Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَحَفِظْنٰهَا مِنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍ
اِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَاَ تْبَعَهٗ شِهَا بٌ مُّبِيْنٌ
“dan Kami menjaganya dari setiap (gangguan) setan yang terkutuk,”
“kecuali (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat), lalu dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 17 dan 18)
Tidak hanya menciptakan dengan indah, Allah juga menjaga ciptaan-Nya dengan sempurna
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menjaga langit dan isinya dari setan yang terkutuk. Pada ayat yang lain Allah swt berfirman: Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap setan yang durhaka. (as-shaffat/37: 7)
Sementara itu ada setan yang tidak mengindahkan larangan-larangan Allah. Ia mencari berita yang mungkin didengarnya dari para malaikat, maka setan-setan yang demikian itu diburu oleh semburan api yang membakar, sehingga ia lari dan tidak sempat mendengar pembicaraan para malaikat itu.
Hal ini dijelaskan oleh firman Allah SWT : Mereka (setan-setan itu) tidak dapat mendengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. (as-shaffat/37: 8)
Dan firman Allah SWT : Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (al-Jinn/72: 8-9)
Seperti yang tersebut di atas bahwa ada beberapa ayat yang menerangkan berbagai usaha setan untuk mendengarkan pembicaraan para malaikat di langit, tetapi sebelum sempat ia mendengarkannya, ia dikejar dan dibakar oleh semburan api yang panas. Hal ini termasuk perkara yang gaib karena sukar diketahui dan tidak dapat dilihat oleh mata manusia dan tidak dapat pula diketahui hakikatnya, serta bukti-bukti yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan maksud ayat yang sebenarnya.
Karena yang menerangkan hal ini adalah Al-Qur’an dan pikiran manusia belum sampai kepadanya, maka bagi kaum Muslimin wajib mengimaninya, dan percaya bahwa langit dan bumi serta alam semesta ini adalah milik Allah Yang Maha Pencipta.
Allah SWT menjaga dan mengatur semua milik-Nya itu. Bagaimana cara Dia mengatur dan menjaga, sangat sedikit pengetahuan manusia tentang hal itu. Demikian pula bagaimana setan mengintip pembicaraan para malaikat dan bagaimana bentuk semburan api itu memburu setan. Hanya Allahlah Yang Mengetahui.
Menurut penjelasan para ulama tafsir, bukan bintang-bintang yang diganggu oleh setan, melainkan langit yang dijaga dari upaya setan mencuri berita dari alam malaikat.
Dalam Surah Al-Hijr ayat 17, Allah berfirman: “Dan Kami menjaganya (langit) dari setiap setan yang terkutuk.” Artinya, yang menjadi sasaran penjagaan adalah langit, bukan bintang-bintang itu sendiri.
Setan berusaha mendekati tempat para malaikat untuk mencuri informasi yang Allah sampaikan kepada mereka. Ketika mereka mencoba melakukan itu, mereka diusir dengan syihab (semburan api yang menyala), sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya.
Adapun bintang-bintang memiliki fungsi yang disebutkan dalam Al-Qur’an, antara lain:
- Sebagai hiasan langit (Al-Hijr: 16).
- Sebagai petunjuk arah bagi manusia (An-Nahl: 16).
- Sebagai bagian dari penjagaan langit dengan adanya syihab yang Allah jadikan untuk mengusir setan (Al-Mulk: 5).
Syihab (شِهَاب) secara bahasa berarti nyala api yang terang, suluh yang menyala, atau semburan api yang melesat cepat. Dalam Al-Qur’an, syihab disebut sebagai sesuatu yang Allah gunakan untuk mengejar atau mengusir setan yang mencoba mencuri berita dari langit. Misalnya dalam Surah Al-Hijr ayat 18: “Kecuali (setan) yang mencuri-curi berita, maka dia dikejar oleh syihab yang terang menyala.”
Dan dalam Surah Al-Mulk ayat 5: “Kami menjadikannya alat-alat pelempar setan.”
Apakah syihab itu bintang?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa syihab bukanlah bintang itu sendiri. Bintang-bintang tetap berada pada tempatnya sebagai hiasan langit. Adapun syihab adalah sesuatu yang melesat dari langit untuk mengejar setan.
Sebagian ulama masa kini mengaitkan syihab yang terlihat manusia dengan meteor atau bintang jatuh, yaitu cahaya terang yang tampak ketika benda langit memasuki atmosfer bumi. Namun, perlu dibedakan antara:
- Hakikat gaib yang disebut Al-Qur’an (pengusiran setan).
- Fenomena yang terlihat manusia di langit (meteor yang tampak bercahaya).
Bagaimana tepatnya hubungan keduanya, Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci. Karena itu, para ulama berhati-hati dan tidak memastikan bahwa setiap meteor yang kita lihat pasti merupakan syihab yang digunakan untuk mengusir setan.
Dalam konteks Al-Hijr ayat 17–18, yang ingin ditekankan bukanlah rincian astronominya, melainkan bahwa: Allah menjaga langit dari penyusupan setan dan tidak membiarkan mereka mengakses perkara-perkara yang Allah tutup dari mereka.
Jadi inti makna syihab dalam ayat tersebut adalah: Sarana yang Allah gunakan untuk mengejar dan mengusir setan yang mencoba mencuri berita dari langit.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga langit dari gangguan setan yang terkutuk dan menghalangi mereka dari mencuri berita langit. Jika langit saja dijaga oleh Allah dengan penjagaan yang sempurna, maka manusia lebih membutuhkan perlindungan-Nya dari godaan setan yang selalu berusaha menyesatkan.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَنَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
Allahumma innā na‘ūdzu bika min hamazātisy-syayāṭīn, wa na‘ūdzu bika rabbi an yaḥḍurūn.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari bisikan dan gangguan setan-setan, dan kami berlindung kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar mereka tidak mendekati kami.”
Atau jika ingin lebih singkat dan langsung terkait perlindungan dari setan, cukup membaca ta’awudz:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
A‘ūdzu billāhi minasy-syayṭānir-rajīm.
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

