Idul Fitri12

3 Hikmah Puasa Ramadhan | Khutbah Idul Fitri 1443 H Yayasan Al Ma’soem Bandung

Screenshot (252)

Allahu Akbar- Allahu Akbar- Allahu Akbar, walillahil Hamd ! Hadirin Jamaah ‘Idwal‘Idoh Rohimakumulloh !

Sejak tadi malam saat sang surya ke peraduan, mengakhiri bulan Ramadhan berganti seiring tibanya tanggal satu syawal. Alunan takbir, tahmid dan tahlil menggema memenuhi alam marcapada. Membasahi lisan kita, memenuhi hati orang-orang yang beriman, seraya bersyukur atas karunia yang tak henti-hentinya Allah taburkan kepada kita semua atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

Screenshot (253)

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Allahu akbar, Allah Maha Besar…yang telah menyatukan hati kita dalam bingkai persaudaraan yang diikat keimanan, sehingga tidak mengenal suku, bahasa, warna kulit, adat, pangkat, dan golongan, kita semua saudara berasal dari satu keturunan, yakni Nabi Adam Alaihissalam. Pada Hari ini semua sejalan seirama melantunkan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmat yang tiada terhingga dan tidak terhitung jumlahnya.

Allahu Akbar…Allah Maha Besar!

Kita semua kerdil di hadapan Dzat yang Maha Besar. Apa yang mesti kita sombongkan, sedangkan semua jabatan, kedudukan, kekayaan, kehebatan, dan kepintaran semuanya pemberian Allah SWT. Tidak ada orang kaya kecuali diberi kekayaan oleh Allah, tidak ada orang hebat kalau tidak disebutkan oleh Allah, dan tidak ada orang pintar kecuali dipintarkan oleh Allah SWT.

Screenshot (254)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Dalam suasana yang suka cita ini marilah bersama-sama untuk muhasabah perjalan satu bulan kemarin. Apakah semakin dekat dengan Islam ataukah justru semakin jauh? hanya diri kita sendiri yang nanti akan membuktikan. Oleh karena itu, ada tiga pesan dan kesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama setelah bulan Ramadhan yang mulia ini.

  1. Pelajaran untuk mengendalikan hawa nafsu

Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan

  1. sifat kebinatangan (Bahimah), tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu
  2. sifat buas (Sabu’iyah) tanda-tandanya banyaknya kezaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar
  3. sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia.

Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan pada diri kita akan berdampak pada pembentukan komunitas masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial (keadaan masyarakat) yang sangat tidak diharapkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh kezaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, penguasa lupa akan tanggung jawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan, dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, keshalehan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya dan seterusnya.

Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat Rububiyah, ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan, selama Ramadhan kita merasa dekat dengan Allah. Orang yang dapat mengoptimalkan dengan baik sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur’an, perilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah).

Screenshot (254)

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia

  1. Ramadhan mengajarkan tumbuh sikap peduli kepada yang kurang beruntung

Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan indah. Indah disini justru terlihat pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawal. Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak menerimanya melalui badan atau lembaga amil zakat dengan maksud untuk mencapai keridhaan dan sebagai perwujudan keimanan kepada Allah SWT sebagaimana firman Nya:

Screenshot (255)

Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

Bukan saja pahala yang banyak, semangat zakat melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta’awun) antara orang- orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya sebab kalian semua adalah Allah hamba Allah dan umat Rasulullah SAW. Kesadaran berzakat, infaq dan shadaqah diharapkan bukan sekedar untuk memberi makan sesaat tetapi zakat dapat berperan untuk pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan melalui pendistribusian yang produktif yaitu pendayagunaan ZIS melalui Badan dan Lembaga Amil Zakat. Kedepan para agnia dapat menitipkan ZIS ke lembaga amil zakat.

  1. Ramadhan menumbuhkan semangat berjuang untuk kemaslahatan umat (jihad)

Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yaknin berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh. Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah. Mengingat adanya aliran Islam yang mengkampanyekan jihad dengan senjata di negara damai Indonesia ini, maka perlu ditegaskan kembali bahwa jihad seharusnya dilandasi niat yang baik dan dipimpin oleh kepala pemerintahan bukan oleh kelompok atau aliran tertentu.

Jangan sampai mengatasnamakan kesucian agama, akan tetapi tidak bisa memberikan garansi bagi kemaslahatan umat Islam. Islam haruslah didesain dan bergerak pada kemaslahatan masyarakat demi mencapai keridhaan Allah dan kemajuan umat. Pengalaman pahit salah mengartikan jihad menjadikan Islam dipandang sebagai agama teroris. Padahal Islam sebenarnya adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin), agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,keadilan, kedamaian Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan adalah upaya mendukung terbangunnya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera yang bersendikan pada ketaatan kepada Allah. Jihad untuk mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain

Screenshot (254)

Jamaah Sholat Idul Fitri rahimakumullah

Dalam konteks sosial masyarakat kita saat ini, dimana masih banyak sektor sosial yang perlu pembenahan lebih lanjut. Maka makna jihad harus mengacu pada pengentasan masalah-masalah sosial. Oleh sebab itu, sudah selayaknya pada momentum lebaran saat ini, bukan hanya pakaian yang baru akan tetapi gagasan-gagasan baru juga harus dikedepankan untuk mengentaskan masalah-masalah sosial yang selama ini membelenggu kemajuan umat Islam Indonesia pada khususnya dan bangsa dan negara Indonesia pada umumnya

Screenshot (254)

Jamaah shalat Idul fitri rahimakumullah,

Demikianlah tiga pesan makna dan hakikat Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturahmi serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera

Screenshot (258)

Screenshot (257)