup tidak berfungsi jika tidak diarahkan.
Perumpamaan yang buruk bagi orang-orang yang tidak mau mendengar, mengatakan, dan memikirkan yang benar sering kali disamakan dengan makhluk yang tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan akal, seperti binatang ternak*atau *hewan. Ini karena binatang tidak memiliki kapasitas untuk memahami atau memproses informasi secara moral atau intelektual seperti manusia. Dalam konteks ini, manusia yang tidak menggunakan akal dan hatinya untuk kebenaran, meskipun memiliki kemampuan tersebut, disamakan dengan makhluk yang hanya bergerak berdasarkan insting tanpa pemahaman.
Misalnya, dalam Al-Qur’an, Allah seringkali membuat perumpamaan tentang orang-orang yang tidak mau mendengarkan kebenaran sebagai “seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi” (QS Al-A’raf: 179).
وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Ini mengisyaratkan bahwa mereka yang menutup diri dari kebenaran lebih rendah dari makhluk yang hanya hidup menurut naluri tanpa tanggung jawab moral.
”Ya Allah, bimbinglah pendengaranku agar selalu mendengar kebenaran, tuntunlah lisanku agar selalu berkata jujur dan baik, serta terangilah pikiranku agar selalu memikirkan yang benar. Jauhkanlah aku dari mendengar, berkata, dan memikirkan hal-hal yang buruk dan sia-sia. Limpahkanlah hidayah-Mu, agar segala yang aku dengar, ucapkan, dan pikirkan senantiasa mendekatkanku kepada-Mu dan kebaikan. Aamiin.”