Ibrah dari Kisah Nabi Yusuf AS & Ya’kub; Kalimat Insya Allah adalah Adab, Bukan Keraguan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَلَمَّا  دَخَلُوْا  عَلٰى  يُوْسُفَ  اٰوٰۤى  اِلَيْهِ  اَبَوَيْهِ  وَقَا لَ  ادْخُلُوْا  مِصْرَ  اِنْ  شَآءَ  اللّٰهُ  اٰمِنِيْنَ

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul (dan menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya seraya berkata, Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS. Yusuf 12: Ayat 99)

Nabi Yusuf dengan penuh syukur dan kerendahan hati mempersilakan orang tuanya masuk ke Mesir dengan rasa aman sebagai nikmat Allah, insya Allah

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, dijelaskan bahwa saudara-saudara Yusuf pulang ke negerinya untuk memboyong semua keluarganya ke Mesir sesuai dengan anjuran Yusuf. Setelah sampai, mereka memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang kedudukan Yusuf di Mesir, dimana dia adalah penguasa yang berkuasa penuh di sana. Disampaikan pula bahwa Yusuf mengundang semua keluarganya untuk menetap di Mesir bersama-sama dengannya, menikmati kemajuan dan keindahan kota Mesir. Mendengar berita itu, berangkatlah mereka bersama-sama ke Mesir.

Setelah sampai di Mesir mereka bertemu dengan Yusuf dan rombongan yang pergi menjemput mereka di tengah jalan. Yusuf merangkul kedua orang tuanya dan berkata, “Silakan memasuki negeri Mesir dengan selamat dan aman, insya Allah kamu sekalian tidak akan mengalami kesulitan dan kelaparan, sekalipun musim kemarau masih saja mencekam.” Ucapan “Insya Allah” yang dikatakan Yusuf ini menjadi pelajaran bagi kita kaum Muslimin bahwa apabila hendak melakukan sesuatu, supaya disandarkan kepada kehendak Allah. Hal ini telah menjadi kebiasaan bagi para nabi dan shiddiqin. Hal tersebut sesuai pula dengan maksud firman Allah swt: Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (al-Kahf/18: 23 dan 24).

Yusuf sudah berkuasa, orang tuanya sudah di depan mata, dan semua sebab duniawi lengkap. Tapi tetap berkata: “Masuklah ke Mesir, insya Allah, dalam keadaan aman.”

Padahal secara logika: pasti aman.

1. Insya Allah adalah adab, bukan ragu; Yusuf tidak ragu akan keselamatan mereka, tapi tetap menggantungkan hasil kepada Allah. Orang beriman mengucapkan insya Allah bukan karena takut gagal, tapi karena tahu siapa pemilik hasil.

2. Kekuasaan tidak membuat Yusuf merasa paling menentukan; Yusuf adalah pejabat tinggi Mesir, tapi tidak berkata “saya jamin aman”. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin ia sadar keterbatasannya di hadapan Allah.

3. Insya Allah adalah pengakuan bahwa sebab ≠ penentu

Semua sebab ada:
– kekuasaan
– keamanan
– izin negara

Tapi Yusuf tetap menyebut kehendak Allah. Sebab adalah ikhtiar, penentu tetap Allah.

4. Keamanan sejati berasal dari Allah, bukan sistem

Yusuf tidak menjanjikan keamanan dengan:
– tentara
– jabatan
– kekuatan manusia

Tapi dengan menyandarkannya kepada Allah. Aman yang tidak disandarkan kepada Allah, mudah berubah menjadi rasa takut.

5. Insya Allah mengajarkan rendah hati saat bahagia

Momen Yusuf 99 adalah puncak kebahagiaan hidup Yusuf. Justru di puncak inilah ia menyebut Allah. Iman seseorang terlihat bukan saat susah, tapi saat bahagia. Ucapan insya Allah adalah tanda tauhid hidup, bukan formalitas lisan.

QS Yusuf 99 mengajarkan bahwa keberhasilan, keamanan, dan kebahagiaan hanya sempurna jika tetap disandarkan kepada kehendak Allah melalui sikap insya Allah.

“Ya Allah, masukkanlah kami ke setiap urusan hidup dalam keadaan aman dan penuh keberkahan,
dan jadikan kami hamba yang selalu menggantungkan harapan kepada-Mu, insya Allah