Jika Allah Berkehendak Menjadikan Seluruh Manusia Beriman kepada-Nya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلَوْ  شَآءَ  اللّٰهُ  مَاۤ  اَشْرَكُوْا  ۗ وَمَا  جَعَلْنٰكَ  عَلَيْهِمْ  حَفِيْظًا  ۚ وَمَاۤ  اَنْتَ  عَلَيْهِمْ  بِوَكِيْلٍ

“Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(-Nya). Dan Kami tidak menjadikan engkau penjaga mereka; dan engkau bukan pula pemelihara mereka.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 107)

Jika Allah berkehendak menjadikan seluruh manusia beriman kepada-Nya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dijelaskan bahwa jika Allah berkehendak menjadikan seluruh manusia beriman kepada-Nya, niscaya tidak ada seorang pun yang musyrik. Di dalam jiwa manusia terdapat potensi untuk menjadi mukmin atau kafir, taat atau fasiq. Manusia telah diberi hak memilih (ikhtiyar). Potensi yang ada pada manusia dapat berkembang sesuai dengan ilmu dan amal manusia itu sendiri, yang pada saat mau memilih perbuatan mana yang harus dilakukan, bertarunglah dua macam dorongan, dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan dorongan untuk melakukan perbuatan jelek.

Apabila manusia memilih perbuatan dengan mengikuti dorongan yang baik, niscaya mereka akan melihat cahaya kebenaran. Akan tetapi bila mereka mengikuti dorongan-dorongan yang jelek, niscaya mereka tenggelam dalam kegelapan. Allah menegaskan bahwa Nabi, tidak diberi kekuasaan untuk menjadi pemelihara mereka. Nabi hanyalah mengajak kepada kebaikan, maka apabila mereka tidak mau menerima ajakan itu, karena mengikuti dorongan yang buruk, tentulah ajakan itu tidak akan mereka terima, dan mereka tetap bergelimang dalam kebatilan.

Di akhir ayat ini Allah menguatkan penjelasan-Nya bahwa Nabi tidak diutus untuk mengurusi mereka, yakni dia tidak diberi kekuasan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Hal itu adalah urusan mereka sendiri, karena mereka telah diberi hak pilih untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Republika (Mengapa Allah tak Pernah Paksa Manusia untuk Beriman) Alquran menerangkan bahwa Allah SWT ingin umat manusia beriman kepada-Nya secara sukarela. Karena itu, Allah SWT tidak menurunkan mukjizat yang bisa membuat manusia terpaksa beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal ini diterangkan dalam tafsir Surah Asy-Syuara Ayat 4.

اِنْ نَّشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ اٰيَةً فَظَلَّتْ اَعْنَاقُهُمْ لَهَا خٰضِعِيْنَ

“Jika berkehendak, niscaya Kami turunkan bukti (mukjizat) kepada mereka dari langit sehingga tengkuk mereka selalu tunduk kepadanya.” (QS Asy-Syuara: 4)

Ayat ini mengandung arti, jika Allah menghendaki agar mereka beriman, niscaya Kami turunkan kepada mereka suatu kejadiaan yang luar biasa, yaitu berupa mukjizat dari langit yang turun kepada mereka yang akan memaksa mereka dan membuat tengkuk mereka tunduk dengan rendah hati. Akan tetapi, Kami tidak menghendaki cara pemaksaan seperti itu.

Allah ingin mereka beriman dengan suka rela, tanpa ada satu paksaan apapun kepada mereka. Iman dengan sukarela akan membuahkan hasil yang baik dan berkelanjutan. Sebaliknya, keimanan dengan secara terpaksa, akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik pula.

Memaksa orang agar beriman bertentangan dengan ayat Alquran dan sunah Allah

لَاۤ  اِكْرَاهَ  فِى  الدِّيْنِ  ۗ قَدْ  تَّبَيَّنَ  الرُّشْدُ  مِنَ  الْغَيِّ  ۚ فَمَنْ  يَّكْفُرْ  بِا لطَّا

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)

Hal itu tidak boleh dilakukan oleh para Rasul sesuai dengan firman Allah, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS Yunus: 99)

Oleh karena itu, Allah dengan hikmat dan ketetapan-Nya mengutus para Rasul yang akan menyeru umat kepada kebenaran dan tauhid yang murni, serta menuntun mereka kepada jalan yang lurus, dan syariat yang membawa mereka menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Demikianlah Allah menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat. Kemukjizatan Alquran akan tetap berlaku sepanjang masa sampai hari Kiamat sesuai dengan risalah yang dibawa Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan tempat.

Mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad hanya berlaku untuk masa dan tempat di mana Nabi itu menyebarkan risalahnya. Sesudah itu, mukjizat-mukjizat itu hanya menjadi berita yang ditulis di dalam sejarah dan tidak dapat disaksikan lagi oleh generasi yang datang kemudian.

Semakin bertambahnya pengetahuan manusia, dan semakin maju teknologi mereka, akan semakin bertambah jelas kebenaran Alquran. Isyarat-isyarat ilmiah yang disebutkan di dalam Alquran secara ringkas, yang mungkin belum dapat dipahami pada masa-masa sebelumnya, semakin terungkap, sehingga umat Islam bertambah yakin akan kebenaran Alquran.

Berkaitan dengan itu, bertambah banyak pula orang-orang yang sadar dengan sendirinya bahwa Alquran itu memang kitab yang diturunkan Allah untuk menuntun manusia ke jalan yang benar. Sehingga mereka beriman dan menganut agama Islam.

Semoga keyakinan kita akan kebenaran al Quran semakin meningkat dan juga semakin meningkat keimanan kita.