Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
لَوْ كَا نَ عَرَضًا قَرِ يْبًا وَّسَفَرًا قَا صِدًا لَّا تَّبَعُوْكَ وَلٰـكِنْۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۗ وَسَيَحْلِفُوْنَ بِا للّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَـرَجْنَا مَعَكُمْ ۚ يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۚ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَـكٰذِبُوْنَ
“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu. Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 42)
Perang Tabuk lokasinya sangat jauh, ada yang merasa berat untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW untuk berperang
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menjelaskan latar belakang tidak ikutnya orang-orang munafik ke medan perang sekalipun sudah diumumkan perintah wajib perang. Di antara alasan dari keengganan mereka, karena pergi berperang akan menempuh jarak yang jauh, pada musim panas, dalam keadaan serba kekurangan, dan belum tentu menang serta memperoleh rampasan perang (ganimah). Mereka bersikap pesimis, karena yang dihadapi adalah tentara Romawi yang terlatih, kuat, dan banyak jumlahnya.
Jika mereka diperintahkan ke tempat yang dekat yang tidak mengharuskan mereka bersusah payah dalam perjalanan, pasti mendapatkan kemenangan, dan memperoleh keuntungan dengan mudah, tentunya mereka mau dan tidak akan enggan berperang. Untuk menyembunyikan kemunafikannya, mereka tidak segan bersumpah dengan nama Allah bahwa jika mereka sanggup dan ada kemampuan, tentunya mereka ikut berangkat bersama. Sumpah ini mereka ucapkan sebagai alasan ketika kaum Muslimin sudah kembali dari perang Tabuk dengan selamat dan berada sudah di tengah-tengah mereka, sebagaimana firman Allah:
Mereka (orang-orang munafik yang tidak ikut berperang) akan mengemukakan alasannya kepadamu ketika kamu telah kembali kepada mereka. (at-Taubah/9: 94)
Mereka menduga bahwa sumpah palsu yang mereka ucapkan itu menguntungkan mereka dan dapat menutupi kemunafikannya, padahal sebenarnya tindakan itu hanya mencelakakan mereka. Di samping itu, sumpah palsu termasuk salah satu dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah saw: Dosa besar itu ialah, menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua ibu bapak, membunuh diri seseorang, dan bersumpah palsu. (Riwayat al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash)
Allah swt mengetahui kebohongan dan kepalsuan sumpah mereka dan Allah akan membalas semuanya itu.
Perang Tabuk adalah salah satu ekspedisi militer yang cukup berat bagi para sahabat Nabi Muhammad SAW. Ada beberapa faktor yang membuat sebagian sahabat merasa berat untuk ikut serta dalam perang tersebut.
1. Jarak yang Jauh.
Perang Tabuk terjadi pada tahun 9 Hijriyah dan lokasinya berada di wilayah Tabuk, yang terletak sekitar 700 km dari Madinah. Perjalanan sejauh itu pada masa tersebut sangat melelahkan karena harus ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan unta. Jarak yang jauh ini menjadi salah satu faktor yang membuat para sahabat merasa berat untuk berangkat.
2. Cuaca yang Panas (Musim Panas yang Terik).
Perang Tabuk terjadi pada musim panas, saat cuaca di Jazirah Arab sangat terik. Dalam kondisi seperti ini, melakukan perjalanan jauh dan berjihad tentu membutuhkan kekuatan fisik dan kesabaran yang luar biasa. Suhu panas yang menyengat membuat perjalanan semakin sulit dan berat.
3. Krisis Ekonomi dan Kekurangan Bekal.
Saat itu, Madinah sedang mengalami kekurangan bahan pangan dan air. Perang Tabuk dikenal juga dengan istilah “Jaisy al-Usrah”Pasukan Kesulitan) karena para sahabat menghadapi kesulitan logistik. Banyak dari mereka kekurangan bekal makanan, air, dan kendaraan (unta). Bahkan, beberapa sahabat harus bergantian menaiki unta karena jumlah kendaraan yang terbatas. Rasulullah SAW sampai harus menggalang dana dari para sahabat. Salah satu yang terkenal adalah sedekah besar dari Utsman bin Affan RA yang menyumbangkan banyak hartanya untuk membiayai pasukan tersebut.
4. Rasa Malas dan Godaan Dunia.
Sebagian orang, terutama kaum munafik, merasa berat karena mereka lebih menyukai kenyamanan di rumah daripada menghadapi kesulitan di medan perang. Allah SWT mencatat perilaku mereka dalam Al-Qur’an:
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. (QS. At-Taubah: 81).
Mereka beralasan bahwa cuaca terlalu panas, sehingga Allah membantah mereka: “Mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat (ke medan perang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah, ‘Api neraka Jahanam itu lebih panas,’ jika mereka mengetahui. (QS. At-Taubah: 81).
5. Tipu Daya Kaum Munafik.
Kaum munafik di Madinah terus berupaya memengaruhi kaum Muslimin agar tidak ikut perang. Mereka membuat berbagai alasan dan mengajak orang-orang untuk tinggal di rumah. Bahkan, mereka mendirikan “Masjid Dhirar” dengan tujuan memecah belah umat Islam. Namun, Rasulullah SAW kemudian memerintahkan agar masjid tersebut dihancurkan.
Pelajaran dari Perang Tabuk.
1. Ujian Keimanan dan Keteguhan Hati.
Perang Tabuk menjadi ujian besar bagi kaum Muslimin, di mana mereka harus memilih antara kenyamanan dunia atau pengorbanan demi agama Allah. Orang-orang beriman rela berkorban, sementara orang munafik mencari-cari alasan.
2. Pentingnya Berkorban di Jalan Allah.
Utsman bin Affan RA memberikan teladan dengan mengorbankan hartanya demi jihad. Ini menunjukkan bahwa kekuatan harta dan jiwa sangat diperlukan dalam perjuangan di jalan Allah.
3. Keikhlasan dan Keteguhan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW memimpin langsung pasukan, meskipun menghadapi banyak kesulitan. Beliau menjadi contoh bagi umat Islam dalam ketabahan, kesabaran, dan pengorbanan.
Pengorbanan umat terdahulu sungguh luar biasa. Sementara itu, kita yang hidup di zaman sekarang seringkali merasa berat ketika diminta berkorban, bahkan tak jarang mencari-cari alasan untuk menghindar. Ketika diuji dengan kesenangan, banyak yang berhasil melewatinya, tetapi saat diuji dengan kesulitan atau kesedihan, tak sedikit yang gagal — atau sebaliknya.
“Ya Allah, Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, teguhkanlah aku di atas Islam dalam segala keadaan, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam kekayaan maupun kemiskinan, dalam sehat maupun sakit. Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hatiku setelah Engkau memberikan petunjuk kepadaku, dan karuniakanlah kepadaku kesabaran dan keteguhan hingga aku bertemu dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”