Proses belajar bukan hanya diharuskan untuk siswa saja melainkan oleh semua kalangan muda hingga lansia guru pun harus selalu mengalami proses belajar sepanjang hayatnya. Alasannya adalah karena hidup itu berdinamika begitupun dengan atribut-atribut kehidupan yang menyertainya seperti ekonomi, teknologi, politik, lingkungan sosial, dan sebagainya.
Jika kita kembali memaknai hakikat belajar yaitu proses menambah informasi dan keterampilan maka seharusnya belajar bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dalam hal apa pun bukan hanya tentang mata pelajaran di kelas saja.
Konsep belajar sepanjang hayat ini sangat relate dengan ajaran islam yang menyebutkan bahwa Menuntut ilmu itu dilakukan mulai dari buaian hingga liang lahat. Bahkan konsep belajar sepanjang hayat ini pertama kali diujarkan oleh seorang Ketua Komisi Pengembangan Pendidikan International ( ICDE, organisasi dibawah naungan UNESCO) bernama Edgar Faure, menurutnya belajar sepanjang hayat terinspirasi oleh ajaran islam tersebut.
Sebenarnya, konsep belajar sepanjang hayat ini sudah banyak dicetuskan berpuluh-puluh tahun lamanya sebelum UNESCO mengenalkan pertama kalinya. Akan tetapi, pada saat ini konsepnya masih belum jelas sehingga belum banyak yang memahaminya. Lalu, hadirlah sebuah tulisan berjudul “Learning To Be: The World of Education Today and Tomorrow” yang ditulis oleh Edgare Faure dkk. Isi laporan tersebut menjadi rekomendasi pertama untuk perencana-perencana pendidikan mengadaptasi konsep belajar sepanjang hayat dalam inovasi pendidikan masa depan.
Belajar sepanjang hayat ini diharapkan akan menghadirkan masyarakat yang berpengetahuan sebagai dasar penting dalam mencapai kemajuan sosial dan ekonomi sehingga tercipta regenerasi ekonomi dan kesejahteraan individu. Masyarakat berpengetahuan ini muncul ketika lahirnya kesadaran tentang peran penting ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi.
Dalam konsep ini, modal penting kemajuan suatu negara bukan hanya didasarkan pada sumber daya alam saja melaikan juga sumber daya manusia yang berbasis ilmu pengetahuan. Masyarakat berpengetahuan ini akan meluas menuju negara makmur yang dihasilkan melalui aktivitas intelektual warganya melalui proses pendidikan dan belajar sepanjang hayat.
Lalu, apa saja ciri-ciri dari masyarakat berpengetahuan? Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
- Memiliki kemampuan akademik
- Berpikir kritis
- Berorientasi kepada pemecahan masalah
- Mempunyai kemampuan untuk belajar hal-hal baru
- Mempunyai kepercayaan diri, motivasi, komitmen terhadap nilai-nilai moral dan etika.

