Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَآءِ بُرُوْجًا وَّزَ يَّـنّٰهَا لِلنّٰظِرِ يْنَ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandang(nya),” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 16)
Allah menjadikan bintang-bintang sebagai hiasan yang memperindah langit sehingga tampak indah bagi orang-orang yang memandangnya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan berbagai benda angkasa berupa planet yang tidak terhitung banyaknya, bulan, dan bintang yang kesemuanya menghiasi langit, sehingga menarik hati orang-orang yang memandangnya. Semua itu menjadi bahan pemikiran bagi orang-orang yang mau berpikir, terutama dalam mencari manfaatnya bagi manusia dan kemanusiaan, sebagaimana firman Allah swt dalam ayat yang lain:
Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur. (al-Furqan/25: 61-62)
Pada ayat yang lain, Allah swt menerangkan pula: Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang. (al-Mulk/67: 5)
Bintang-bintang yang diciptakan Allah itu ada yang tidak bercahaya dan ada pula yang bercahaya, berkelap-kelip di malam hari, sebagaimana firman Allah SWT : Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (Fussilat/41: 12)
Dan firman Allah SWT : Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala. (al-Mulk/67: 5)
Benda-benda angkasa itu merupakan petunjuk bagi para musafir yang berjalan di tengah-tengah padang pasir di malam hari, kapal-kapal yang berlayar di tengah lautan, serta kapal terbang dan kapal ruang angkasa yang terbang menuju tempat tujuannya. Peredaran matahari, bulan, dan bintang dapat pula dijadikan dasar untuk mengetahui bilangan hari, bilangan tahun, dan perhitungan waktu, sebagaimana firman Allah swt:
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus/10: 5)
Suasana malam di saat langit cerah tidak berawan, bintang-bintang bertaburan di angkasa raya dan cahayanya yang hilang-hilang timbul, dan cahaya bulan purnama menimbulkan ketenteraman dalam hati bagi orang-orang yang telah beriman kepada Allah. Semua itu menambah kuat imannya, sehingga tanpa disadari mulutnya mengucapkan kata-kata yang mengagung-kan Allah.
Berapa jumlah bintang di langit ? Dengan mengalikan perkiraan jumlah galaksi dan jumlah bintang per galaksi, para astronom memperkirakan ada sekitar 10²² hingga 10²⁴ bintang di alam semesta yang dapat diamati.
Angka 10²⁴ berarti kira-kira 1.000.000.000.000.000.000.000.000 (1 septiliun dalam sistem penamaan internasional).
Sebagai gambaran:
- Semua pasir di pantai dan gurun di bumi diperkirakan berjumlah sekitar 10¹⁸–10²⁰ butir.
- Jumlah bintang di alam semesta yang dapat diamati kemungkinan masih jauh lebih banyak daripada jumlah butiran pasir di Bumi.
Dalam perspektif Al-Qur’an, banyaknya bintang merupakan salah satu tanda kebesaran Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia telah menghiasi langit dengan gugusan-gugusan bintang untuk dipandang oleh manusia. Semakin berkembang ilmu astronomi, semakin tampak betapa luas dan menakjubkannya ciptaan-Nya.
Salah satu Asmaul Husna yang masyhur, maka Al-Hijr ayat 16 sangat relevan dengan nama Allah Al-Badī’. “Allah Al-Badī’ menciptakan dan menghiasi langit dengan gugusan bintang yang indah tanpa mencontoh ciptaan apa pun sebelumnya, menunjukkan kesempurnaan dan keagungan ciptaan-Nya.”
Kaitan ini cukup kuat karena kata Al-Badī’ mengandung makna menciptakan sesuatu yang menakjubkan dan belum pernah ada sebelumnya, sedangkan ayat 16 menegaskan bahwa Allah membangun gugusan-gugusan bintang di langit dan menghiasinya agar indah dipandang manusia.
Allah menyukai keindahan sesuai hadis Nabi ﷺ “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)
Kata “Indah” dalam hadis tersebut adalah Al-Jamīl (الجميل), yang oleh banyak ulama dimasukkan ke dalam nama-nama Allah yang mulia, meskipun tidak tercantum dalam daftar Asmaul Husna yang populer 99 nama.
Jadi, jika dikaitkan dengan Al-Hijr ayat 16, bisa disimpulkan: “Allah Al-Jamīl (Maha Indah) menghiasi langit dengan bintang-bintang sebagai tanda kesempurnaan ciptaan-Nya dan agar manusia menyaksikan keindahan yang Dia ciptakan.”
Atau dalam satu kalimat yang ringkas: “Karena Allah Al-Jamīl (Maha Indah) dan menyukai keindahan, Dia menghiasi langit dengan bintang-bintang yang indah untuk disaksikan oleh manusia.”
Al-Hijr ayat 16 mengingatkan kita bahwa langit yang penuh dengan gugusan bintang bukan sekadar pemandangan yang menakjubkan, tetapi juga tanda kebesaran Allah. Sebagai Al-Badī’, Allah menciptakan dan menghiasi langit dengan keindahan yang sempurna tanpa contoh sebelumnya. Keindahan langit seharusnya mendorong manusia untuk semakin mengenal, mengagungkan, dan mensyukuri Sang Pencipta, bukan sekadar mengagumi ciptaan-Nya.
Jika langit yang merupakan ciptaan Allah saja begitu indah, maka betapa sempurna dan agung Dzat yang menciptakannya
اللَّهُمَّ يَا بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، زَيِّنْ قُلُوبَنَا بِالْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَفَكِّرِينَ فِي آيَاتِكَ، وَالْمُعَظِّمِينَ لِعَظَمَتِكَ، وَالشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ.
Allahumma yā Badī‘as-samāwāti wal-arḍ, zayyin qulūbanā bil-īmān, waj‘alnā minal mutafakkirīna fī āyātik, wal-mu‘aẓẓimīna li ‘aẓamatik, wasy-syākirīna lini‘amik.
“Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya, hiasilah hati kami dengan keimanan, jadikan kami termasuk orang-orang yang mau merenungkan tanda-tanda kebesaran-Mu, mengagungkan keagungan-Mu, dan mensyukuri nikmat-nikmat-Mu.”

