Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌ ۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۗ اَفَاۡئِنْ مَّا تَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰۤى اَعْقَا بِكُمْ ۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْــئًا ۗ وَسَيَجْزِ ى اللّٰهُ الشّٰكِرِ يْنَ
“Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 144)
Orang-orang yang murtad dari jalan Allah adalah orang yang dibenci dan tentunya sangat diharamkan oleh Allah seorang Muslim kembali pada jalan yang salah. Bisa diibaratkan seseorang yang murtad adalah mereka yang sudah mendapatkan cahaya kebenaran, berada di jalan Allah, berada dalam petujuk Allah namun mereka mengingkari dan kembali tidak beriman. Tentu saja hilang kenikmatan, kesyukuran, dan kebaikan tersebut.
Orang-orang yang murtad tentu saja akan mendapatkan resiko dan balasan dari Allah. Allah memang tidak memaksa seseorang untuk beriman pada-Nya dan Islam, tetapi segala resiko dan balasan dari Allah tentu bisa dipahami sendiri oleh Manusia karena tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan dan kebenaran selain yang datang dari Allah SWT.
1. Orang yang Murtad Kekal di dalam Neraka
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah : 217)
Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa orang yang murtad adalah orang yang akan kekal di neraka. Mereka akan sia-sia amalannya dan kebaikannya karena semua itu bukan ditunjukkan pada jalan Allah SWT. Orang-orang seperti itu tentu perlu dipertanyakan apa motif mereka melaksanakan kebaikan dan juga amalan? Tentu saja balasan Allah adalah kekal di neraka, dan tentu kita tidak ingin menjadi bagian dari penghuni neraka.
Sebagaimana hadist Rasul, seringan-ringannya siksaan neraka adalah ketika kaki kita menginjak bara api, dan dengan bara api itu, kepala kita hancur.
2. Mendatangkan Muhdarat dari Allah
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)
Dari ayat di atas, ditunjukkan bahwa orang-orang yang murtad kelak Allah akan mendatangkannya mudharat dan mereka tidak akan bersyukur. Tentu hal ini adalah hal yang paling menakutkan, dimana tidak mungkin seseorang bisa hidup tanpa nikmat dan bantuan dari Allah SWT. Yang ada, kita hanya bisa menunggu dan berserah diri. Sedangkan saat murtad, Allah melaknat kita dan tidak akan membiarkan kita hidup bahagia di Akhirat.
Untuk itu, sejatinya aturan dan perintah Allah bukanlah untuk menyiksa hidup manusia, melainkan memberikan kebaikan dan menyelematkan manusia dari kesesatan di dunia. Akan tetapi manusia sering kali mengingkari hal tersebut dan tidak memahami bahwa Allah hendak melindungi dan menjaga manusia dengan aturan yang telah dibuat-Nya.
3. Digantikan oleh Allah dengan Kaum yang Lainnya
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS Al Maidah : 54)
Doa keteguhan hati dalam beriman
“Ya muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinik”
“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.’