Tabiat Manusia; Jika dalam Kesulitan maka Ingat kepada Allah SWT

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قُلْ  مَنْ  يُّنَجِّيْكُمْ  مِّنْ  ظُلُمٰتِ  الْبَرِّ  وَا لْبَحْرِ  تَدْعُوْنَهٗ  تَضَرُّعًا  وَّخُفْيَةً  ۚ لَئِنْ  اَنْجٰٮنَا  مِنْ  هٰذِهٖ  لَـنَكُوْنَنَّ  مِنَ  الشّٰكِرِ يْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut? (Dengan mengatakan), Sekiranya Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 63)

Tabiat manusia adalah bahwa jika mereka dalam keadaan kesulitan dan dalam marabahaya, mereka ingat kepada Allah

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang musyrik bahwa siapakah yang dapat menyelamatkan dan melepaskan mereka dari kegelapan daratan bila mereka tersesat, siapa yang sanggup melepaskan mereka dari kesengsaraan dan penderitaan hidup, siapa yang sanggup melepaskan mereka dari kegelapan lautan bila mereka berlayar di tengahnya, lalu datanglah angin topan disertai ombak yang besar, sehingga mereka tidak mengetahui arah dan tujuan lagi? Yang dapat menyelamatkan manusia dari segala kegelapan dan kesengsaraan itu hanyalah Allah, tidak ada yang lain.

Tabiat manusia adalah bahwa jika mereka dalam keadaan kesulitan dan dalam mara bahaya, mereka ingat kepada Allah, mereka menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada-Nya disertai dengan doa dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bahkan dalam keadaan demikian mereka berjanji akan tetap berserah diri kepada Allah dan mensyukuri nikmat-Nya jika kesulitan dan mara bahaya itu dihindarkan dari mereka. Tetapi setelah kesulitan dan mara bahaya itu terhindar, mereka lupa akan janji yang telah mereka ikrarkan bahkan mereka menjadi orang-orang yang zalim dan mempersekutukan Allah.

Keadaan mereka itu dilukiskan dalam firman Allah swt:

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, malah mereka berbuat kezaliman di bumi tanpa (alasan) yang benar¦ (Yunus/10: 22-23).

Seharusnya ingat kepada Allah baik dalam keadaan lapang, maupun sempit, dalam keadaan senang maupun sedih, dalam keadaan mara bahaya maupun aman…

يٰۤـاَيُّهَا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوا  اذْكُرُوْا  اللّٰهَ  ذِكْرًا  كَثِيْرًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)

اَلَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  وَتَطْمَئِنُّ  قُلُوْبُهُمْ  بِذِكْرِ  اللّٰهِ  ۗ اَ لَا  بِذِكْرِ  اللّٰهِ  تَطْمَئِنُّ  الْقُلُوْبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ  اَذْكُرْكُمْ  وَا شْکُرُوْا  لِيْ  وَلَا  تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah 2: 152)

Semoga kita selalu banyak mengingat Allah baik dalam keadaan lapang, maupun sempit, dalam keadaan senang maupun sedih, dalam keadaan mara bahaya maupun aman