Kebaikan di Dunia, Kebahagiaan yang Kekal di Akhirat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

جَنّٰتُ  عَدْنٍ  يَّدْخُلُوْنَهَا  تَجْرِ يْ  مِنْ  تَحْتِهَا  الْاَ نْهٰرُ  لَهُمْ  فِيْهَا  مَا  يَشَآءُوْنَ ۗ كَذٰلِكَ  يَجْزِ ى  اللّٰهُ  الْمُتَّقِيْنَ ۙ

“(yaitu) Surga-Surga ‘Adn yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam (surga) itu mereka mendapat segala apa yang diinginkan. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang yang bertakwa,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 31).

Kebaikan di Dunia, Kebahagiaan yang Kekal di Akhirat

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang mukmin apabila ditanya bagaimana kesannya terhadap apa yang diturunkan oleh Allah. Orang-orang yang mematuhi ayat-ayat Allah itu akan memberikan jawaban bahwa yang diturunkan itu adalah kebaikan dan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang menaati agamanya dan mempercayai rasul-Nya, serta mengamalkan ayat itu di tengah-tengah masyarakat.

Mereka akan menjadi hamba Allah yang berbuat kebajikan dan menerima kebahagiaan hidup, sedangkan di akhirat akan mendapat pahala yang lebih baik lagi dari pahala yang mereka terima di dunia.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa kehidupan akhirat adalah lebih baik dan sebagai tempat yang paling baik bagi orang-orang yang bertakwa. Kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat itu sifatnya kekal, sedang kebahagiaan di dunia hanya sementara. Kebahagiaan di akhirat memberikan kepuasan dalam arti sebenar-benarnya, sedang kebahagiaan di dunia merupakan kebahagiaan yang sementara dan terbatas. Kebahagiaan yang akan diterima oleh orang-orang mukmin sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut ini:

Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3: 148).

QS An-Nahl 31 menggambarkan balasan bagi orang-orang bertakwa berupa surga ’Adn yang mereka masuki, dengan sungai-sungai mengalir di bawahnya dan di dalamnya mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki.

Yang menarik adalah antara kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Di dunia kita sering mengejar:

  • Rumah yang lebih bagus,
  • Kendaraan yang lebih baik,
  • Jabatan,
  • Kekayaan,
  • Kesehatan,
  • Penghargaan manusia,
  • Kenyamanan hidup.

Semua itu boleh dinikmati. Tetapi semuanya sementara. Sedangkan Allah menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar: kenikmatan yang tidak berakhir.

Jangan sampai kita begitu sibuk memperindah kehidupan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang kekal.

Ini juga sangat nyambung dengan refleksi sebelumnya tentang “dunia tempat menanam, akhirat tempat memanen.”

Perjalanan kesadaran manusia tentang makna kebahagiaan:

Mencari bahagia → menentukan ukuran bahagia → mengenal standar Allah → melihat hasil pilihan hidup → menyadari keterbatasan dunia → memahami keabadian akhirat → melakukan evaluasi diri.

1. Apa yang dicari manusia?
Manusia sejak dahulu mengejar kebahagiaan. Tetapi sering kali ukuran bahagia hanya berdasarkan apa yang terlihat dan bisa dimiliki di dunia.

2. Allah menawarkan standar kebahagiaan yang berbeda
Dalam An-Nahl 30, orang bertakwa mengatakan bahwa apa yang Allah turunkan adalah kebaikan. Mereka menerima petunjuk Allah, mengamalkannya, dan berbuat ihsan.

3. An-Nahl 31 menunjukkan hasilnya
Kebaikan itu tidak berhenti di dunia. Allah menyiapkan Jannatu ’Adn bagi orang-orang yang bertakwa.

4. Kebahagiaan dunia ada batasnya
Harta bisa habis, jabatan berakhir, tubuh menua, rumah ditinggalkan, dan kehidupan dunia pasti berakhir.

5. Kebahagiaan akhirat tidak demikian
Inilah yang membuat kehidupan akhirat menjadi lebih baik: bukan hanya karena kenikmatannya, tetapi karena tidak ada lagi ketakutan kehilangan kenikmatan tersebut.

6. Pertanyaan untuk kita

Kalau kita mengatakan ingin masuk surga, apakah kehidupan kita hari ini sudah menunjukkan ciri-ciri orang yang sedang mempersiapkan diri menuju surga?

Dunia adalah tempat kita memilih dan menanam. Akhirat adalah tempat kita menerima hasilnya. Jangan sampai kita mengejar kebahagiaan yang sementara dengan mengorbankan kebahagiaan yang kekal.

Ya Allah, sebagaimana Engkau menjanjikan Jannatu ‘Adn bagi orang-orang yang bertakwa, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang bertakwa, yang baik kehidupannya di dunia dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di akhirat.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin