Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ اِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Yunus 10: Ayat 65).
Jangan bersedih, karena kemuliaan milik Allah yang Maha Mendengar dan Mengetahui
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah melarang kaum Muslimin merasa risau dan gundah lantaran perkataan orang-orang musyrikin yang memusuhi agama Allah dan mendustakan wahyu Allah, karena sesungguhnya kemenangan, kekuatan, dan perlindungan itu tidaklah mereka miliki, tetapi Allah lah yang berkuasa untuk memberikan kesemuanya kepada makhluk-Nya menurut kehendak-Nya. Kaum Muslimin dilarang takut menghadapi orang-orang musyrikin hanya karena jumlahnya yang besar (lihat tafsir Surah al-Anfal/8: 10).
Di akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dialah Yang Maha Mendengar terhadap perkataan orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul dan mendustakan kebenaran wahyu. Yang Maha Mengetahui tindakan-tindakan mereka yang dilakukan terhadap Nabi dan pengikutnya, seperti tipu daya mereka untuk mengalahkan agama tauhid dan penganiayaan mereka terhadap Nabi dan pengikut-pengikutnya.
Berikut beberapa poin tadabur dari Surah Yunus ayat 65:
1. Penghiburan bagi orang beriman: Allah menenangkan hati Nabi Muhammad dan para pengikutnya agar tidak bersedih atas ucapan orang-orang yang mendustakan. Ini pelajaran bahwa cercaan atau hinaan dari manusia tak boleh menggoyahkan keimanan.
2. Sumber kemuliaan sejati: Kemuliaan bukan berasal dari manusia, jabatan, atau harta, tapi sepenuhnya milik Allah. Maka, mencari ridha-Nya lebih utama daripada mencari penilaian manusia.
3. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui: Semua ucapan dan niat manusia diketahui Allah. Ini memberikan harapan bagi yang terzalimi, dan peringatan bagi yang berkata buruk atau berdusta.
4. Kekuatan mental dalam dakwah atau perjuangan: Ayat ini mengajarkan keteguhan hati dalam menyampaikan kebenaran, meski menghadapi penolakan dan ejekan.
Tadabur ini bisa dikuatkan dengan refleksi pribadi: Apakah kita lebih peduli pada penilaian manusia atau pandangan Allah? Apakah kita mudah goyah ketika dicela karena kebenaran?
“Ya Allah, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu, jangan palingkan hatiku setelah Engkau beri petunjuk, dan jadikan aku termasuk orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.”