Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah SWT berfirman;
وَ مِنْهُمْ مَّنْ يُّؤْمِنُ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهٖ ۗ وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِا لْمُفْسِدِيْنَ
“Dan diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus 10: Ayat 40)
Sebagian orang beriman kepada Al-Qur’an dan sebagian tidak, dan Allah lebih mengetahui siapa yang berbuat kerusakan
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa secara umum orang-orang musyrik menolak kebenaran Al-Qur’an bahkan menuduh Nabi Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an, lalu pada ayat ini dijelaskan bahwa ternyata di antara mereka orang-orang musyrik itu ada orang-orang yang beriman kepadanya, yakni mengakui kebenaran Al-Qur’an hanya dalam hatinya, tetapi lahiriyahnya tetap menolak, dan di antaranya ada pula orang-orang yang tidak beriman kepadanya, tidak mengakui kebenaran Al-Qur’an baik secara lahir baupun batin. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan, yakni mengikuti kebatilan dan menolak kebenaran yang bersumber dari Tuhan Pemelihara alam. Allah akan memberi balasan atas apa yang mereka kerjakan.
Tadabbur dari Surah Yunus ayat 40 ;
1. Realitas Perbedaan Respon Terhadap Kebenaran
Allah menyatakan bahwa ada yang beriman dan ada yang tidak, meskipun kebenaran sudah jelas. Ini mengajarkan bahwa petunjuk adalah hak Allah, dan manusia punya kebebasan memilih, tapi tanggung jawabnya juga besar.
2. Sikap Bijak Terhadap Perbedaan
Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan keimanan adalah sesuatu yang sudah terjadi sejak dahulu, dan orang beriman harus bersikap tenang dan bijaksana, bukan memaksakan, tapi tetap menyampaikan kebenaran.
لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لطَّا غُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَا مَ لَهَا ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2: 256)
3. Allah Maha Mengetahui Siapa yang Merusak
Penutup ayat ini menyatakan: “Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang membuat kerusakan.” Ini peringatan bahwa kerusakan bukan sekadar fisik, tapi juga bisa berupa penolakan terhadap kebenaran, dan Allah yang paling tahu niat dan akibatnya.
4. Kita Tidak Bisa Menilai Hanya dari Luar
Kadang manusia tergesa-gesa dalam menghakimi, padahal Allah yang mengetahui isi hati dan akhir kehidupan seseorang. Ini mengajarkan untuk tidak sombong dalam iman, dan tetap rendah hati dalam dakwah.
Iman dan kekufuran adalah pilihan manusia, namun Allah-lah yang Maha Mengetahui hakikat mereka dan siapa yang benar-benar berbuat kerusakan.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang beriman kepada kitab-Mu dan Rasul-Mu. Tetapkanlah hatiku dalam iman, dan lindungilah aku dari termasuk dalam golongan yang membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati.