Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّسَكَنْتُمْ فِيْ مَسٰكِنِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَـكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَـكُمُ الْاَ مْثَا لَ
“Dan kamu telah tinggal di tempat orang yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 45).
Kaum Muslimin hendaknya mengambil pelajaran dari kisah-kisah dan peristiwa orang-orang terdahulu
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Ayat ini mengingatkan Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman bahwa orang-orang yang zalim tersebut pernah tinggal di negeri orang-orang yang pernah menganiaya diri mereka sendiri dan berbuat kebinasaan di muka bumi, seperti yang pernah dilakukan kaum ad dan tsamud. Telah jelas azab yang ditimpakan Allah kepada mereka dan bekas-bekasnya terdapat di negeri-negeri itu berdasarkan kisah yang tersebut dalam Al-Quran.
Demikian pula Allah SWT telah memberikan perumpamaan-perumpamaan bagi kaum Muslimin tentang akibat yang akan dialami oleh orang-orang yang zalim itu di dunia dan di akhirat kelak. Seandainya kaum Muslimin melakukan tindakan dan perbuatan seperti yang telah dilakukan orang-orang yang zalim itu, pasti mereka akan ditimpa azab pula, seperti azab yang telah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim dahulu. Karena itu, hendaknya kaum Muslimin mengambil pelajaran dari kisah-kisah dan peristiwa orang-orang dahulu itu.
Allah mengingatkan bahwa manusia sudah melihat sendiri bagaimana akhir kehidupan orang-orang zalim terdahulu, bahkan telah dijelaskan berbagai perumpamaan agar manusia mau berpikir dan mengambil ibrah.
Apa yang Bisa Ditadabburi dari Ibrahim Ayat 45?
1. Sejarah adalah guru kehidupan
Allah tidak hanya memerintahkan membaca kisah umat terdahulu, tetapi mengambil pelajaran dari kehancuran mereka. Banyak kaum binasa karena kesombongan, kezaliman, dan menolak kebenaran.
2. Kehancuran orang zalim adalah peringatan nyata
Kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, dan lainnya pernah kuat, kaya, dan berkuasa. Namun semua itu tidak mampu menyelamatkan mereka dari azab Allah ketika mereka terus berbuat zalim.
3. Manusia sering mengulangi kesalahan yang sama
Walaupun sejarah sudah berulang kali menunjukkan akibat buruk kezaliman, manusia tetap mudah tertipu oleh kekuasaan, harta, dan dunia.
4. Tadabbur bukan sekadar mengetahui cerita
Tujuan kisah dalam Al-Qur’an adalah perubahan sikap:
- Semakin takut berbuat zalim,
- Semakin sadar akan kematian,
- Semakin taat kepada Allah,
- dan tidak tertipu oleh kehidupan dunia.
5. Orang beriman mengambil ibrah sebelum terlambat
Orang yang cerdas bukan hanya melihat kehancuran masa lalu, tetapi menjadikannya nasihat untuk memperbaiki diri hari ini.
“Sejarah umat terdahulu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk direnungkan agar manusia tidak mengulangi jalan kezaliman yang sama.”
“….فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ”
Faqshushil qashasha la‘allahum yatafakkarūn
“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS Al Araf 176).
Ayat ini menegaskan bahwa kisah dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita, tetapi sarana untuk tafakkur, mengambil pelajaran, dan memperbaiki diri.
Doa supaya bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَتَفَكَّرُونَ فِي آيَاتِكَ، وَيَعْتَبِرُونَ بِقِصَصِ الْأُمَمِ السَّابِقَةِ، وَيَأْخُذُونَ الْعِبْرَةَ فَيُصْلِحُونَ أَنْفُسَهُمْ
Allahumma ij‘alnā minal-ladzīna yatafakkarūna fī āyātika, wa ya‘tabirūna bi qishashil umamis-sābiqah, wa ya’khudzūnal-‘ibrata fa yushlihūna anfusahum.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang merenungkan ayat-ayat-Mu, mengambil pelajaran dari kisah umat-umat terdahulu, serta mengambil hikmah sehingga memperbaiki diri mereka.”

