Keuntungan dan Kerugian Menjadi Umat Akhir Zaman

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

‎ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَا لُوْا  نُرِ يْدُ  اَنْ  نَّأْكُلَ  مِنْهَا  وَتَطْمَئِنَّ  قُلُوْبُنَا  وَنَـعْلَمَ  اَنْ  قَدْ  صَدَقْتَـنَا  وَنَكُوْنَ  عَلَيْهَا  مِنَ  الشّٰهِدِيْنَ

“Mereka berkata, Kami ingin memakan hidangan itu agar tenteram hati kami dan agar kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan (hidangan itu).” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 113)

Umat terdahulu lebih kuat keimanannya karena mukjizat bisa dilihat langsung

Umat sekarang tidak bersama nabi, tidak pernah bertemu nabi, tapi keimanannya luar biasa.

Sebenarnya ada “kerugian” dan juga “keuntungan” menjadi umat akhir zaman ini. Ruginya, kita tidak termasuk orang yang bertemu langsung dengan Rasul dan para sahabat, tidak bisa berjuang bersama mereka, dan juga tidak dapat merasakan lezatnya zaman keemasan yang dahulu pernah mereka bangun.
Namun, di balik “kerugian” tersebut ada banyak keuntungan yang dapat kita peroleh. Salah satunya kita bisa mencontoh amal-amal baik yang dilakukan umat terdahulu untuk kita amalkan sekarang. Tentu, kita pun bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Bahkan, ada satu nilai plus yang tidak dimiliki para sahabat. Mereka beriman karena bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Setiap tindak tanduknya ada dibimbing langsung oleh beliau. Sangat wajar bila mereka beriman. Sedangkan kita, umat akhir zaman, tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Kita hanya membaca dari kisah dan sirah nabawiyyah. Maka, sungguh luar biasa bila manusia akhir zaman beriman pada beliau dalam segala dimensi kehidupannya.
Umar bin Khatthab pernah berkisah. Saya bersama Rasulullah SAW sedang duduk-duduk. Rasul SAW bertanya kepada para sahabat, “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?” Para sahabat menjawab, “Para malaikat, wahai Rasul”. Nabi SAW bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”.
Para sahabat menjawab lagi, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah SWT, wahai Rasul”. Rasulullah SAW bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”
“Wahai Rasul, para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi,” jawab mereka kembali. Rasul bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”.

Dari sudut pandang ini sebenarnya Allah SWT sangat memanjakan kita. Betapa tidak, kita tidak perlu bersusah payah mencari-cari kebenaran yang hakiki. Alquran sebagai sumber kebenaran telah ada di hadapan kita.

Andaikan boleh berandai-andai. Tidak ada jaminan bagi kita untuk lebih baik bila kita hidup sezaman dengan Rasulullah SAW. Mungkin kita akan menjadi salah seorang penentang dakwah mereka. Sekarang kita bisa lapang dada menerima seruan untuk beriman kepada Allah karena kita lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Islam.

Namun, apa jadinya kalau kita hidup lima belas abad lalu, satu zaman dan satu tempat dengan Rasulullah SAW, lalu menerima seruan seperti itu? Mungkin kita akan bergabung dengan Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, atau kaum kafir Quraisy lainnya untuk menghalangi dakwah Rassulullah SAW.

Nabi Musa pengikutnya sedikit tidak punya kekuasaan, tidak punya kekuatan menghadapi Firaun yang punya kekuasaan, kekuatan dan jumlahnya banyak…kalau kita berada di zaman nabi Musa akan mengikuti nabi Musa atau Firaun ?

Semoga kita akan memilih yang benar, yang diridhoi Allah SWT.