Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ نْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَا جْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 61)
Perdamaian lebih didambakan oleh Islam
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Bila musuh-musuh Islam itu, baik orang Yahudi maupun orang-orang musyrikin condong kepada perdamaian, mungkin karena mereka benar-benar ingin damai atau karena melihat kekuatan dan kekompakan kaum Muslimin atau karena belum mengkonsolidasikan diri untuk berperang atau karena sebab-sebab lain, maka hendaklah dijajaki kemungkinan damai. Sesudah ternyata bahwa berdamai tidak akan merugikan siasat perjuangan Islam, hendaklah diterima perdamaian itu, tentu saja dengan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang dapat menjamin kepentingan bersama dan tidak merugikan masing-masing pihak, karena dasar perjuangan Islam adalah perdamaian.
Hal ini telah dipraktikkan Rasulullah pada waktu beliau menerima perdamaian Hudaibiyah antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin pada tahun keenam Hijri. Meskipun syarat-syarat perdamaian Hudaibiyah itu jika dilihat sepintas merugikan kaum Muslimin, sehingga banyak para sahabat yang merasa keberatan, tetapi Rasulullah, yang mempunyai pandangan jauh dan taktik serta siasat yang bijaksana, dapat menerimanya. Ternyata kemudian sebagaimana diutarakan para ahli sejarah bahwa
Perdamaian Hudaibiyah itu adalah merupakan landasan bagi kemenangan kaum Muslimin selanjutnya.
Setelah perjanjian damai diterima, hendaklah Nabi bersama kaum Muslimin bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui hakikat yang sebenarnya dari perdamaian, apakah orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin benar-benar jujur dan menginginkan terlaksananya perdamaian, atau hanya karena taktik dan siasat, atau karena hendak menipu atau menunggu lengahnya kaum Muslimin saja
Islam sangat menekankan perdamaian dan menjadikan cinta damai sebagai prinsip yang penting.
1. Quran Surah Al-Anbiya ayat 107:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
(Al-Anbiya, 21:107)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai pembawa rahmat, bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga untuk seluruh alam semesta, termasuk manusia, hewan, dan lingkungan.
Jadi, “rahmatan lil alamin” adalah ajaran Al-Qur’an yang menggambarkan misi Nabi Muhammad ﷺ dan agama Islam sebagai sumber kasih sayang, kebaikan, dan kesejahteraan bagi seluruh ciptaan Allah.
2. Quran Surah Al-Baqarah (2:208).
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Ayat ini mendorong umat Islam untuk menjalani kehidupan damai dan harmoni dalam Islam, menolak segala bentuk pertentangan dan kekerasan.
3. Quran Surah Al-Hujurat (49:9-10).
“Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap yang lain, maka perangilah yang zalim itu sehingga ia kembali kepada perintah Allah. Jika ia telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Ayat ini menekankan pentingnya mendamaikan pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai keadilan dan perdamaian.
4. Quran Surah An-Nisa (4:90).
“Jika mereka menjauh dari kamu dan tidak memerangi kamu serta menawarkan perdamaian, maka Allah tidak memberi jalan bagi kamu (untuk memerangi) mereka.”
Ayat ini menunjukkan bahwa jika ada pihak yang mengajukan perdamaian, maka umat Islam harus menerimanya dan tidak berperang.
5. Hadist Riwayat Muslim.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”
Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan dalam Islam bukan dalam bentuk kekerasan, tetapi dalam kemampuan untuk menahan diri dan memilih jalan damai.
6. Hadis Riwayat Bukhari.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menginginkan kelapangan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.”
Silaturahmi atau hubungan baik antar sesama manusia adalah kunci dalam menciptakan perdamaian dan harmoni dalam masyarakat.
Islam jelas menganjurkan perdamaian, penyelesaian konflik secara adil, dan penolakan terhadap kekerasan kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa. Islam sangat menghargai perdamaian sebagai jalan hidup.wq
“Ya Allah, jadikanlah Islam dan umat Muslim sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadikanlah kami di antara mereka yang menyebarkan perdamaian dan kebaikan di antara manusia, yang berusaha mewujudkan keadilan dan kasih sayang di bumi. Karuniakanlah kepada kami taufik dalam segala amal dan perkataan kami untuk melayani kemanusiaan sesuai dengan ridha-Mu.”