Sejarah Selalu Berulang, Umat yang Menolak Kebenaran Pasti Binasa, dan Digantikan Umat yang Taat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَاِ نْ  تَوَلَّوْا  فَقَدْ  اَبْلَغْتُكُمْ  مَّاۤ  اُرْسِلْتُ  بِهٖۤ  اِلَيْكُمْ  ۗ وَيَسْتَخْلِفُ  رَبِّيْ  قَوْمًا  غَيْرَكُمْ  ۚ وَلَا  تَضُرُّوْنَهٗ  شَيْــئًا  ۗ اِنَّ  رَبِّيْ  عَلٰى  كُلِّ  شَيْءٍ  حَفِيْظٌ
“Maka jika kamu berpaling, maka sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu apa yang menjadi tugasku sebagai rasul kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tidak dapat mendatangkan mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Hud 11: Ayat 57)
Sejarah selalu berulang, umat yang menolak kebenaran pasti binasa, dan akan digantikan oleh umat yang taat
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah swt menerangkan rangkaian penutup dari perkataan Hud a.s. kepada kaumnya dengan memperingatkan bahwa jika mereka berpaling dari apa yang telah disampaikannya itu, dan tetap mendustakannya sebagai rasul Allah, maka ia tidak dapat lagi berbuat lebih dari itu, karena ia telah melaksanakan dakwah yang diamanatkan Allah kepadanya. Amanat itu telah dilaksanakan dengan ikhlas, dan tugasnya hanya sekadar menyampaikan. Oleh karena itu, jika mereka masih tetap menantang dan membangkang, maka azab Allah akan ditimpakan kepada mereka dan mereka diganti Allah dengan kaum yang lain.
Selanjutnya Hud a.s. menegaskan bahwa mereka sedikitpun tidak akan dapat membuat mudarat terhadap Allah, disebabkan berpaling dari keimanan atau dengan sebab-sebab lainnya. Sesungguhnya Allah Maha Pemelihara segala sesuatu dengan cermat, sesuai dengan sunnah-Nya yang ditentukan oleh iradah-Nya, antara lain menolong rasul-rasul-Nya dan menimpa azab kepada musuh-musuh mereka.
Penegasan Hud a.s. kepada kaumnya bahwa mereka tidak akan dapat membuat mudarat kepada Allah, disebabkan berpalingnya mereka dari beriman dan tetap dalam kekafiran, bukanlah sekadar peringatan untuk menakut-nakuti mereka, tetapi memang demikianlah hakikat dan kenyataannya, dan ini sesuai dengan firman Allah:
“Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridai kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu. (az-Zumar/39: 7)
Dan firman Allah:
Maka sembahlah selain Dia sesukamu! (wahai orang-orang musyrik). Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” (az-Zumar/39: 15).
Sebelum Nabi Muhammad  SAW, Allah menurunkan azab istishal (azab pemusnahan total) kepada kaum yang mendustakan para rasul, seperti kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Luth, dan lain-lain. Namun setelah diutusnya Nabi Muhammad  SAW azab semacam itu tidak berlaku lagi.
Alasannya:
1.Rasulullah  SAW diutus sebagai rahmatan lil-‘alamin
Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya: 107:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Jadi misi utama beliau bukan membawa kebinasaan, melainkan membawa rahmat dan petunjuk.
2.Umat Nabi Muhammad diberi kesempatan taubat hingga akhir hayat
Azab pemusnahan diganti dengan ujian, peperangan, perpecahan, dan musibah agar manusia punya kesempatan untuk kembali ke jalan Allah.
3.Azab total ditangguhkan sampai Hari Kiamat
Allah menegaskan dalam QS. Al-Anfal: 33:
“Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di antara mereka; dan Allah tidak akan mengazab mereka sedang mereka memohon ampun.”
Ini menunjukkan keberadaan Nabi Muhammad SAW dan syariat beliau menjadi penunda turunnya azab semacam itu.
Setelah  Nabi Muhammad  SAW, umat yang menolak kebenaran tidak lagi dibinasakan secara total di dunia, tetapi mereka tetap akan mendapat balasan di akhirat, sementara di dunia bentuknya berupa ujian, kehinaan, kekalahan, atau perpecahan — bukan azab pemusnahan massal.
Hal yang bisa ditadaburi dari Hud 57;
1.Tugas Rasul hanya menyampaikan kebenaran – urusan hidayah dan penerimaan adalah hak Allah; manusia tidak boleh memaksakan.
2.Sejarah akan berulang – kaum yang menolak kebenaran akan hilang, dan Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang lebih taat.
3.Manusia tidak bisa merugikan Allah – penolakan, kesombongan, atau pembangkangan tidak sedikit pun mengurangi kemuliaan dan kekuasaan Allah.
Semoga kuta tidak termasuk kaum yang berpaling, melainkan tetap teguh dalam iman, diberi istiqamah, dan dijaga oleh Allah.
Doa Memohon Istiqamah dan Perlindungan dari Kebinasaan
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ يَسْتَجِيبُونَ لِرَسُولِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُعْرِضِينَ الْمُسْتَكْبِرِينَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاحْفَظْنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْخُسْرَانِ وَالزَّوَالِ، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَلِيُّ الْحَفِيظُ.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang mau memenuhi seruan Rasul-Mu, jangan jadikan kami dari orang-orang yang berpaling dan sombong. Teguhkan hati kami di atas agama-Mu, lindungilah kami dengan rahmat-Mu dari kerugian dan kebinasaan, sesungguhnya Engkaulah Pelindung lagi Maha Memelihara.”