Nabi Nuh tidak Meminta Upah kepada Kaumnya, Beliau Berkata: “Sesungguhnya Upahku Hanyalah dari Allah”

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَيٰقَوْمِ  لَاۤ  اَسْــئَلُكُمْ  عَلَيْهِ  مَا لًا  ۗ اِنْ  اَجْرِ يَ  اِلَّا  عَلَى  اللّٰهِ  وَمَاۤ  اَنَاۡ  بِطَا رِدِ  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  ۗ اِنَّهُمْ  مُّلٰقُوْا  رَبِّهِمْ  وَلٰـكِنِّيْۤ  اَرٰٮكُمْ  قَوْمًا  تَجْهَلُوْنَ

“Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sungguh, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh.” (QS. Hud 11: Ayat 29)

Nabi Nuh tidak meminta upah kepada kaumnya, beliau berkata: ‘Sesungguhnya upahku hanyalah dari Allah

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Nabi Nuh berkata, “Wahai kaumku, aku tidak meminta upah atau balasan apa pun atas nasihat dan seruan kepadamu itu. Aku mengajak kalian kepada ketauhidan dan ketakwaan kepada Allah, semata-mata ikhlas karena Allah, supaya kamu sekalian berbahagia di akhirat. Aku sama sekali tidak meminta atau mengharapkan pemberian upah harta benda dari kalian. Aku tahu bahwa harta benda itu sangat kamu sayangi. Aku tahu bahwa penilaian kalian terhadap seseorang itu selalu dikaitkan dengan kekayaannya. Oleh karena itu, untuk memurnikan seruanku dan untuk tidak menyinggung perasaan, aku tidak meminta apa-apa, cukuplah aku mengharapkan pahala dari Allah saja, karena Allah lah yang memberi tugas kepadaku dan aku hanya bertawakal kepada-Nya.” Dan ucapan seperti itu diucapkan pula oleh rasul-rasul yang lain dalam rangka menyampaikan risalahnya kepada umat.

Kaum Nuh mengusulkan kepada Nuh, “Hai Nuh, jika kamu ingin supaya kami ikut beriman kepadamu, maka usirlah pengikutmu yang lemah dan hina itu, karena kami tidak pantas duduk bersama mereka dalam suatu majelis.” Nabi Nuh a.s. menjawab, “Aku tidak akan mengusir mereka, karena mereka sungguh-sungguh akan bertemu dengan Tuhannya, dan mereka hanya akan ditanya tentang amalnya, bukan soal pangkat atau keturunannya, dan itulah yang tidak kamu ketahui.” Ucapan Nabi Nuh a.s. itu dijelaskan pula dalam ayat lain yaitu firman Allah swt:
Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?” Dia (Nuh) menjawab, “Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang mereka kerjakan. Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, jika kamu menyadari. Dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) hanyalah pemberi peringatan yang jelas.” (asy-Syuara/26: 111-115).

Tadabbur (Perenungan) dari QS. Hud:29:

1. Ketulusan Seorang Da’i atau Ilmuwan

Nabi Nuh menegaskan bahwa dakwahnya bukan untuk mencari materi atau keuntungan dunia, tetapi semata-mata mengharap ridha Allah. Ini menjadi teladan bagi siapa pun yang menyampaikan ilmu, termasuk dalam dunia akademik dan penelitian. Keikhlasan adalah pondasi utama. Pelajaran: Saat kita menyampaikan ilmu atau berdakwah, jangan menjadikannya ladang mencari keuntungan pribadi. Niat yang bersih menjadikan ilmu itu lebih diberkahi.

2. Nilai Kemandirian dan Integritas

Nabi Nuh menunjukkan bahwa seorang pembawa kebenaran harus berdiri tegak dengan integritas, tidak tergantung kepada imbalan dari manusia agar pesan yang disampaikan tidak terdistorsi oleh kepentingan. Pelajaran: Dalam penelitian atau kerja profesional, hindari tekanan dari sponsor atau pihak yang bisa mengganggu objektivitas ilmiah.

3. Mengandalkan Allah sebagai Sumber Balasan

Dengan berkata “Sesungguhnya upahku hanya dari Allah”, Nabi Nuh mengajarkan kita untuk mengandalkan Allah dalam segala hasil dan balasan, bukan manusia. Pelajaran: Ketika usaha kita tidak dihargai manusia, tetaplah yakin bahwa Allah melihat dan akan memberi balasan terbaik.

4. Pengingat Akan Tujuan Hidup

Ayat ini mengajak kita untuk mengevaluasi: apakah tujuan kita bekerja, meneliti, dan menyampaikan pengetahuan adalah karena Allah, atau demi pujian dan penghargaan? QS. Hud:29 adalah pengingat penting bagi siapa pun yang bergerak di jalan ilmu dan dakwah: luruskan niat, jaga integritas, dan harapkan balasan hanya dari Allah. Inilah kunci keberkahan dan keberhasilan sejati, meskipun mungkin tidak terlihat secara duniawi.

Doa yang bisa dibaca agar diberi keikhlasan dalam beramal:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلَا تَجْعَلْ فِيهِ لِأَحَدٍ غَيْرِكَ شَيْئًا

Allāhumma’j‘al ‘amalī kullahu ṣāliḥan, waj‘alhu li-wajhika khāliṣan, wa lā taj‘al fīhi li-aḥadin ghayrika shay’an.

“Ya Allah, jadikanlah seluruh amal perbuatanku sebagai amal yang saleh, dan jadikanlah ia ikhlas karena-Mu semata. Jangan Engkau jadikan sedikit pun dari amal tersebut untuk selain-Mu