Select Education Level
Please select an education level to begin registration.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
ذُرِّيَّةًۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍ ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“(sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 34)
Beberapa sosok yang telah memperoleh cinta Allah, dan anak keturunannnya termasuk orang orang yang dicintai Allah SWT. Sesungguhnya Allah dengan pengetahuan-Nya yang bersifat azali telah memilih Adam sebagai khalifah-Nya, Nuh sebagai penerima syariat pertama, keluarga ibrahim, yaitu Ismail, Ishaq dan keturunannya yang banyak menjadi nabi dan rasul, dan keluarga Imran yaitu Maryam yang melahirkan anak tanpa bapak, dan Isa sebagai rasul bagi bani israil melebihi segala umat pada masa masing-masing. Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari Nabi Ibrahim tapi dari jalur nabi Ismail, sedangkan nabi Musa dan nabi Isa sama keturunan dari nabi Ibrahim tapi dari jalur nabi Ishak. Nabi Ibrahim ke atasnya adalah nabi Nuh dan beujung ke nabi Adam.
Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut ( Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran ,Ali Imron 33) manusia-manusia agung yang memiliki sifat kesempurnaan, dan bahwasannya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka.
Dan ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaiknNYa yang paling utama “dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui” Dia mengetahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, Hingga Dia meletakkan KeutamaanNya itu yang didasari oleh hikmahNya yang pasti.
Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya isa dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabb nya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata),
اِذْ قَا لَتِ امْرَاَ تُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَـكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 35).
Konsistensi Al Quran dengan silsilah para nabi dan firman Allah yang berhubungan dengan kesalehan para nabi dan keutamaan nabi nabi tertentu yang dihususkan, hanya pengikut pengikutnya yang ingkar dan melanggar aturan Nya.
“sesungguhnya Allah mengembirakan kamu dengan kelahiran seorang putramu Yahya yang membenarkan kalimat dari Allah, ” yakni namanya Yahya, dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah isa ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan isa ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia dimana Allah menghususkan Isa ibnu Maryam.
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَا بٍ ثُمَّ قَا لَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 59)
Allah menciptakan Adam tanpa ibu dan tanpa bapa, tapi tidak disebut anak Tuhan, Isa diciptakan tanpa bapa tapi disebut anak Tuhan. Al Quran menyatakan keduanya sama, diciptakan dari tanah. jadilah! Maka jadilah sesuatu itu.
Semoga kita diberi kemampuan memahami Al Quran, dan samina wa a’thona, kami dengar dan kami laksanakan.