Jangan Ragu Terhadap Al Qur’an

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَفَمَنْ كَا نَ  عَلٰى  بَيِّنَةٍ  مِّنْ  رَّبِّهٖ  وَيَتْلُوْهُ  شَاهِدٌ  مِّنْهُ  وَمِنْ  قَبْلِهٖ  كِتٰبُ  مُوْسٰۤى  اِمَا مًا  وَّرَحْمَةً  ۗ اُولٰٓئِكَ  يُؤْمِنُوْنَ  بِهٖ  ۗ وَمَنْ  يَّكْفُرْ  بِهٖ  مِنَ  الْاَ حْزَا بِ  فَا لنَّا رُ  مَوْعِدُهٗ  ۚ فَلَا  تَكُ  فِيْ  مِرْ يَةٍ  مِّنْهُ  اِنَّهُ  الْحَـقُّ  مِنْ  رَّبِّكَ  وَلٰـكِنَّ  اَكْثَرَ  النَّا سِ  لَا  يُؤْمِنُوْنَ

“Maka apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang yang sudah mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhannya, dan diikuti oleh saksi dari-Nya dan sebelumnya sudah ada pula Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka beriman kepadanya (Al-Qur’an). Barang siapa mengingkarinya (Al-Qur’an) di antara kelompok-kelompok (orang Quraisy), maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah engkau ragu terhadap Al-Qur’an. Sungguh, Al-Qur’an itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Hud 11: Ayat 17)

Jangan ragu terhadap Al Quran

Dalam tafsir Kemenag. Allah menjelaskan bahwa orang kafir tidak sama dengan orang yang mendapat cahaya petunjuk dari-Nya, yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an datang dengan bukti kebenaran, dan didukung oleh kitab sebelumnya seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang beriman.

Orang yang mengikuti kebenaran ini adalah orang-orang yang beriman, karena mereka meyakini bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah, bukan ciptaan Nabi Muhammad.

Karena itu, tidak seharusnya ada keraguan terhadap Al-Qur’an. Ia benar dari awal sampai akhir, tanpa ada kebatilan, karena berasal dari Allah yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji.

Namun sayangnya, banyak manusia tidak mau beriman. Orang musyrik menolak karena sombong dan hanya ikut ajaran nenek moyang secara buta. Demikian juga sebagian ahli kitab, yang menyimpang karena mengubah ajaran Nabi dan membuat bid’ah dalam agama.

QS. Hud:17 berbicara tentang orang yang mendapat cahaya petunjuk dari Allah, yaitu wahyu Al-Qur’an, dan bagaimana iman yang sejati dibangun di atas ilmu, kebenaran, dan ketulusan.

Tadabur (renungan) yang bisa diambil dari ayat ini:

1. Iman yang benar harus berdasarkan ilmu dan bukti, bukan ikut-ikutan

“Apakah orang yang memiliki bukti yang nyata dari Tuhannya…”
Iman yang kokoh lahir dari keyakinan atas dasar ilmu (bayyinah), bukan hanya tradisi atau perasaan.

2. Al-Qur’an adalah cahaya dan petunjuk dari Allah — tidak ada keraguan padanya

“…dibacakan oleh seorang saksi dari-Nya…”
Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an dibacakan oleh Rasulullah atas perintah-Nya, dan itu adalah kebenaran mutlak yang tak boleh diragukan.

3. Al-Qur’an sejalan dan menguatkan wahyu sebelumnya

“…sebelumnya ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat…”
Kebenaran itu konsisten; Taurat dan Al-Qur’an sama-sama membawa pesan tauhid dan rahmat, menegaskan kesatuan risalah.

4. Keimanan bukan hanya keyakinan, tapi juga penerimaan dan ketundukan

“…mereka itulah orang-orang yang beriman…”
Iman sejati adalah mereka yang tidak hanya percaya, tetapi tunduk dan mengikuti cahaya petunjuk itu dalam hidupnya.

5. Jangan ragu pada Al-Qur’an — ia adalah kebenaran yang tak ternoda

“…dan barang siapa mengingkarinya dari kelompok-kelompok itu, maka neraka adalah tempatnya.”
Menolak Al-Qur’an sama saja menolak kebenaran dari Allah. Konsekuensinya sangat berat — yaitu siksa neraka.

6. Mayoritas manusia tidak akan selalu berada di jalan yang benar

Tersirat dari ayat sebelumnya dan sesudahnya
Jangan silau dengan jumlah mayoritas, karena kebenaran sering kali hanya diikuti oleh sebagian kecil yang mau berpikir dan merenung.

“Iman yang benar lahir dari ilmu, diterangi cahaya wahyu, dan ditopang oleh petunjuk para nabi. Al-Qur’an adalah cahaya itu. Jangan ragu padanya — ikutilah, niscaya engkau akan selamat.”

Doa permohonan agar kita diberi keyakinan terhadap Al-Qur’an, keimanan yang berdasarkan ilmu, serta dijauhkan dari keraguan, kesesatan dan keteguhan hati sampai akhir hayat.

اللَّهُمَّ اجعلني من الذين يؤمنون بكتابك على بصيرة، ويهتدون بنورك، ولا تجعل في قلبي شكًّا في الحق الذي أنزلته على نبيك، وثبّت قلبي على دينك حتى ألقاك.

Allāhumma aj‘alnī mina alladzīna yu’minūna bikitābika ‘alā baṣīrah, wa yahtadūna binūrik, wa lā taj‘al fī qalbī shakkan fī al-ḥaqq alladzī anzalta ‘alā nabiyyika, wa thabbit qalbī ‘alā dīnika ḥattā alqāka.

“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang beriman kepada Kitab-Mu dengan penuh pemahaman dan keyakinan. Tunjuki aku dengan cahaya petunjuk-Mu, dan jangan Engkau tanamkan keraguan sedikit pun dalam hatiku terhadap kebenaran yang Engkau turunkan kepada Nabi-Mu. Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu sampai aku bertemu dengan-Mu.”