Jangan Remehkan Ucapan Itu adalah Cermin Iman

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ  اللّٰهُ  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  بِا لْقَوْلِ  الثَّا بِتِ  فِى  الْحَيٰوةِ  الدُّنْيَا  وَفِى  الْاٰ خِرَةِ  ۚ وَيُضِلُّ  اللّٰهُ  الظّٰلِمِيْنَ  ۗ وَيَفْعَلُ  اللّٰهُ  مَا  يَشَآءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 27)

Keteguhan iman tidak hanya tersembunyi di dalam hati, tetapi teruji dan terlihat melalui ucapan; dan Allah-lah yang mengokohkan keduanya dalam setiap fase kehidupan

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa Dia meneguhkan orang-orang yang mukmin dengan ucapan-ucapan yang baik dan teguh, baik dalam kehidupan di dunia ini, maupun di akhirat.

Dengan demikian, ada hubungan timbal balik antara iman dengan ucapan yang baik dan teguh. Iman mendorong seseorang untuk senantiasa menggunakan ucapan yang baik dan teguh. Sebaliknya, ucapan yang baik itu dapat memelihara keteguhan iman seseorang.

Dalam ayat ini selanjutnya, Allah swt menegaskan bahwa Dia membiarkan sesat orang-orang yang zalim dan yang suka berbuat menurut kehendaknya sendiri, tanpa mengabaikan peraturan yang benar, antara lain ialah mengucapkan kata-kata yang buruk yang mengajak kepada kekafiran, kemusyrikan, kemaksiatan, dan sebagainya.

Dalam QS Ibrahim ayat 27, Allah berfirman bahwa Dia meneguhkan orang-orang beriman dengan “ucapan yang teguh” (kalimat tsabitah) di kehidupan dunia dan di akhirat. Ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara iman (yang ada di dalam hati) dan ucapan (yang keluar dari lisan).

  • Iman yang kuat melahirkan ucapan yang baik dan teguh. Hati yang dipenuhi keyakinan akan mendorong lisan untuk berkata benar, jujur, dan tidak goyah.
  • Ucapan yang baik memperkuat dan meneguhkan iman. Dzikir, doa, dan perkataan yang benar akan menjaga hati tetap hidup dan kokoh.
  • Allah-lah yang menjadi sumber keteguhan itu.

Artinya, bukan semata hasil usaha manusia, tapi ada pertolongan Ilahi yang membuat seseorang tetap teguh, terutama saat ujian (di dunia) dan saat ditanya di alam kubur maupun akhirat. Iman yang benar akan tampak dalam ucapan yang teguh, dan Allah meneguhkan keduanya sebagai satu kesatuan dalam kehidupan dan setelah kematian

Iman yang baik akan melahirkan ucapan yang baik. Ucapan yang baik bukan sekadar kata-kata, tapi cerminan hati yang hidup dan penuh keyakinan. Saat iman kuat, lisan pun menjadi jujur, tenang, dan menenangkan. Tidak mudah goyah oleh keadaan, tidak mudah kotor oleh emosi.

Dan ketika keduanya menyatu, iman di hati, ucapan di lisan, di situlah Allah meneguhkan langkah hidup seseorang. Bukan hanya saat lapang, tapi justru saat sempit. Bukan hanya di dunia, tapi hingga di akhir kehidupan.

Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan sekadar apa yang kita rasakan, tetapi apa yang kita yakini, dan apa yang kita ucapkan saat segalanya diuji. Iman yang benar tidak diam, ia berbicara. Dan ucapan yang benar tidak kosong, ia bersumber dari iman.

“Ya Allah, kuatkan imanku, luruskan lisanku. Jadikan setiap ucapanku lahir dari keyakinan, dan setiap keyakinanku terjaga hingga akhir kehidupan.”