Mukjizat Nabi Musa; Tangannya Mengeluarkan Sinar yang Terang

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَّنَزَعَ  يَدَهٗ  فَاِ ذَا  هِيَ  بَيْضَآءُ  لِلنّٰظِرِ يْنَ

“Dan dia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihatnya.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 108)

Mukjizat yang kedua nabi Musa, yaitu tangannya kelihatan bercahaya, memancarkan sinar yang terang

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Musa memperlihatkan mukjizat yang kedua, yaitu tangannya kelihatan bercahaya, memancarkan sinar yang terang. Setelah ia melemparkan tongkatnya, dan orang-orang yang hadir menyaksikan ular yang menjelma dari tongkat tersebut, maka Nabi Musa memasukkan tangannya ke ketiaknya melalui leher bajunya, kemudian dikeluarkannya. Ternyata tangannya itu menjadi putih cemerlang dan berkilauan, dan dapat dilihat dengan nyata oleh yang menyaksikannya, termasuk Firaun dan pengikutnya.

Dalam kisah Nabi Musa yang terdapat dalam surah thaha, surah an-Naml dan surah al-Qashas ditegaskan bahwa warna putih berkilauan yang kelihatan pada tangan Nabi Musa ketika itu adalah warna putih yang sehat, bukan warna putih yang disebabkan oleh penyakit sopak dan sebagainya.

Perlu diingat, bahwa dalam kitab-kitab tafsir yang mendasarkan penafsirannya kepada riwayat-riwayat yang diterima dari orang-orang dahulu, sering terdapat kisah-kisah yang berlebih-lebihan dan sangat aneh, mengenai ular yang menjelma dari tongkat Nabi Musa tersebut. Kita harus waspada dan berhati-hati dalam menerima riwayat-riwayat semacam itu, karena tidak mempunyai dasar yang kuat. Bahkan sebagian berasal dari riwayat Israiliyat, yaitu dongeng-dongeng yang datang dari orang Yahudi, yang menyusup ke dalam kalangan kaum Muslimin yang bertujuan untuk merusak agama Islam dari dalam.

Kenyataan sejarah menunjukkan, bahwa fitnah dan kekacauan yang terjadi dalam kalangan umat Islam, bahkan pembunuhan-pembunuhan terhadap khalifah-khalifah, biang keladinya adalah para penyusup itu, seperti Abdullah Ibnu Saba dari bangsa Yahudi yang berpura-pura masuk agama Islam. Lalu mengadakan pengacauan dalam bidang akidah, politik dan sebagainya, pada masa-masa permulaan Islam.

Syukurlah bahwa di kalangan ulama-ulama Islam telah muncul para cendekiawan yang waspada, lalu mengadakan penyelidikan mengenai riwayat-riwayat tersebut dan lebih memilih riwayat-riwayat yang mempunyai dasar yang kuat, yang tidak diragukan kebenarannya.

Penyusup berpura pura beragama Islam sudah ada sejak zaman nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah Ibnu Saba.

Fitnah ini disebabkan oleh seorang lelaki Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, padahal ia membenci ajaran Islam dan kaum muslimin. Lelaki yang bernama abdullah bin Saba itu menyebar berita bohong tentang Utsman RA yang telah mengubah syari’at Allah SWT.

Abdullah bin Saba dan para pengikutnya (Saba’iyyah) dikatakan sebagai orang-orang yang mengajak penduduk Mesir untuk melawan Khalifah Utsman dan bertanggung jawab terhadap perusakan pemukiman yang berada di dekat lokasi Pertempuran Unta ( Perang Jamal ).

Sejarah Islam banyak yang tragis, banyak darah dan fitnah, itu ada sejak zaman para sahabat. Fitnah itu digelembung oleh kalangan zindiq yang ingin menghancurkan umat Islam dari dalam. Dan aktor intelektualnya adalah Abdullah bin Saba’, tokoh yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Sahabat juga ada khilaf itu manusiawi, tapi mereka adalah orang yang diridhai Allah dan Allah ridha kepada mereka. Dan hal itu ditetapkan di dalam Al-Quran langsung oleh Allah SWT sendiri.

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. (QS. Al-Fath: 18).

Doa supaya Islam diberi kemenangan;

“Allahumma insuril Islam wal muslimin. Allahumma a’izzal Islam wal muslimin. Allahumma anzilas-sakinata fil qulubil mu’minin. Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqna ittiba’ahu, wa arinal baatila baatilan warzuqna ijtinaabahu. Allahumma inna nas’aluka al-‘afiyah fi ad-dunya wal-akhirah. Allahumma inna nas’aluka ‘afwa wal-‘afiyah fi dini wa dunyana wa ahli wa malina. Allahumma astur ‘auratina wa amin raw’atina. Allahumma hfazna min bayna aidina wa min khalfina wa’an yaminina wa’an shimalina wa min fawqina, wa na’udzu bika an-nushrika bika shai’an na’lamuhu, wa nastaghfiruka lima la na’lamuhu. Innaka ‘anta ‘allamul ghuyub.”

“Wahai Allah, tolonglah Islam dan umat Muslim. Wahai Allah, muliakanlah Islam dan umat Muslim. Wahai Allah, turunkanlah ketenangan ke dalam hati para mukmin. Wahai Allah, tunjukkanlah kebenaran sebagai kebenaran dan berikanlah kami kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berikanlah kami kemampuan untuk menjauhinya. Wahai Allah, kami memohon keamanan di dunia dan di akhirat. Wahai Allah, kami memohon maaf dan kesejahteraan dalam agama, kehidupan dunia, keluarga, dan harta kami.

Wahai Allah, lindungilah aurat kami dan amankanlah keselamatan kami. Wahai Allah, peliharalah kami dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atas, dan kami berlindung kepada-Mu dari melakukan syirik terhadap-Mu, sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui. Sungguh, Engkau adalah Yang Maha Mengetahui tentang yang ghaib.”