أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًا ۚ وَقَا لَ يٰۤاَ بَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّا ۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْۤ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَآءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
“Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf 12: Ayat 100)
Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Nabi Yusuf dengan mempertemukannya kembali dengan kedua orang tuanya, mengangkat kedudukan mereka, dan menegaskan bahwa segala ketetapan Allah penuh hikmah dan kasih sayang
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Dan ketika keluarga besar Nabi Yusuf sudah menempati ruangan yang disediakan, dia menuntun dan menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana yang sudah disiapkannya. Dan mereka semua tunduk bersujud memberi penghormatan kepadanya. Dan dia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Inilah takwil dari mimpiku yang dahulu itu aku ceritakan kepada engkau. Dan sesungguhnya Tuhanku yang selalu memelihara dan melindungiku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku dengan menyempurnakan nikmat-Nya, antara lain ketika Dia membebaskan aku dari penjara setelah difitnah, ketika membawa kamu dari dusun menuju Mesir, dan setelah setan memerdaya saudara-saudaraku sehingga merusak hubungan antara aku dengan saudara-saudaraku itu. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki dengan mengaturnya secara rapi. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, lagi Mahabijaksana dalam ketetapan-Nya.”
Tadabbur QS Yusuf ayat 100:
1. Janji Allah pasti tepat waktu; Mimpi Yusuf di masa kecil terwujud persis, meski melalui jalan panjang, menegaskan bahwa janji Allah tidak pernah ingkar.
2. Kesabaran berujung kemuliaan; Penjara, fitnah, dan perpisahan bukan tanda ditinggalkan Allah, tapi proses menuju kemuliaan yang lebih besar.
3. Ilmu dan tafsir mimpi adalah karunia Allah; Yusuf mengakui semua kelebihannya berasal dari Allah, bukan hasil kehebatan pribadi.
4. Tawadhu’ saat berada di puncak; Meski berkuasa, Yusuf tidak membalas dendam, justru memuliakan orang tua dan memaafkan saudara-saudaranya.
5. Takdir Allah penuh kelembutan; Yusuf menyadari bahwa Allah Maha Lembut (اللَّطِيفُ), mengatur kejadian pahit untuk hasil yang indah.
6. Keluarga adalah nikmat besar; Pertemuan kembali dengan orang tua menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan sekadar jabatan, tetapi keutuhan keluarga.
7. Penutup kisah dengan pengakuan tauhid; Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan-Nya.
Intinya: apa yang tampak menyakitkan hari ini bisa jadi jalan menuju penggenapan janji Allah yang paling indah.
“Allahumma ya Latîf, ya ‘Alîm, ya Hakîm,
sebagaimana Engkau sempurnakan nikmat-Mu kepada Nabi Yusuf,
sempurnakanlah nikmat-Mu atas kami dengan akhir yang baik.
Satukan kembali keluarga kami dalam kebaikan,
wujudkan harapan kami pada waktu terbaik menurut-Mu,
jadikan kami hamba yang bersyukur saat lapang dan sabar saat sempit,
serta tetapkan hati kami untuk selalu mengakui bahwa semua berasal dari-Mu.
Âmiin ya rabbal alamiin.”

