Segala yang Ada di Langit dan di Bumi Adalah Milik Allah, dan Hanya kepada-Nya Segala Urusan Dikembalikan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اَ لَاۤ  اِنَّ  لِلّٰهِ  مَا  فِى  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضِ  ۗ اَ لَاۤ  اِنَّ  وَعْدَ  اللّٰهِ  حَقٌّ  وَّلٰـكِنَّ  اَكْثَرَهُمْ  لَا  يَعْلَمُوْنَ
“Ketahuilah sesungguhnya milik Allahlah apa yang ada di langit dan di Bumi. Bukankah janji Allah itu benar? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Yunus 10: Ayat 55)
Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nya segala urusan dikembalikan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam menerapkan hukum-hukum-Nya yang tak dapat dihalang-halangi oleh siapapun, dan tidak dapat ditebus dengan segala macam tebusan, karena langit, bumi dan segala isinya adalah milik Allah. Allah meminta perhatian kepada seluruh manusia, agar tidak melalaikan ketentuan-Nya. Yang dimaksud dengan segala sesuatu yang ada di antara langit dan bumi dalam ayat ini, ialah semua benda alam termasuk makhluk yang berakal.
Hal ini dimaksudkan agar manusia suka merenungkan bahwa langit, bumi dan seluruh isinya berada dalam pengawasan-Nya, dan Allah menetapkan hukum-hukum-Nya menurut kehendak-Nya. Dia dapat memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya menurut kehendak-Nya, dan memberikan siksaan kepada makhluk-Nya menurut kehendak-Nya pula. Selain itu Allah juga menegaskan bahwa janji apa saja yang telah ditetapkan Allah kepada hamba-Nya melalui rasul-Nya, adalah janji yang benar pasti dan akan datang karena Allah berkuasa atas sesuatu, tentu berkuasa pula memenuhi janji-Nya. Tak ada seorangpun yang dapat mempengaruhi-Nya.
Kemudian Allah mencela sebagian besar orang-orang musyrik karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan hari kebangkitan, padahal mereka telah membaca kebenaran ayat-ayat Allah, dan telah mendengar bimbingan-bimbingan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Hal itu menunjukkan bahwa penilaian mereka tidak murni lagi, akan tetapi dipengaruhi oleh sikap permusuhan kepada Nabi saw, dan kefanatikan mereka terhadap agama nenek moyang mereka.
Tadabbur (perenungan makna) dari ayat ini:
1.Kepemilikan Mutlak Allah
•Segala sesuatu di alam semesta ini—baik yang terlihat maupun tidak—adalah milik Allah. Kita sebagai manusia hanyalah makhluk yang diberi amanah sementara, bukan pemilik sejati. Ini menumbuhkan rasa tawadhu’ (rendah hati) dan menghindarkan kita dari sifat sombong terhadap harta, jabatan, atau kekuasaan.
2.Keyakinan pada Janji Allah
•Allah menegaskan bahwa janji-Nya itu benar—baik tentang balasan kebaikan maupun keburukan, kehidupan akhirat, dan pertolongan kepada hamba-Nya yang taat. Tadabbur ini mengajarkan kita untuk tetap berprasangka baik kepada Allah dan bersabar atas ujian hidup.
3.Banyak yang Lalai atau Tidak Mengetahui
•Ayat ini juga mengingatkan bahwa kebanyakan manusia tidak menyadari kebenaran ini, karena terlalu sibuk dengan dunia, mengikuti hawa nafsu, atau lalai dari akhirat. Ini menjadi peringatan agar kita selalu menjaga kesadaran spiritual dan memperbanyak ilmu yang mendekatkan kepada Allah.
4.Dorongan untuk Beriman dan Bertindak Benar
•Ayat ini menyiratkan pentingnya beriman secara sadar dan bertanggung jawab, serta tidak tergoda oleh kefanaan dunia. Dengan begitu, kita bisa lebih fokus menjalani hidup sebagai bekal menuju akhirat.
Ayat ini mengingatkan bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, janji-Nya pasti benar, dan manusia harus menyadari hakikat hidupnya agar tidak tertipu oleh dunia.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang menyadari bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah milik-Mu, teguhkanlah hatiku dalam keimanan kepada janji-Mu yang benar, dan jangan Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang lalai.”