Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَـقَا لُوْۤا اِنَّمَا سُكِّرَتْ اَبْصَا رُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُوْرُوْنَ
“tentulah mereka berkata, Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 15)
Musrykin Mekah menolak kebenaran. Alih-alih beriman, mereka mencari dalih dengan menganggap apa yang mereka lihat hanyalah pengaruh sihir
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah itu adalah orang-orang yang sangat ingkar dan tidak mau menerima kebenaran. Keadaan mereka seperti itu dilukiskan Allah dalam ayat ini.
Seandainya Allah membukakan pintu-pintu langit bagi mereka dan menyediakan tangga untuk naik ke langit itu, maka mereka pun akan naik.
Seandainya mereka melihat malaikat-malaikat di langit atau suatu keajaiban yang merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, mereka tidak akan mengakuinya, bahkan mereka mengatakan,
“Mata kami telah dikaburkan sehingga kami tidak melihat dengan jelas suatu tanda yang ada di hadapan kami. Apa yang terlihat oleh kami tidak lain hanyalah khayalan belaka, sebagai hasil sihir Muhammad yang telah menyihir kami, sehingga kami tidak lagi melihat hakikat kebenaran.” Ayat ini senada dengan firman Allah SWT:
“Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu (Muhammad) tulisan di atas kertas, sehingga mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang-orang kafir itu akan berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (al-An’am/6: 7).
Al Hijr ayat 15 tidak secara langsung menyebut “terkena sihir Nabi Muhammad SAW”, melainkan mereka berkata bahwa diri mereka telah disihir atau penglihatan mereka telah dikaburkan. Namun dalam konteks penolakan terhadap dakwah Rasulullah SAW mereka memang sering menuduh beliau sebagai penyihir atau menganggap ajaran yang dibawanya sebagai sihir.
Kaum musyrik Mekah tidak kekurangan bukti, tetapi mereka enggan menerima kebenaran. Karena itu, mereka mencari berbagai alasan, bahkan menganggap apa yang mereka lihat sebagai pengaruh sihir.
Jika disesuaikan dengan kondisi saat ini, pesan QS. Al-Hijr ayat 15;
“Sebagian orang bukan tidak mengetahui kebenaran, tetapi enggan menerimanya karena bertentangan dengan hawa nafsu, kepentingan, atau kesombongannya. Akibatnya, mereka mencari berbagai alasan untuk menolak nasihat dan petunjuk yang sebenarnya sudah jelas.
Ketika hati enggan menerima kebenaran, bahkan mukjizat pun dapat dianggap sebagai sihir. Bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena tertutupnya hati dari petunjuk Allah.”
“Ya Allah, bukakanlah hati kami untuk menerima kebenaran, jauhkan kami dari kesombongan yang menghalangi hidayah, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang tunduk kepada petunjuk-Mu. Aamiin.”

