Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّا رِ
اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ وَفَرِحُوْا بِا لْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰ خِرَةِ اِلَّا مَتَا عٌ
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 26)
Allah memberi kelapangan atau kesempitan rezeki sebagai ujian, karena kenikmatan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhiratlah yang sebenarnya
Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI
Allah melapangkan dan memudahkan rezeki bagi sebagian hamba yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka memperoleh rezeki yang lebih dari keperluan sehari-hari. Mereka adalah orang-orang yang rajin dan terampil dalam mencari harta, dan melakukan bermacam-macam usaha. Selain itu, mereka hemat dan cermat serta pandai mengelola dan mempergunakan harta bendanya itu.
Sebaliknya, Allah juga membatasi rezeki bagi sebagian hamba-Nya, sehingga rezeki yang mereka peroleh tidak lebih dari apa yang diperlukan sehari-hari. Mereka biasanya adalah orang-orang pemalas dan tidak terampil dalam mencari harta, atau tidak pandai mengelola dan mempergunakan harta tersebut.
Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya berdasarkan hikmah serta pengetahuan-Nya tentang masing-masing hamba itu. Kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan dan kekafiran hamba-Nya. Oleh karena itu, ada kalanya Allah menganugerahkan rezeki yang banyak kepada hamba-Nya yang kafir. Sebaliknya, kadang-kadang Allah menyempitkan rezeki bagi hamba yang beriman untuk menambah pahala yang kelak akan mereka peroleh di akhirat. Maka kekayaan dan kemiskinan adalah dua hal yang dapat terjadi pada orang-orang beriman maupun yang kafir, yang saleh ataupun yang fasik.
Ayat ini selanjutnya menceritakan bahwa kaum musyrik Mekah yang suka memungkiri janji Allah, sangat bergembira dengan banyaknya harta benda yang mereka miliki, dan kehidupan duniawi yang berlimpah-ruah, dan mereka mengira bahwa harta benda tersebut merupakan nikmat dan keberuntungan terbesar.
Oleh sebab itu, pada akhir ayat ini Allah menunjukkan kekeliruan mereka, dan menegaskan bahwa kenikmatan hidup duniawi ini hanyalah merupakan kenikmatan yang kecil, pendek waktunya, serta mudah dan cepat hilang, dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang besar nilainya dan sepanjang masa. Dengan demikian, tidaklah pada tempatnya bila mereka bangga dengan kenikmatan di dunia yang mereka rasakan itu.
Dalam hubungan ini, riwayat yang disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi dari Ibnu Masud menyebutkan sebagai berikut:
Pernah Rasulullah tidur di atas sehelai tikar kemudian beliau bangun dari tidurnya, dan kelihatan bekas tikar itu pada lambungnya, lalu kami berkata, “Ya Rasulullah seandainya kami ambilkan tempat tidur untukmu?” Rasulullah bersabda, “Apalah artinya dunia ini bagiku. Aku hidup di dunia ini hanya laksana seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian ia berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu.” (Riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Masud)
Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, dan manusia sering bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia dibanding akhirat hanyalah sedikit. Dari ayat ini ada beberapa tadabbur penting:
1. Rezeki adalah ketentuan Allah
Kelapangan atau kesempitan rezeki bukan semata-mata karena kecerdasan atau usaha manusia, tetapi di bawah kehendak Allah. Manusia wajib berikhtiar, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam takdir Allah.
2. Kaya atau miskin adalah ujian
Allah melapangkan rezeki untuk menguji syukur, dan menyempitkan rezeki untuk menguji sabar. Jadi keduanya bukan tanda kemuliaan atau kehinaan, melainkan bentuk ujian kehidupan.
3. Jangan tertipu oleh kesenangan dunia
Ayat ini mengingatkan bahwa banyak manusia terlalu bergembira dengan kenikmatan dunia, harta, jabatan, atau kenyamanan, padahal semuanya bersifat sementara.
4. Akhirat adalah tujuan yang sebenarnya
Dunia hanyalah persinggahan singkat, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Karena itu orang beriman harus menjadikan dunia sarana untuk bekal akhirat, bukan tujuan utama.
– Rezeki adalah ujian dari Allah, dunia hanya sementara, dan orang beriman harus memandang kehidupan dengan orientasi akhirat.
– Dunia seperti kebun tempat menanam dan memetik sementara, sedangkan akhirat adalah panen yang sebenarnya; karena itu kelapangan atau kesempitan rezeki harus disikapi dengan syukur dan sabar.
Doa memohon hati tetap lurus, qana’ah, dan orientasi akhirat.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا رَاضِينَ بِقِسْمَتِكَ، صَابِرِينَ عِنْدَ الضِّيقِ، شَاكِرِينَ عِنْدَ السَّعَةِ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا.
Allāhummaj‘alnā rāḍīna bi-qismatika, ṣābirīna ‘indaḍ-ḍīq, syākirīna ‘indaṣ-sa‘ah, wa lā taj‘alid-dunyā akbara hamminā, waj‘alil-ākhirata hiya dāranā wa qarāranā.
“Ya Allah, jadikanlah kami orang yang ridha terhadap pembagian-Mu, sabar saat rezeki terasa sempit, bersyukur saat Engkau melapangkannya. Jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jadikanlah akhirat sebagai tempat tinggal dan tujuan hidup kami.”