Mendustakan Ayat-ayat Al Qur’an; Berada dalam Kesesatan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَا لَّذِيْنَ  كَذَّبُوْا  بِاٰ يٰتِنَا  صُمٌّ  وَّبُكْمٌ  فِى  الظُّلُمٰتِ  ۗ مَنْ  يَّشَاِ  اللّٰهُ  يُضْلِلْهُ  ۗ وَمَنْ  يَّشَأْ  يَجْعَلْهُ  عَلٰى  صِرَا طٍ  مُّسْتَقِيْمٍ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 39)

Mendustakan ayat ayat Qur’an berada dalam kesesatan

Tafsir Kementerian Agama menerangkan ayat ini, setelah bukti kekuasaan Allah sedemikian jelas seperti dijelaskan pada ayat sebelumnya, orang-orang yang beriman pasti dapat mengambil pelajaran, namun tidak demikian dengan orang-orang yang tidak beriman.

Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami yang sudah sedemikian jelas lagi mulia adalah orang yang tuli (tidak bisa mendengar) dan bisu (tidak dapat berbicara) serta berada dalam gelap gulita tanpa cahaya penuntun hidup.

Barang siapa dikehendaki Allah dalam kesesatan, niscaya disesatkan-Nya dengan membiarkannya tetap berada di jalan yang sesat. Dan barangsiapa dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk karena berusaha maksimal untuk meraihnya, niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. Begitulah janji Allah.
Ada yang diberi petunjuk, ada yang disesatkan dan ada yang dicondongkan kepada kesesatan.

هُوَ  الَّذِيْۤ  اَنْزَلَ  عَلَيْكَ  الْكِتٰبَ  مِنْهُ  اٰيٰتٌ  مُّحْكَمٰتٌ  هُنَّ  اُمُّ  الْكِتٰبِ  وَاُ خَرُ  مُتَشٰبِهٰتٌ  ۗ فَاَ مَّا  الَّذِيْنَ  فِيْ  قُلُوْبِهِمْ  زَ يْغٌ  فَيَتَّبِعُوْنَ  مَا  تَشَا بَهَ  مِنْهُ  ابْتِغَآءَ  الْفِتْنَةِ  وَا بْتِغَآءَ  تَأْوِيْلِهٖ  ۚ وَمَا  يَعْلَمُ  تَأْوِيْلَهٗۤ  اِلَّا  اللّٰهُ  ۘ وَ  الرّٰسِخُوْنَ  فِى  الْعِلْمِ  يَقُوْلُوْنَ  اٰمَنَّا  بِهٖ  ۙ كُلٌّ  مِّنْ  عِنْدِ  رَبِّنَا  ۚ وَمَا  يَذَّكَّرُ  اِلَّاۤ  اُولُوا  الْاَ  لْبَا بِ

“Dialah yang menurunkan Kitab (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 7)

Ayat muhkamat adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara jelas, sementara ayat mutasyabihat yang maksudnya hanya diketahui oleh Allah. Ayat muhkamat sangat banyak dalam al Quran, amalkan aja ayat muhkamat daripada mempermasalahkan ayat ayat mutasyabihat.

Doa supaya selalu mendapat petunjuk ;

رَبَّنَا  لَا  تُزِغْ  قُلُوْبَنَا  بَعْدَ  اِذْ  هَدَيْتَنَا  وَهَبْ  لَنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ  رَحْمَةً  ۚ اِنَّكَ  اَنْتَ  الْوَهَّا بُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)