Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمِمَّنْ حَوْلَــكُمْ مِّنَ الْاَ عْرَا بِ مُنٰفِقُوْنَ ۗ وَمِنْ اَهْلِ الْمَدِيْنَةِ مَرَدُوْا عَلَى النِّفَا قِ ۗ لَا تَعْلَمُهُمْ ۗ نَحْنُ نَـعْلَمُهُمْ ۗ سَنُعَذِّبُهُمْ مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّوْنَ اِلٰى عَذَا بٍ عَظِيْمٍ
“Dan di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 101)
Kemunafikan ada sepanjang masa, baik yang mudah diketahui maupun yang sulit diketahui
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Setelah menyebutkan hal ihwal ketiga macam golongan orang-orang yang betul-betul beriman, yakni sahabat-sahabat Rasulullah saw, maka pada ayat ini Allah menyebutkan hal ihwal orang-orang munafik, baik dari kalangan Badui, maupun dari kalangan mereka yang bertempat tinggal di kota Medinah, sehingga nampaklah dua hal yang sangat berlawanan. Seakan-akan Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguh-nya sebagian dari orang-orang Badui yang berdiam di sekitar Medinah adalah orang-orang yang sangat munafik. Kemunafikan dan kejahatan mereka amat keterlaluan. Bahkan, sebagian dari penduduk kota Medinah pun ada pula yang munafik. Sebab itu berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”
Menurut keterangan al-Bagawi, yang dimaksud dengan “kaum munafik Badui yang tinggal di sekitar kota Medinah” ialah mereka yang berasal dari Bani Muzainah, Bani Juhainah, Bani Asyja, Bani Aslam dan Bani Gifar. Sedangkan yang dimaksud dengan “kaum munafik dari kalangan penduduk kota Medinah sendiri” ialah orang-orang munafik yang berasal dari Bani Aus dan Khazraj. Mereka ini sangat keterlaluan, dan sangat pandai menyembunyikan kemunafikannya, sehingga sulit untuk diketahui oleh Rasulullah dan kaum Muslimin umumnya. Mereka ini tidak dapat diharapkan untuk kembali kepada keimanan yang sesungguhnya. Namun demikian, Allah senantiasa mengetahui kemunafikan mereka, dan Dia akan menimpakan azab kepada mereka dua kali yaitu: di dunia berupa kesengsaraan dan penderitaan batin serta pedihnya kematian. Di akhirat mereka akan dilemparkan ke dalam azab yang dahsyat, dalam neraka Jahannam myang paling bawah.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kaum munafik terbagi dalam dua kelompok. Pertama, orang-orang yang dapat diketahui kemunafikan mereka dari sikap, perbuatan, dan ucapan-ucapan mereka. Kedua, mereka yang sangat pandai dalam menyembunyikan kemunafikan, sehingga sukar untuk diketahui.
Kemunafikan adalah bagian dari sifat manusia yang sudah ada sejak dulu dan akan terus ada. Ada yang mudah diketahui, seperti seseorang yang berkata A tapi bertindak B secara terang-terangan. Namun, ada juga yang lebih sulit diketahui, misalnya kemunafikan yang terselubung dalam kebaikan atau kepura-puraan yang sangat meyakinkan.
Dalam kehidupan sosial, politik, bahkan agama, kemunafikan sering muncul dalam berbagai bentuk. Terkadang, orang bersikap munafik bukan hanya karena niat buruk, tetapi juga karena tekanan sosial, kepentingan pribadi, atau sekadar ingin diterima oleh lingkungan. Makanya, memahami kemunafikan bukan hanya soal melihat tindakan orang lain, tapi juga merenungkan sejauh mana kita sendiri mungkin tanpa sadar bersikap munafik.
Doa yang bisa diamalkan agar dijauhkan dari sifat kemunafikan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ وَسُوْءِ الأَخْلَاقِ وَسَيِّئِ الأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minan-nifāqi war-riyā’i wa sū’il-akhlāqi wa sayyi’il-a‘māli wal-ahwā’i.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat munafik, riya, akhlak yang buruk, amal yang buruk, dan hawa nafsu yang menyesatkan.