Kecaman terhadap Yahudi yang Mengingkari Al Quran

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمَنْ  اَظْلَمُ  مِمَّنِ  افْتَـرٰ ى  عَلَى  اللّٰهِ  كَذِبًا  اَوْ  قَا لَ  اُوْحِيَ  اِلَيَّ  وَلَمْ  يُوْحَ  اِلَيْهِ  شَيْءٌ  وَّمَنْ  قَا لَ  سَاُ نْزِلُ  مِثْلَ  مَاۤ  اَنْزَلَ  اللّٰهُ  ۗ وَلَوْ  تَرٰۤى  اِذِ  الظّٰلِمُوْنَ  فِيْ  غَمَرٰتِ  الْمَوْتِ  وَا لْمَلٰٓئِكَةُ  بَا سِطُوْۤا  اَيْدِيْهِمْ  ۚ اَخْرِجُوْۤا  اَنْفُسَكُمُ  ۗ اَلْيَوْمَ  تُجْزَوْنَ  عَذَا بَ  الْهُوْنِ  بِمَا  كُنْتُمْ  تَقُوْلُوْنَ  عَلَى  اللّٰهِ  غَيْرَ  الْحَـقِّ  وَكُنْتُمْ  عَنْ  اٰيٰتِهٖ  تَسْتَكْبِرُوْنَ

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, Telah diwahyukan kepadaku, padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah. (Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), Keluarkanlah nyawamu. Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 93)

Kecaman terhadap yahudi yang meningkari kebenaran Al Quran, mengkhianati agama tauhid, para pendeta yahudi mengaku menerima wahyu dari Allah

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa tidak ada orang yang lebih zalim dari orang-orang Yahudi yang mengingkari kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad. Perkataan mereka telah mengkhianati ajaran agama tauhid. Begitu juga perkataan mereka yang mengaku menerima wahyu dari Allah, seperti Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah, al-Aswad al-‘Ansi di Yaman, thulaihah al-Asadi dari Bani Asad, dan orang-orang yang mengaku dirinya mampu membuat kitab seperti Al-Qur’an.

Firman Allah ini mengandung sindiran halus bagi para pendeta Yahudi yang dipuja-puja oleh pengikut-pengikutnya karena mereka itu mengaku mendapat wahyu dari Allah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang sukar dipahami dari Taurat. Menurut kenyataan, mereka inilah yang selalu memusuhi Muhammad. Al-Qur’an juga mengandung sindiran kepada sastrawan-sastrawan Arab yang merasa mampu menyusun kitab-kitab yang dapat menyamai Al-Qur’an seperti firman Allah:

وَاِ ذَا  تُتْلٰى  عَلَيْهِمْ  اٰيٰتُنَا  قَا لُوْا  قَدْ  سَمِعْنَا  لَوْ  نَشَآءُ  لَـقُلْنَا  مِثْلَ  هٰذَۤا  ۙ اِنْ  هٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اَسَا طِيْرُ  الْاَ وَّلِيْنَ

“Dan apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, mereka berkata, Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat seperti ini), jika kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini. (Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 31)

Allah menyebutkan ancaman dan siksaan yang akan diterima oleh orang-orang yang zalim itu, dikala mereka menghembuskan nafas yang terakhir, sebagai imbalan kejahatan dan dosa yang mereka lakukan. Alangkah dahsyatnya seandainya Nabi Muhammad dan kaum Muslimin melihat penderitaan yang diderita oleh orang-orang yang jahat itu pada waktu mereka menghadapi sakaratul maut, yaitu penderitaan yang akan mereka alami menjelang kematian, tidak terlukiskan kedahsyatannya. Pada waktu itu malaikat maut mengulurkan tangannya untuk merenggut nyawa mereka yang bergelimang dengan dosa, dengan renggutan yang keras.

Allah menggambarkan saat-saat yang dahsyat itu dengan nada mencela mereka. Malaikat seakan-akan berkata, “Kalau memang kamu merasa mampu, lepaskanlah nyawamu dari badanmu agar terhindar dari renggutan ini.” Perintah ini tidak akan dapat mereka lakukan, karena masalah ini di luar kemampuan mereka. Pada saat itu mereka tidak dapat menghindarkan diri dari siksa yang pedih dan menghinakan, karena mereka telah berani memutarbalikkan kebenaran, berkata dusta, dan sikap mereka yang congkak dan sombong terhadap ayat-ayat Allah, seperti perkataan mereka bahwa mereka mampu menurunkan kitab seperti Al-Qur’an.
Dalam ayat ini terdapat bandingan yang jelas antara ketidakmampuan mereka untuk membuat kitab semacam Al-Qur’an dengan ketidakmampuan mereka menghindarkan diri dari malaikat maut. Maksudnya agar mereka dapat menyadari bahwa apa yang mereka katakan itu sebenarnya hanya dusta belaka, sedang Al-Qur’an adalah datang dari Allah kepada Muhammad, yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun juga.

Orang orang yang mendustakan ayat ayat Quran dapat dilihat diakhir hayatnya, penderitaan yang sangat dasyat. Setiap muslim menginginkan akhir kehidupannya yang baik sesuai yang diingatkan khotib jumat setiap awal khutbahnya…janganlah mati bukan dalam keadaan islam, jangan mati tidak dalam keadaan berserah diri kepada Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Ali ‘Imrân/3:102]

Doa meraih kematian husnul khatimah terdapat dalam surat Al A’raf ayat 126,

رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ ࣖ ١٢٦ …

“ Rabbana afrigh ‘alayna shabran wa tawaffana muslimin.

“… Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu)”