Penghormatan yang Berlebihan, Bisa Menyebabkan Masuk Kedalam Katagori Orang-orang yang Melampaui Batas

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمَا  لَـكُمْ  اَ  لَّا  تَأْكُلُوْا  مِمَّا  ذُكِرَ  اسْمُ  اللّٰهِ  عَلَيْهِ  وَقَدْ  فَصَّلَ  لَـكُمْ  مَّا  حَرَّمَ  عَلَيْكُمْ  اِلَّا  مَا  اضْطُرِرْتُمْ  اِلَيْهِ  ۗ وَاِ نَّ  كَثِيْرًا  لَّيُضِلُّوْنَ  بِاَ هْوَآئِهِمْ  بِغَيْرِ  عِلْمٍ  ۗ اِنَّ  رَبَّكَ  هُوَ  اَعْلَمُ  بِا لْمُعْتَدِيْنَ

“Dan mengapa kamu tidak mau memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, padahal Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa. Dan sungguh, banyak yang menyesatkan orang dengan keinginannya tanpa dasar pengetahuan. Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 119)

Penghormatan yang berlebihan, bisa menyebabkan masuk kedalam katagori orang orang yang melampaui batas

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini, Allah mengajukan pertanyaan, apa halangan bagi kaum Muslimin untuk tidak makan hewan yang halal yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya? Padahal Allah telah menjelaskan kepada mereka apa yang sesungguhnya diharamkan bagi mereka, sebagaimana firman-Nya:

Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan makannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi “ karena semua itu kotor “ atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barang siapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi batas (darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang (al-An’am/6: 145)

Tetapi Allah memberikan keringanan kepada kaum Muslimin untuk makan makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa. Di dalam Ushul Fiqh ada sebuah kaidah yang berbunyi:

“Keadaan darurat (memaksa) membolehkan makan apa yang diharamkan”

Tindakan sebagian besar manusia memang salah dan menyesatkan dengan cara penyembelihan yang mereka lakukan, sehingga mereka terperosok ke dalam tindakan syirik, dan jauh dari akidah yang benar, yaitu kepercayaan tauhid yang dibawa para nabi dan rasul yang diutus Allah untuk umat manusia seluruhnya.

Di antara umat Nabi Nuh terdapat beberapa pemimpin yang saleh. Setelah mereka wafat, pengikut-pengikutnya mendirikan beberapa patung untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mereka jadikan teladan yang baik. Lama kelamaan para pengikutnya melampaui batas, sehingga mereka memberikan penghormatan kepada patung-patung itu dengan cara menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada patung-patung itu, bahkan mereka memohon berkah dari patung-patung itu. Keadaan ini berlangsung terus, generasi demi generasi, dan akhirnya menyebar kepada umat yang lainnya, sehingga penghormatan yang dimaksud berubah menjadi keyakinan bahwa patung-patung itu pantas dihormati dan disembah.

Urutan nabi pasti hapal Adam, Idris, Nuh…. Kemusrykan perilaku dosa sejak zaman nabi Nuh, kita jangan mengikuti atau melakukan kemusrykan.

Jangan mengulangi kesalahan yang sama, penghormatan berlebih, fanatisme berlebih, apalagi bukan ulama, sehingga dibuatkan patung patung. Patung presiden Jokowi mungkin terbanyak sekarang di Indonesia.

Republika. Patung Soekarno Dinilai Berpotensi Jadi Berhala

Patung Soekarno setinggi 100 meter akan dibangun di area perkebunan Walini, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat.
Rencana pembangunan Patung Soekarno di Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mendapatkan penolakan dari sejumlah organisasi massa Islam. Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali mendesak pemerintah untuk menggagalkan pembangunan patung proklamator RI tersebut.

Menurut dia, rencana proyek tersebut sudah memantik keresahan di tengah masyarakat Jawa Barat yang notabene merupakan Muslim yang taat. “Dipertimbangkan lagilah, dan kalau menurut saya gagalkan saja rencana itu. Apa sih kepentingannya? Sehingga orang-orang banyak menduga-duga, apa ini kepentingannya bukan politik? Apakah untuk politik kita harus menghancurkan perasaan umat Islam,”
Di dalam ajaran Islam, Kiai Athian mengatakan, setiap Muslim dilarang membuat patung. Menurut dia, hal itu dapat menjadikan manusia terjerumus pada pengultusan dan kemusyrikan. Kiai Athian menerangkan bahwa dalam catatan sejarah Islam, pembuatan patung pertama kali terjadi pada masa pertengahan Nabi Nuh Alaihissalam.

Pada masa itu, kaum Nabi Nuh membuat patung orang-orang saleh yang telah meninggal dengan tujuan untuk mengenang orang-orang saleh tersebut. Di antara patung itu bernama Wadd, Suwa’ Yaghutsz Yau’uq, dan Nasr. Seiring waktu, kaum Nabi Nuh justru menyembah patung-patung itu. Mereka melupakan Allah SWT dan memohon pertolongan kepada patung-patung itu.
Sejak saat itu, penyembahan terhadap berhala menyebar dan terus-menerus terjadi hingga zaman Rasulullah SAW. Bahkan, penduduk Arab kemudian menempatkan sebanyak 360.

Semoga kita terhindar dari kemusrykan dan masih bisa berpikir rasional, bahwa patung patung tokoh itu tidak memberikan mamfaat.