Kenikmatan Dicabut, Menjadi Putus Asa dan Tidak Berterima Kasih

Allah Subhanahi wata’ala berfirman;
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَئِنْ  اَذَقْنَا  الْاِ نْسَا نَ  مِنَّا  رَحْمَةً  ثُمَّ  نَزَعْنٰهَا  مِنْهُ  ۚ اِنَّهٗ  لَيَــئُوْسٌ  كَفُوْرٌ
“Dan jika Kami berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) Kami cabut kembali, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih.” (QS. Hud 11: Ayat 9)
Kenikmatan dicabut, menjadi putus asa dan tidak berterima kasih
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menjelaskan jika Allah memberikan kepada manusia suatu macam nikmat, sebagai karunia-Nya seperti kemurahan rezeki, keuntungan dalam perdagangan, kesehatan badan, keamanan dalam negeri, dan anak-anak yang saleh, kemudian Allah mencabut nikmat-nikmat itu, maka manusia segera berubah tabiatnya menjadi orang yang putus asa. Mereka hanya memperlihatkan keingkaran dan tidak lagi menghargai nikmat-nikmat yang masih ada padanya. Di samping putus asa akan hilangnya nikmat itu, mereka juga ingkar kepada nikmat-nikmat yang masih ada padanya. Hal itu disebabkan karena ia tidak memiliki dua sifat yang utama yaitu kesabaran dan kesyukuran.
Sifat dasar manusia ketika menghadapi perubahan nasib: saat nikmat Allah dicabut, banyak manusia menjadi putus asa dan tidak bersyukur.
Tadabbur Hud Ayat 9:
  1. Manusia sering bergantung pada nikmat, bukan kepada Pemberi nikmat; Saat nikmat dicabut, banyak orang kecewa, marah, bahkan menyalahkan Allah, menunjukkan lemahnya iman.
  2. Putus asa dan kufur bukan karena kehilangan nikmat, tapi karena lemah dalam mengenal Allah; Orang yang yakin kepada rahmat Allah akan tetap sabar dan berharap, walau sedang diuji.
  3. Sifat asli manusia yang tercela adalah “ya’ūs” (putus asa) dan “kafūr” (sangat tidak bersyukur); Tapi ini bisa diperbaiki dengan keimanan, dzikir, dan kesabaran.
  4. Ujian bisa berupa pencabutan nikmat, untuk melihat sejauh mana seseorang mengenal Tuhannya.
  5. Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan bukan ukuran utama kedekatan dengan Allah; Kadang, pencabutan nikmat justru peluang mendekat kepada Allah SWT.
Doa Tadabbur yang Sesuai:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الصَّابِرِينَ عِنْدَ زَوَالِ النِّعَمِ، وَمِنَ الشَّاكِرِينَ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا تَجْعَلْنِي مِنَ ٱلْيَـُٔوسِينَ ٱلْكَنُودِ.
“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang sabar ketika nikmat dicabut, termasuk orang yang bersyukur dalam segala keadaan, dan jangan jadikan aku termasuk orang yang putus asa dan ingkar.”