Mereka tidak Bermohon, karena Kedurhakaannya sudah Sedemikian Parah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَلَوْلَاۤ  اِذْ  جَآءَهُمْ  بَأْسُنَا  تَضَرَّعُوْا  وَلٰـكِنْ  قَسَتْ  قُلُوْبُهُمْ  وَزَ يَّنَ  لَهُمُ  الشَّيْطٰنُ  مَا  كَا نُوْا  يَعْمَلُوْنَ

“Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. Al-An’am 6: Ayat 43)

Mereka tidak bermohon, karena kedurhakaan mereka sudah sedemikian parah

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI dijekaskan bahwa setelah ditawarkan kesempatan untuk terhindar dari siksa dengan syarat mereka harus bertobat, para pendurhaka itu enggan melakukannya, maka muncul keheranan yaitu mengapa mereka tidak memohon kepada Allah dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami (Allah) datang menimpa mereka? Jawabannya adalah memang mereka tidak bermohon, karena kedurhakaan mereka sudah sedemikian parah. Bahkan hati mereka telah menjadi keras sehingga sulit untuk menerima petunjuk dan setan pun merayu dan mengelabui mereka dengan menjadikan terasa indah bagi mereka apa, yakni dosa-dosa dan kedurhakaan, yang selalu mereka kerjakan.

Mereka tidak bermohon, karena kedurhakaan mereka sudah sedemikian parah, padahal kalau ada sedikit iman dan bertobat dosa sebesar apapun masih ada kesempatan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah SWT,

Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sebanyak dan sebesar apapun dosa hamba-Nya akan dimaafkan serta diampuni tatkala ia bertaubat. Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Dalam kehidupan sehari-hari pasti ada saja kesalahan yang diperbuat.

Mereka yang mendapat rahmat Allah SWT tentu akan langsung tersadar dan memohon ampunan dengan cara taubat nasuha. Allah SWT pun Maha Menerima Taubat, hal ini banyak dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an, salah satunya surat Al Maidah ayat 39,

فَمَن تَابَ مِنۢ بَعْدِ ظُلْمِهِۦ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

قُلْ  يٰعِبَا دِيَ  الَّذِيْنَ  اَسْرَفُوْا  عَلٰۤى  اَنْفُسِهِمْ  لَا  تَقْنَطُوْا  مِنْ  رَّحْمَةِ  اللّٰهِ  ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  يَغْفِرُ  الذُّنُوْبَ  جَمِيْعًا  ۗ اِنَّهٗ  هُوَ  الْغَفُوْرُ  الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)

Surah Az-Zumar ayat 53 merupakan larangan bagi umat Islam agar tidak lekas berputus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah SWT. Sikap putus asa sendiri merupakan salah satu akhlak tercela yang harus dihindari umat Islam. Orang yang berputus asa digambarkan sebagai sosok yang lemah imannya, bahkan termasuk karakteristik orang kafir. Hal itu tergambar dalam firman Allah SWT dalam surah Yusuf ayat 87: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir,” (QS. Yusuf [12]: 87).

Karena itulah, Islam mengimbau umatnya untuk tidak berputus asa terhadap rahmat Allah SWT. Kendati seseorang sudah gagal, banyak bermaksiat, serta bergelimang dosa, pintu taubat dan kesempatan akan terus terbuka lebar di sisi Allah SWT.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama [ruh] belum sampai di tenggorokan,” (H.R. Tirmidzi).

Banyaklah beristigfar dan mohon ampun kepada Allah SWT;

أسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لا إلَهَ إلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأتُوبُ إلَيْه

“Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepadanya.”