Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اَلَهُمْ اَرْجُلٌ يَّمْشُوْنَ بِهَاۤ ۖ اَمْ لَهُمْ اَيْدٍ يَّبْطِشُوْنَ بِهَاۤ ۖ اَمْ لَهُمْ اَعْيُنٌ يُّبْصِرُوْنَ بِهَاۤ ۖ اَمْ لَهُمْ اٰذَا نٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ قُلِ ادْعُوْا شُرَكَآءَكُمْ ثُمَّ كِيْدُوْنِ فَلَا تُنْظِرُوْنِ
“Apakah mereka (berhala-berhala) mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang dengan keras, atau mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah (Muhammad), Panggillah (berhala-berhalamu) yang kamu anggap sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, dan jangan kamu tunda lagi.”(QS. Al-A’raf 7: Ayat 195)
Menyembah berhala tapi menolak Rasul karena beliau seorang manusia. Padahal Rasul SAW, mempunyai kelebihan pengetahuan, kebijaksanaan dan hidayah dari Allah SWT
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah memperingatkan para pemuja benda-benda itu, bahwa berhala-berhala itu bukan saja tidak sederajat dengan mereka bahkan lebih rendah dari mereka. Berhala-berhala itu tidak memiliki kelengkapan tubuh seperti kaki, tangan, mata dan lain-lain sebagainya, yang dapat mengabulkan permohonan dan tuntutan pemujanya. Benda-benda itu tidak seperti penyembahnya yang keadaannya lebih sempurna dan lebih lengkap.
Peringatan Allah ini merupakan ejekan dan penghinaan kepada kaum musyrikin, tetapi kaum musyrikin itu tidak menginsyafi keadaan diri mereka, bahkan mereka merasa sombong dan takabur. Mereka enggan menerima petunjuk dan pelajaran dari Rasul saw dengan alasan bahwa Rasul itu seorang manusia. Mereka berkata sesama mereka tentang kemanusiaan rasul, ini ucapan orang kafir yang diabadikan dalam al Quran;
وَلَئِنْ اَطَعْتُمْ بَشَرًا مِّثْلَـكُمْ اِنَّكُمْ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ
“Dan sungguh, jika kamu menaati manusia yang seperti kamu, niscaya kamu pasti rugi,” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 34)
Di sinilah kejanggalan pikiran mereka. Mereka menolak Rasul karena beliau seorang manusia. Padahal Rasul saw, mempunyai kelebihan pengetahuan, kebijaksanaan dan hidayah dari Allah dibanding dengan manusia lainnya. Mereka lebih mengutamakan patung-patung daripada seorang Rasul. Bahkan mengangkat patung-patung dan benda-benda sembahan sampai ke derajat tuhan. Maka Allah memerintahkan Rasul untuk menantang mereka dengan mengatakan kepada mereka bahwa jika benar berhala-berhalanya punya kekuatan, suruhlah mereka bersatu untuk membinasakan Rasul saw. Tidak perlu mereka memberi kesempatan menunggu Rasul saw membinasakannya lebih dulu. Tantangan yang demikian itu tidak akan terucapkan oleh Nabi saw sekiranya keimanan kepada pertolongan Allah tidak betul-betul diyakininya.
Tantangan demikian harus diucapkan. Sebab dalil-dalil dan alasan ilmiah tidak bermanfaat lagi untuk menyatakan kebathilan kepercayaan masyarakat musyrikin Arab itu. Nabi Muhammad diperintahkan untuk meminta kepada mereka agar berhala-berhala mereka membinasakan nabi Muhammad. Tantangan yang demikian itu cukup membuat hati penyembah-penyembah berhala itu gentar.
Sejarah selalu berulang, kisahnya sama seperti nabi Ibrahim, yang menghancurkan patung patung berhala dan menyisakan satu patung besar.
قَا لُوْا مَنْ فَعَلَ هٰذَا بِاٰ لِهَتِنَاۤ اِنَّهٗ لَمِنَ الظّٰلِمِيْنَ
“Mereka berkata, Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap Tuhan-Tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 59)
قَا لَ بَلْ فَعَلَهٗ ۖ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْــئَلُوْهُمْ اِنْ كَا نُوْا يَنْطِقُوْنَ
“Dia (Ibrahim) menjawab, Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 63).
Berhala zaman dulu berupa patung-patung, sementara berhala zaman sekarang berupa uang, jabatan, dan kedudukan. Hal-hal tersebut sering menjadi tumpuan, dan jika seseorang tidak mendapatkannya, rasanya seperti kehilangan segalanya.
Sampaikanlah kisah kisah untuk dijadikan ibrah (pelajaran)
فَا قْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kisah umat umat terdahulu