أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
تِلْكَ مِنْ اَنْۢبَآءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَاۤ اِلَيْكَ ۚ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَاۤ اَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هٰذَا ۖ فَا صْبِرْ ۖ اِنَّ الْعَا قِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Hud 11: Ayat 49)
Kisah nabi Nuh tidak mungkin sampai kepada nabi Muhammad kalau bukan karena perantaraan wahyu
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan kepada Nabi Muhammad saw, bahwa kisah Nuh a.s. itu dan kisah nabi-nabi lainnya adalah berita penting yang termasuk dalam soal-soal gaib yang diwahyukan Allah kepadanya, yang belum pernah diketahuinya dan belum pernah pula diketahui oleh kaumnya sebelum itu, sehingga mereka bisa menuduhnya bahwa kisah itu diperolehnya dari orang lain. Tetapi Allah-lah yang mewahyukan kisah itu kepada Muhammad sesuai dengan kejadian yang sebenarnya sebagaimana yang diterangkan dalam kitab-kitab para nabi sebelumnya. Seandainya ada di antara kaumnya yang pernah mendengarnya, maka pengetahuan mereka itu hanya secara global dan samar-samar.
Oleh karena itu, sekalipun berbagai tuduhan mereka lemparkan terhadap Muhammad saw, tetapi Allah memerintahkannya supaya bersabar menghadapi kaumnya yang banyak menyakitkan hatinya; sebagaimana Nuh a.s. bersabar menghadapi kaumnya yang mengejek dan mencemoohkannya beratus-ratus tahun lamanya. Hal serupa itu sudah menjadi sunnah Allah pada rasul-rasul-Nya. Namun demikian, kesudahannya adalah kemenangan dan keberuntungan bagi orang-orang yang bertakwa dan sabar.
Sebaliknya, kekalahan dan kerugian akan menimpa orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran dan orang-orang yang berbuat jahat. Ini sesuai dengan ayat-ayat lain seperti firman Allah: Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat). (al-Mumin/40: 51)
Dalam Al-Quran tidak diterangkan dengan tegas berapa usia Nabi Nuh a.s., tetapi hanya disebutkan dalam firman-Nya sebagai berikut:
Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. (al-Ankabut/29: 14)
Yang jelas ayat tersebut hanya menyatakan bahwa Nuh a.s. tinggal di antara kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Ada kemungkinan bahwa rentang waktu tersebut hanya menunjuk pada jangka waktu dalam menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Dan ada kemungkinan pula bahwa itulah jumlah seluruh usianya termasuk di dalam masa menyampaikan dakwah.
Tulisan, kutab atau buku yang meriwayatkan kisah Nabi Nuh kemungkinan besar tidak ada pada masa Nabi Muhammad ﷺ, dan tidak mungkin beliau membacanya. Oleh karena itu, mustahil riwayat tentang Nabi Nuh sampai kepada beliau kecuali melalui wahyu.
Menurut sebagian ahli sejarah Islam, seperti Ibnu Katsir, jarak antara Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim diperkirakan sekitar 10 abad (dengan makna satu abad ≈ 100 tahun, sehingga kira-kira 1000 tahun).
Dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad ﷺ, banyak yang memperkirakan rentangnya sekitar 2500 tahun atau lebih, tergantung metode perhitungan silsilahnya.
Jika digabungkan, dari Nabi Nuh → Nabi Ibrahim → Nabi Muhammad ﷺ, perkiraannya mencapai sekitar 3500–4000 tahun. Namun, angka ini sangat bervariasi tergantung sumber, karena sebagian riwayat Israiliyat (bersumber dari tradisi Yahudi-Kristen) memberikan perhitungan berbeda, bahkan ada yang melebihi 5000 tahun.
Selain kisah para nabi, ada banyak hal lain dalam Al-Qur’an yang menjadi bukti kuat bahwa ia adalah wahyu, bukan karya manusia, apalagi buatan Nabi Muhammad ﷺ. Di antara yang paling meyakinkan adalah:
1. Keindahan dan kemukjizatan bahasa
- Al-Qur’an memiliki susunan kata, irama, dan kedalaman makna yang tidak tertandingi oleh penyair atau ahli bahasa Arab pada masa itu, padahal bangsa Arab terkenal sangat mahir berpuisi.
- Tantangan (tahaddi) untuk membuat tandingan ayat atau surat seperti Al-Qur’an sudah ada sejak awal, tetapi tidak pernah terpenuhi hingga sekarang.
2. Berita gaib masa lalu
- Mengisahkan peristiwa umat terdahulu secara detail, seperti kisah Nabi Nuh, Musa, dan Isa, yang Nabi Muhammad ﷺ tidak mungkin mengetahuinya tanpa wahyu, karena beliau tidak pernah belajar kepada ahli kitab sebelumnya.
3. Berita gaib masa depan yang terbukti benar
- Contohnya, kabar kemenangan Romawi atas Persia (QS Ar-Rum: 2–4) yang terjadi tepat seperti yang dinubuatkan.
4. Konsistensi isi selama 23 tahun
- Al-Qur’an turun bertahap selama lebih dari dua dekade, dalam berbagai situasi dan kondisi, namun tetap konsisten dari sisi gaya bahasa, prinsip ajaran, dan tidak ada kontradiksi hakiki.
5. Kedalaman ilmu dan penjelasan ilmiah yang benar
- Ada ayat-ayat yang sejalan dengan temuan ilmiah modern, seperti perkembangan janin (QS Al-Mu’minun: 12–14) atau struktur langit.
- Meskipun bukan buku sains, keterangan ilmiahnya tidak pernah bertentangan dengan fakta yang terbukti.
6. Pengaruh spiritual yang luar biasa
- Banyak orang yang berubah total hidupnya hanya dengan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan musuh-musuh Nabi yang awalnya memusuhi Islam, tersentuh hatinya oleh bacaan Al-Qur’an.
Doa yang bisa kita panjatkan untuk mendapat pelajaran dari kisah Nabi Nuh adalah:
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَارْزُقْنَا الْعِبْرَةَ وَالصَّبْرَ وَالتَّقْوَى كَمَا أَنْعَمْتَ عَلَى نَبِيِّكَ نُوحٍ وَعِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat, dan berilah manfaat dari apa yang Engkau ajarkan. Anugerahkanlah kepada kami pelajaran, kesabaran, dan ketakwaan sebagaimana Engkau anugerahkan kepada Nabi-Mu Nuh dan hamba-hamba-Mu yang bertakwa.”