Laki-laki Diberi Kelebihan, Perempuan lebih Dimulyakan

Tabligh Akbar (27)‎

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَلَمَّا  وَضَعَتْهَا  قَا لَتْ  رَبِّ  اِنِّيْ  وَضَعْتُهَاۤ  اُنْثٰى   ۗ وَا للّٰهُ  اَعْلَمُ  بِمَا  وَضَعَتْ   ۗ وَ  لَيْسَ  الذَّكَرُ  كَا لْاُ نْثٰى   ۚ وَاِ نِّيْ  سَمَّيْتُهَا  مَرْ يَمَ  وَاِ نِّيْۤ  اُعِيْذُهَا  بِكَ  وَذُرِّيَّتَهَا  مِنَ  الشَّيْطٰنِ  الرَّجِيْمِ

“Maka ketika melahirkannya, dia berkata, Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan. Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 36)

Laki-laki tidak sama dengan perempuan.
Kondisi tertentu Islam lebih memulyakan perempuan, dalam kondisi tertentu laki-laki lebih dibandingkan perempuan..
Perempuan dan laki-laki sama dalam hal mendapatkan pahala dan siksaan dari Allah.

وَا لْمُؤْمِنُوْنَ  وَا لْمُؤْمِنٰتُ  بَعْضُهُمْ  اَوْلِيَآءُ  بَعْضٍ  ۘ يَأْمُرُوْنَ  بِا لْمَعْرُوْفِ  وَيَنْهَوْنَ  عَنِ  الْمُنْكَرِ  وَيُقِيْمُوْنَ  الصَّلٰوةَ  وَيُؤْتُوْنَ  الزَّكٰوةَ  وَيُطِيْعُوْنَ  اللّٰهَ  وَرَسُوْلَهٗ   ۗ اُولٰٓئِكَ  سَيَرْحَمُهُمُ  اللّٰهُ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  عَزِ يْزٌ  حَكِيْمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah swt. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 71)

وَمَنْ  يَّعْمَلْ  مِنَ  الصّٰلِحٰتِ  مِنْ  ذَكَرٍ  اَوْ  اُنْثٰى  وَهُوَ  مُؤْمِنٌ  فَاُ ولٰٓئِكَ  يَدْخُلُوْنَ  الْجَـنَّةَ  وَلَا  يُظْلَمُوْنَ  نَقِيْرًا

“Dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 124)

Untuk hal tertentu laki laki diberi kelebihan, untuk hal lain perempuan lebih dimulyakan.

Tidak Ada Nabi dan Rasul Wanita.
(Nabi dan Rasul adalah refleksi dari pemimpin, baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil, dan suka atau tidak suka, mereka adalah contoh, pedoman atau acuan bagi manusia lainnya)

“Dan kalau Kami bermaksud menjadikan Rasul itu dari golongan malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki.” (QS. Al-An’aam: 9)

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109)

“Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. “ (QS. Al-Anbiyaa’: 7)

Imam dalam sholat tidak boleh wanita, kecuali makmumnya juga wanita (berdasarkan Imam Hanafi, Syafi’i, dan Hambali)

Laki-laki sudah ditetapkan sebagai Pemimpin Wanita

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisaa’: 34)

Ayat ini memang konteksnya berbicara seputar rumah tangga, akan tetapi secara logikanya, seorang kepala rumah tangga saja haruslah laki-laki, apalagi seorang kepala negara yang notabene sebagai kepala atau pemimpin dari banyak kepala keluarga lain, maka tidak bisa lain, dia haruslah laki-laki.

“Diriwayatkan dari Abu Bakrah, katanya: Tatkala sampai berita kepada Rasulullah bahwa orang-orang Persia mengangkat raja puteri Kaisar, Beliau bersabda: Tidak akan pernah beruntung keadaan suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada seorang perempuan.” (HR. Bukhari, Turmudzi dan An-Nasa’i)

Sebagai hamba Allah laki dan perempuan sama;

وَمَا  خَلَقْتُ  الْجِنَّ  وَا لْاِ نْسَ  اِلَّا  لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

وَاِ ذْ  قَا لَ  رَبُّكَ  لِلْمَلٰٓئِكَةِ  اِنِّيْ  جَا عِلٌ  فِى  الْاَ رْضِ  خَلِيْفَةً   ۗ قَا لُوْۤا  اَتَجْعَلُ  فِيْهَا  مَنْ  يُّفْسِدُ  فِيْهَا  وَيَسْفِكُ  الدِّمَآءَ   ۚ وَنَحْنُ  نُسَبِّحُ  بِحَمْدِكَ  وَنُقَدِّسُ  لَـكَ   ۗ قَا لَ  اِنِّيْۤ  اَعْلَمُ  مَا  لَا  تَعْلَمُوْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Semoga, kita bisa menjalankan fungsi kita diciptakan Allah yaitu sebagai hamba dan sebagai kalifah (beribadah dan wakil Allah di bumi).