أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَا كَا نَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ
“Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak menggunakan akalnya (QS. Yunus 10: Ayat 100)
Ada sebagian yang tidak mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat-Nya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak Allah. Tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar kehendak-Nya. Allah menunjuki dan memudahkan seseorang beriman, bila orang itu mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat yang telah disampaikan kepada para rasul-Nya dan Dia memandang hina dan mengazab setiap orang yang tidak mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat-Nya karena hal itu berarti mereka menampik ajakan rasul untuk mengikuti jalan yang lurus yang telah dibentangkannya.
Siapa yang dimaksud “orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”?
Ayat ini menyebut “الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ” – yaitu orang-orang yang tidak menggunakan akalnya. Dalam konteks Al-Qur’an, “akal” bukan hanya soal kecerdasan logis, tapi:
- Kemampuan memahami kebenaran wahyu
- Kesediaan untuk merenung dan mengambil pelajaran
- Kemauan untuk menerima kebenaran walau bertentangan dengan hawa nafsu
Maka, yang disebut “tidak menggunakan akalnya” (لَا يَعْقِلُونَ) adalah:
- Orang yang menolak petunjuk Allah dengan sengaja; Bukan karena tak tahu, tapi karena tak mau menerima.
- Orang yang membiarkan hawa nafsu menutupi akal sehatnya; Padahal tanda-tanda kekuasaan Allah sudah jelas.
- Orang yang tidak mau merenungkan ayat-ayat Allah; Tidak belajar, tidak mau mencari kebenaran, atau mengabaikan peringatan.
Apa itu “rijs” yang Allah timpakan?
Dalam konteks ayat ini, rijs berarti azab, kehinaan, atau kekotoran batin. Bisa berupa:
- Kesesatan yang terus-menerus
- Pikiran yang gelap
- Hati yang tertutup
- Bahkan azab dunia dan akhirat
Ini bentuk balasan karena mereka menolak menggunakan akalnya untuk mendekat kepada kebenaran.
Hikmah dari ayat ini:
- Iman itu karunia dari Allah, tapi manusia punya tanggung jawab menggunakan akal untuk mencarinya.
- Orang yang menolak berpikir, merenung, dan mencari kebenaran akan tersesat—bukan karena bodoh, tapi karena sikap menutup diri.
- Allah tidak menzalimi siapa pun—mereka sendirilah yang memilih untuk tidak menggunakan akalnya, hingga akhirnya layak mendapat “rijs”.
Doa agar tidak termasuk “orang yang tidak menggunakan akalnya”:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَنَوِّرْ قُلُوبَنَا وَعُقُولَنَا بِنُورِ هِدَايَتِكَ
“Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Terangilah hati dan akal kami dengan cahaya hidayah-Mu.”