Lauh dan Taurat yang Diturunkan kepada Nabi Musa; Simak Penjelasannya!

عُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَكَتَبْنَا  لَهٗ  فِى  الْاَ  لْوَا حِ  مِنْ كُلِّ  شَيْءٍ  مَّوْعِظَةً  وَّتَفْصِيْلًا  لِّـكُلِّ  شَيْءٍ  ۚ فَخُذْهَا  بِقُوَّةٍ  وَّأْمُرْ  قَوْمَكَ  يَأْخُذُوْا  بِاَ حْسَنِهَا  ۗ سَاُ ورِ يْكُمْ  دَا رَ  الْفٰسِقِيْنَ

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya, Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.”(QS. Al-A’raf 7: Ayat 145)

Kuat dan besar pada saat melaksanakan agama Allah dengan baik dan menjadi lemah pada saat tidak mengacuhkan agama Allah

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa Dia telah menurunkan kepada Nabi Musa as, beberapa keping lauh yang berisi petunjuk-petunjuk dan pengajaran-pengajaran, janji dan ancaman pokok-pokok agama, berupa pokok-pokok akidah, budi pekerti dan hukum-hukum. Pendapat para ahli berbeda-beda tentang yang dimaksud dengan lauh itu termasuk bagian Kitab Taurat, dan ada yang berpendapat bahwa lauh diturunkan sebelum Kitab Taurat diturunkan.

Dari berbagai pendapat itu yang kuat ialah pendapat yang mengatakan bahwa lauh itu adalah wahyu yang pertama diturunkan kepada Musa as, karena itu ia memuat hukum-hukum, akidah, dan keterangan-keterangan yang bersifat umum dan global. Kemudian diturunkan wahyu lain untuk menjelaskan secara berangsur-angsur sesuai dengan keperluan, keadaan masa, dan tempat.

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang jumlah lauh yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Ada yang mengatakan sepuluh dan sebagainya. Tidak ada nash yang tegas menerangkan jumlah lauh yang diturunkan itu. Allah memerintahkan agar Musa berpegang teguh dengan pokok-pokok agama yang telah diturunkan kepadanya, melaksanakan segala petunjuk-petunjuk dan hukum-hukumnya, agar berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Dan Allah memerintahkan agar Musa dan kaumnya berpegang teguh kepada ajaran-ajaran, petunjuk-petunjuk, dan hukum-hukum yang ada di dalam lauh itu.

Sehingga Bani Israil akan baik budi-pekertinya, baik ibadahnya, dan tertutuplah pintu-pintu syirik. Jika kamu dan kaummu tidak mengambil dan memegang teguh apa yang telah Kami turunkan dengan sesungguhnya, maka kamu akan menjadi fasik, seperti yang telah dialami oleh kaum ad, samud, dan kaum Firaun dan sebagainya, atau Kami akan memperlihatkan kelak apa yang dialami orang-orang yang tidak mau taat kepada-Ku.

Dari ayat-ayat di atas dapat diambil beberapa iktibar (pelajaran) sebagai berikut:

  1. Wajib menyampaikan ajaran rasul dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan risalah yang dibawa Rasul, agar dengan demikian tercapailah pembentukan umat yang baru, penuh kedamaian di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Pengampun. Hal ini dapat dilihat pada perbuatan Rasulullah saw, sendiri. Beliau merupakan suri teladan bagi umatnya dalam mengamalkan perintah-perintah Allah. Hal ini dapat dilihat pada perkataan, perbuatan dan tindakannya. Karena itu orang Arab tertarik kepada agama yang dibawanya, sehingga dalam waktu yang sangat pendek, penduduk Jazirah Arab telah menganut agama Islam. Cara-cara yang dilakukan oleh Rasulullah ini telah dilakukan pula oleh para sahabat dan beberapa khalifah yang terkenal dalam sejarah, maka mereka pun telah berhasil sebagaimana Rasulullah telah berhasil. Dalam pada itu ada pula di antara kaum Muslimin yang telah berbuat kesalahan.
  2. Kita lihat dalam sejarah bahwa Bani Israil menjadi bangsa yang besar dan berkuasa di saat mereka melaksanakan dengan baik agama Allah, dan mereka menjadi bangsa terjajah, hidup sengsara di saat mereka memandang enteng dan mengingkari agama Allah.
  3. Demikianlah halnya kaum Muslimin, menjadi kuat dan besar di saat mereka melaksanakan dengan baik agama Allah, di saat timbul persaudaraan yang kuat sesama kaum Muslimin, dan mereka menjadi lemah di saat mereka tidak mengacuhkan lagi agama Allah.

Sejarah kadang kadang berulang, Islam pernah berjaya dan Islam pernah lemah, berjaya pada saat umat Islamnya menjalankan agama dengan baik dan lemah pada saat mengabaikan agamanya, secara individu seseorang menjadi kuat dan besar dalam kedudukannya di sisi Allah ketika ia melaksanakan agama dengan baik dan sungguh-sungguh. Sebaliknya, seseorang menjadi lemah ketika ia mengabaikan atau tidak memperhatikan agama Allah.

Al Quran sebagian besar berisi sejarah, umat Islam harusnya mengambil pelajaran kapan Islam berjaya dan kapan Islam lemah.

Sampaikanlah kisah kisah untuk dijadikan ibrah (pelajaran)

‎ فَا قْصُصِ  الْقَصَصَ  لَعَلَّهُمْ  يَتَفَكَّرُوْنَ

“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kisah yang ada dalam al Quran