Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 18)
Ketika Nikmat Terlalu Banyak untuk Kita Hitung
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI bahwa Allah SWT lalu menegaskan apabila manusia mau menghitung nikmat-Nya, tentu mereka tak akan dapat menentukan jumlahnya karena pikiran manusia itu sangat terbatas, sedangkan nikmat Allah begitu luas.
Oleh sebab itu, kewajiban manusia hanyalah mensyukuri nikmat-nikmat itu dan memanfaatkannya untuk memenuhi keperluan hidupnya dan berkhidmat kepada masyarakat sesuai dengan tuntunan dan keridaan Allah. Di akhir ayat ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Pengampunan disebut dalam ayat ini karena kebanyakan manusia mensyukuri sebagian kecil dari nikmat yang mereka terima, sedangkan nikmat-nikmat yang sangat luas mereka lupakan begitu saja. Penyebutan kata-kata Maha Penyayang menunjukkan bahwa Allah tidak akan memberikan hukuman kepada mereka dengan segera karena keingkaran mereka terhadap nikmat Allah yang Mahaluas itu.
QS. An-Nahl Ayat 18: Ketika Nikmat Terlalu Banyak untuk Kita Hitung
Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat Allah jauh lebih banyak daripada kemampuan manusia untuk menghitungnya. Bahkan nikmat yang paling dekat dengan kita yaitu napas, kesehatan, keluarga, ilmu, waktu, makanan, air, dan kesempatan untuk beribadah, sesuatu yang rutin sering kali kita anggap sebagai sesuatu yang biasa.
Mengapa manusia sering kufur nikmat?
Karena kita lebih mudah menghitung apa yang belum dimiliki daripada menyadari apa yang telah diberikan. Kita melihat kekurangan, membandingkan diri dengan orang lain, lalu lupa bahwa setiap hari kita sedang hidup di dalam begitu banyak nikmat Allah.
Tafsir Kemenag juga mengingatkan bahwa manusia hanya mampu mensyukuri sebagian kecil nikmat-Nya. Namun Allah tidak segera menghukum kelalaian itu. Allah menutup ayat dengan dua nama-Nya yang penuh harapan: Al-Ghafur, Maha Pengampun, dan Ar-Rahim, Maha Penyayang.
Maka syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah. Syukur adalah menyadari nikmat, mengakuinya dengan lisan, kemudian menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah dan untuk kemaslahatan sesama.
QS. An-Nahl ayat 18 mengajak kita mengubah cara memandang kehidupan: jangan hanya menghitung kekurangan, tetapi belajarlah menghitung nikmat. Sebab boleh jadi kita bukan kekurangan nikmat, melainkan kekurangan kesadaran terhadap nikmat.
Jangan mengira apa yang kita rasakan sebagai seluruh kenikmatan yang Allah sediakan. Apa yang kita ketahui hanyalah sebagian kecil dari keluasan karunia-Nya.
Jika seluruh nikmat Allah ibarat lautan, maka apa yang kita sadari dan kita rasakan mungkin hanya seperti air yang melekat di ujung jari. Maka, masih pantaskah kita banyak mengeluh dan sedikit bersyukur?
Jika nikmat Allah di dunia saja tidak mampu kita hitung, maka jangan sampai perhatian kita berhenti pada kenikmatan dunia yang sementara. Allah menyediakan kenikmatan yang jauh lebih sempurna bagi orang-orang beriman, yaitu surga-Nya.
Rasulullah ﷺ menggambarkan perbandingan dunia dan akhirat dengan sangat indah: “Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti seseorang mencelupkan jarinya ke laut, lalu hendaklah ia melihat apa yang tersisa pada jarinya.” (HR. Muslim).
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ عَنْ نِعَمِكَ.
Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, waj‘alna min ‘ibadikas-syakirin, wa la taj‘alna minal-ghafilina ‘an ni‘amik.
“Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai terhadap nikmat-Mu.”
Aamiin yaa rabbal aa’lamiin