Kedudukan Allah dan Rosul lebih Tinggi Dibandingkan Keluarga Sendiri

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يٰۤاَ  يُّهَا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  لَا  تَتَّخِذُوْۤا  اٰبَآءَكُمْ  وَاِ خْوَا نَـكُمْ  اَوْلِيَآءَ  اِنِ  اسْتَحَبُّوا  الْـكُفْرَ  عَلَى  الْاِ يْمَا نِ  ۗ وَمَنْ  يَّتَوَلَّهُمْ  مِّنْكُمْ  فَاُ ولٰٓئِكَ  هُمُ  الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” ?QS. At-Taubah 9: Ayat 23)
Harus lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada bapak, ibu, dan saudara-saudaranya
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI;  Setelah ayat sebelumnya menerangkan keutamaan berjihad dan berhijrah serta tidak bergunanya amal kebaikan orang-orang musyrik, maka ayat ini lebih menegaskan lagi bahwa itu semua tidak akan sempurna kecuali kaum muslim berlepas diri dari kekuasaan kaum musyrik dan lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada bapak, ibu, dan saudara-saudaranya.
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai auliya’ bentuk jamak dari kata “waliy”, yakni pemimpin, teman dekat, pelindung, atau sebagai apa saja yang kamu sering kali menyampaikan rahasia kepadanya dan kamu sekalian lebih mencintai mereka mengalahkan cintamu kepada Allah dan Rasul-Nya, baik dengan cara memaksakan diri apalagi secara sukarela jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, pelindung, teman dekat, pemimpin dan lain-lain, meski masih ada hubungan kekerabatan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim karena meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, yakni dengan menjadikan wali kepada orang yang tidak tepat.
Kedudukan Allah dan Rasul-Nya sangat tinggi, dan umat Islam diwajibkan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari siapa pun, termasuk keluarga terdekat;
1. Allah adalah Pencipta dan Pemilik Segalanya
Allah adalah sumber segala kehidupan, rezeki, dan kebahagiaan. Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari-Nya. Oleh karena itu, cinta kepada Allah adalah bentuk pengakuan akan kebesaran-Nya dan rasa syukur atas nikmat yang tak terhingga. Firman Allah:
“Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Quran Surat At-Taubah: 24)
Ayat ini menegaskan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul harus lebih besar daripada cinta kepada hal-hal duniawi, termasuk keluarga.
2. Rasul adalah Utusan Allah dan Teladan Hidup
Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah yang membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran. Melalui Rasulullah, umat Islam mengetahui ajaran Allah, dan melalui teladan hidupnya, umat memahami bagaimana menjalankan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mencintai Rasulullah adalah bagian dari mencintai Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Cinta kepada Allah dan Rasul Membimbing kepada Keselamatan
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan segala sesuatu yang baik untuk manusia dan melarang segala yang buruk. Dengan mencintai Allah dan Rasul lebih dari yang lain, seorang muslim memastikan bahwa cintanya kepada makhluk tidak menyimpang atau menghalanginya dari ketaatan kepada Allah.
4. Cinta kepada Allah dan Rasul Mengatur Cinta kepada Makhluk
Mencintai Allah dan Rasul-Nya bukan berarti mengabaikan cinta kepada orang tua, saudara, atau sesama manusia. Sebaliknya, cinta kepada Allah dan Rasul membimbing kita untuk mencintai makhluk sesuai aturan-Nya:
– Mencintai orang tua dengan berbakti.
– Menyayangi keluarga dengan tanggung jawab.
– Mengasihi sesama manusia dengan adil dan ihsan.
Namun, cinta kepada makhluk tidak boleh melebihi cinta kepada Allah dan Rasul, karena cinta yang berlebihan kepada makhluk dapat menyebabkan seseorang lupa kepada kewajiban utamanya sebagai hamba Allah.
Mencintai Allah dan Rasul lebih dari segalanya adalah bukti keimanan dan ketaatan seorang muslim. Ketika cinta ini diutamakan, kehidupan seorang muslim akan terarah, dan ia akan senantiasa berusaha untuk mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ, yang pada akhirnya membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
“Ya Allah, jadikanlah aku mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu, dan mencintai Rasul-Mu ﷺ lebih dari diriku sendiri dan keluargaku. Jadikanlah cintaku kepada keluargaku dan kerabatku dalam jalan-Mu dan dengan keberkahan-Mu. Ya Allah, ilhamilah aku hati yang khusyuk, yang mencintai-Mu dan mengikuti Rasul-Mu. Jadikanlah aku seorang yang berbakti kepada keluargaku, mencintai mereka dalam ketaatan kepada-Mu.”