Orang Musyrik Menganggap bahwa Kemuliaan Hidup Dinilai dari Sisi Materi

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَكَذٰلِكَ  فَتَـنَّا  بَعْضَهُمْ  بِبَـعْضٍ  لِّيَـقُوْلُـوْۤا  اَهٰۤؤُلَآ ءِ  مَنَّ  اللّٰهُ  عَلَيْهِمْ  مِّنْۢ  بَيْنِنَا  ۗ اَلَـيْسَ  اللّٰهُ  بِاَ عْلَمَ  بِا لشّٰكِرِ يْنَ

“Demikianlah, Kami telah menguji sebagian mereka (orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang yang miskin), agar mereka (orang yang kaya itu) berkata, Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah? (Allah berfirman), Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS. Al-An’am 6: Ayat 53)

Orang musyrik menganggap bahwa kemuliaan hidup dinilai dari sisi materi

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menganggap bahwa kemuliaan hidup dinilai dari sisi materi, seperti dalam kasus yang menjadi sebab turunnya ayat 52 surah ini, maka ayat 53 ini menegaskan bahwa demikianlah Kami telah menguji sebagian mereka, yaitu orang yang kaya dengan berbagai macam kesuksesannya, dengan sebagian yang lain, yaitu orang yang miskin dengan segala kekurangannya, sehingga mereka, orang yang kaya dan berkuasa itu, berkata dengan penuh kesombongan,

“Orang-orang semacam inikah yang status sosialnya rendah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah, yaitu beriman dan mengikutimu?” Allah berfirman untuk meluruskan kekeliruan mereka, “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur kepada-Nya?” Benar adanya, bahwa Allah menganugerahkan berbagai nikmat kepada siapa yang dikehendakiNya. Dengan demikian, kekayaan materi yang dianugerahkan kepada seseorang bukanlah pertanda Allah meridai-Nya.

Yang membedakan di mata Allah adalah ketakwaan.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّـهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia dihadapan Allah di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13).

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menilai seseorang dengan rupa, Allah tidak menilai seseorang dengan kekayaan. Sebagaimana dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

Kaya atau miskin bukan standar kemulyaan seseorang, kaya bersyukur Allah akan tambah nikmatnya….
Allah-lah yang menetapkan pemberian dan penambahan nikmat kepada seorang hamba-Nya. Pemberian nikmat tersebut untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar. Bila manusia bersyukur akan ditambah nikmatnya. Tetapi, yang ingkar akan diazab.

وَاِ ذْ  تَاَ ذَّنَ  رَبُّكُمْ  لَئِنْ  شَكَرْتُمْ  لَاَ زِ يْدَنَّـكُمْ  وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ  اِنَّ  عَذَا بِيْ  لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Doa supaya dijadikan hamba yang bersyukur ;

رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًـا تَرۡضٰٮهُ وَاَدۡخِلۡنِىۡ بِرَحۡمَتِكَ فِىۡ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيۡنَ

Rabbi awzi’nii an ashkura ni’mata kal latiii an’amta ‘alaiya wa ‘alaa waalidaiya wa an a’mala saalihan tardaahu wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikas saalihiin

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. An-Naml ayat 19)