Seorang Muslim Dilarang Mempunyai Sikap ‘Mau Mendengarkan Tapi tidak Mentaati”

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلَا  تَكُوْنُوْا  كَا لَّذِيْنَ  قَا لُوْا  سَمِعْنَا  وَهُمْ  لَا  يَسْمَعُوْنَ

“dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata, Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan (karena hati mereka mengingkarinya).”(QS. Al-Anfal 8: Ayat 21)

Muslimin dilarang berbuat seperti orang kafir dan munafik yang kelihatannya mendengarkan seruan Nabi dengan penuh perhatian, padahal tidak menaruh perhatian sedikitpun apalagi melaksanakannya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah melarang orang-orang mukmin berbuat sebagai orang-orang munafik dan orang-orang kafir apabila mendengar seruan Rasul, mereka berbuat seolah-olah mendengar seruan itu, tetapi sebenarnya hati mereka mengingkarinya. Maka kaum Muslimin pun dilarang berbuat seperti mereka, yang kelihatannya mendengarkan seruan Nabi dengan penuh perhatian, padahal mereka tidak menaruh perhatian sedikit pun apalagi melaksanakannya. Dalam ayat ini orang-orang munafik dinyatakan sebagai orang-orang yang tidak mau mendengarkan perkataan Nabi, yaitu memeluk agama Islam, hal ini memberikan petunjuk bahwa mereka tidak mau membenarkan sama sekali apa yang diserukan Nabi itu.

“ Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad), tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (sahabat-sahabat Nabi), “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah, dan mengikuti keinginannya. (Muhammad/47: 16).

Ketaatan seorang muslim ada dalam QS Al Baqarah 285, QS An Nisa 46, QS Al Anfal 20, QS An Nur 51 dan masih banyak lagi ayat, seorang muslim harus taat kepada petunjuk Allah dan Rassul. Jangan sampai seorang muslim mempunyai sikap, mau mendengarkan tapi tidak mentaati.

‎وْا  سَمِعْنَا  وَعَصَيْنَا = Sami’na wa assoyna
Kami mendengar dan kami tidak mentaati.

وَاِ ذْ  اَخَذْنَا  مِيْثَا قَكُمْ  وَرَفَعْنَا  فَوْقَکُمُ  الطُّوْرَ  ۗ خُذُوْا  مَاۤ  اٰتَيْنٰکُمْ  بِقُوَّةٍ  وَّا سْمَعُوْا  ۗ قَا لُوْا  سَمِعْنَا  وَعَصَيْنَا  وَاُ شْرِبُوْا  فِيْ  قُلُوْبِهِمُ  الْعِجْلَ  بِکُفْرِهِمْ  ۗ قُلْ  بِئْسَمَا  يَأْمُرُکُمْ  بِهٖۤ  اِيْمَا نُكُمْ  اِنْ كُنْتُمْ  مُّؤْمِنِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat Gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah! Mereka menjawab, Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati. Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 93)

سَمِعْنَا  وَاَ طَعْنَا  غُفْرَا نَكَ  رَبَّنَا  وَاِ لَيْكَ  الْمَصِيْرُ

Sami’na wa atho’na ghufronaka robana wa ilaykal mashir

“Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 285)