Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَوْ اَنَّـنَا نَزَّلْنَاۤ اِلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَ حَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَا نُوْا لِيُؤْمِنُوْۤا اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ
“Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 111)
Keimanan adalah semata-mata anugerah dari Allah Ta’ala dan orang kafir bersikukuh dalam kekafirannya walaupun bukti kebenaran al Quran ditampakkan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini diterangkan kepada kaum Muslimin, jika sekiranya Allah berkenan menurunkan malaikat-malaikat kepada kaum musyrik sehingga mereka dapat melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri dan dapat mendengar perkataannya dengan telinga mereka sendiri tentang kesaksian para malaikat bahwa Muhammad itu betul-betul utusan Allah, dan sekiranya orang-orang yang telah mati dihidupkan kembali lalu berbicara dengan mereka tentang kebenaran Nabi Muhammad, dan juga sekiranya segala sesuatu baik berupa keterangan Al-Qur’an tentang kebenaran Nabi dan mukjizatnya itu dikumpulkan dan ditampakkan kepada mereka, niscaya mereka tidak beriman, sebagaimana mereka nyatakan dalam sumpah mereka.
Mereka meminta tanda-tanda itu bukan untuk mencari petunjuk ke arah iman, melainkan untuk tujuan permusuhan, sehingga apapun yang mereka saksikan selalu mereka anggap sebagai sihir. Jika Allah menghendaki mereka beriman, tentu hati mereka terbuka untuk beriman dengan cara yang sungguh-sungguh. Mereka tidak mengetahui bahwa iman tidak perlu disangkutpautkan dengan melihat tanda-tanda kebenaran, sebab telah menjadi kebenaran umum bahwa keimanan adalah semata-mata anugerah dari Allah Ta’ala. Walaupun kepada orang-orang musyrik telah diperlihatkan tanda-tanda kebenaran Nabi Muhammad, namun hal itu tidak menjadi jaminan mereka benar-benar akan beriman, sebab datangnya keimanan bukanlah dengan paksaan, melainkan karena keikhlasan hati, karunia, taufik dan hidayah dari Allah swt.
Selanjutnya Allah menerangkan bahwa watak orang musyrik itu tidak diketahui oleh kebanyakan kaum Muslimin sehingga mereka meminta kepada Nabi Muhammad untuk memperlihatkan mukjizatnya, dengan harapan agar orang-orang kafir itu beriman. (Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘kebanyakan orang yang tidak mengetahui ialah orang-orang kafir).
Keimanan adalah anugrah dari Allah SWT, kita beriman dan beramal shaleh itu semua karena pertolongan Allah SWT. Laa haula, dalam ilmu tashawuf diartikan, tidak ada daya yang mampu menghindarkan manusia dari tindak durhaka dan dosa. Wa laa quwwata, yaitu dan tidak ada kekuatan yang mampu mendorong manusia untuk berbuat amal ibadah. Kalimat illa billah, bermakna kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wataala. Setiap tarikan nafas kita, setiap gerakan anggota badan kita, baik di dalam menjalani aktivitas-aktivitas duniawi ataupun amal-amal ibadah, itu semua tidak terlepas dari rahmat dan pertolongan Allah. Bahkan dorongan hati yang membuat seseorang berniat untuk melakukan amal ibadah, itu juga berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Manusia tanpa pertolongan Allah ibarat bumi tanpa sinar matahari. Tanpa matahari bumi akan gelap. Bumi bisa terang karena adanya matahari. Begitu pula manusia, bisa terlihat hebat, terlihat pandai, terlihat cemerlang itu semata-mata karena pertolongan Allah. Tanpa pertolongan-Nya, manusia kembali pada tabiatnya yang serba lemah, hina serta tak mampu berbuat apa-apa.
Di dalam Al-Qur’an diterangkan, pada surat Al Kautsar Allah telah memberikan kepada Nabi Saw al-kautsar. Apa itu al-kautsar? Di dalam tafsirnya Imam Jalalain dijelaskan, bahwa al-kautsar itu adalah kebaikan yang banyak, mulai dari diutusnya baginda Nabi Muhammad Saw, diturunkannya Al-Qur’an juga syafaat Nabi Muhammad Saw dan yang semisalnya.
Meskipun seruan ayat ini tertuju pada Baginda Nabi Muhammad Saw, akan tetapi sebagaimana yang dijelaskan para ulama, ibrah atau petikan maknanya berlaku untuk semua umatnya. Sehingga al-kautsar ini juga merupakan anugerah yang luar biasa untuk seluruh umat Nabi Muhammad shollallahu alayhi wassalam.
Setiap kebaikan yang kita lakukan adalah nikmat, setiap dzikir kita juga adalah nikmat.
Oleh karena itu, maka marilah kita perbanyak syukur kita kepada Allah SWT atas semua limpahan karunianya kepada kita.
Hakikat bersyukur itu sebagaimana diajarkan oleh para ulama tashawuf adalah bentuk kesadaran pada diri bahwa semua yang ada di tangan manusia semata-mata hanyalah anugerah dari Allah SWT. Dimana manusia pada hakikatnya tidak memiliki andil sedikitpun, sehingga yang layak dipuji hanyalah Allah, bukan malah memuji dirinya sendiri. Juga bukan malah menyombongkan diri karena merasa apa yang ada merupakan hasil jerih payahnya sendiri, lupa bahwa kehebatan dan kecerdasan hanyalah milik Allah SWT.
Di dalam Al-Quran banyak sekali kisah yang termaktub mengisahkan orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah. Di antaranya kisah Nabi Sulaiman alayhis sholatu wassalam. Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang nabi yang juga seorang raja. Kekuasaannya terbentang antara sungai nil hingga Eufrat. Pasukannya meliputi golongan jin, manusia hingga hewan. Kekayaanya juga sangat melimpah.
Itulah nabi Sulaiman, hidupnya bergelimang nikmat. Tetapi beliau sangat menyadari bahwa semua itu sesungguhnya hanyalah milik Allah. Sehingga dikatakan olehnya, “hadza min fadhli robb”i, semua ini dari anugerah Tuhanku, untuk menguji diriku, apakah aku akan bersyukur ataukah aku akan kufir nikmat.
Bersyukur atas nikmat Allah itu bukan hanya diucapkan, tetapi direalisasikan dalam perbuatan. Orang yang menyadari nikmat pemberian Tuhan tentu akan menyadari, bahwa nikmat-nikmat yang diberikan itu ibarat modal bagi pebisnis. Ibarat bekal bagi mereka yang menempuh perjalanan hidup. Tentu nikmat-nikmat itu adalah bekal bagi kita untuk mengabdi pada Sang pemberi nikmat. Beribadah kepadaNya sebagai mana tujuan kita diciptakan tidak lain kecuali untuk beribadah dan mengadi kepadaNya.
Orang yang senantiasa bersyukur akan senantiasa mentafakkuri semua yang telah dianugerahkan kepadanya kemudian berterima kasih kepada Allah dengan cara memuji Allah, lalu mewujudkan rasa terimakasihnya dalam bentuk amal-amal kebajikan. Itulah hakikat bersyukur. Termasuk juga dalam peribadahan. Seorang hamba sejatinya tidak akan mampu menjalankan ibadah melainkan berkat pertolongan Allah SWT. Sebagaimana diikrarkan di dalam setiap rokaat sholat, yaitu kalimat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan dalam menjalankan ibadah kami.
Sesungguhnya manusia itu tidak akan pernah mampu beribadah kecuali setelah diberikan nikmat hidayah, juga taufik bahkan keikhlasan dan kekhusyukan itu juga semata-mata anugerah dari Allah. Sehingga seorang hamba sejatinya seperti tidak memiliki andil apa-apa dalam ibadahnya yang layak untuk diganjar. Tidak lain karena semuanya berkat rahmat dari Allah SWT.
Sekali lagi ini mesti kita syukuri dengan cara menyadari ini semua min fadhli robbi, seraya berterima kasih kepada-Nya dengan cara menambah kuantitas dan kualitas amal ibadah sebagai bekal untuk menghadap kepada-Nya di hari akhir nanti.
Semoga kita semua termasuk hamba yang pandai bersyukur, aamiin.