Islam Mengajarkan untuk Hidup Berjamaah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَا عْتَصِمُوْا  بِحَبْلِ  اللّٰهِ  جَمِيْعًا  وَّلَا  تَفَرَّقُوْا   ۖ وَا ذْكُرُوْا  نِعْمَتَ  اللّٰهِ  عَلَيْكُمْ  اِذْ  كُنْتُمْ  اَعْدَآءً  فَاَ  لَّفَ  بَيْنَ  قُلُوْبِكُمْ  فَاَ صْبَحْتُمْ  بِنِعْمَتِهٖۤ  اِخْوَا نًا   ۚ وَكُنْتُمْ  عَلٰى  شَفَا  حُفْرَةٍ  مِّنَ  النَّا رِ  فَاَ نْقَذَكُمْ  مِّنْهَا   ۗ كَذٰلِكَ  يُبَيِّنُ  اللّٰهُ  لَـكُمْ  اٰيٰتِهٖ  لَعَلَّكُمْ  تَهْتَدُوْنَ

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)

Pada ayat ini, Allah telah menekankan agar orang-orang yang beriman bersatu dalam melaksanakan agama Islam.

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS Asy-Syura [42]: 13).

Bersatu dalam jama’ah…

Jami’an atau jama’ah adalah wujud bersatunya kaum Muslimin dengan adanya seorang Imaam yang memimpin dan adanya makmum yang dipimpin dengan standar minimal dan maksimal satu Imaam dan dua orang makmum atau lebih.

Persatuan yang ada dalam uraian tersebut, hendaknya atas dasar agama, akidah dan mengikuti Sunnah Rasulullah, bukan atas dasar akal fikiran manusia, bukan persatuan suku, ras atau ashobiyah.

وَاَ نَّ  هٰذَا  صِرَا طِيْ  مُسْتَقِيْمًا  فَا تَّبِعُوْهُ   ۚ وَلَا  تَتَّبِعُوْا  السُّبُلَ  فَتَفَرَّقَ  بِكُمْ  عَنْ  سَبِيْلِهٖ   ۗ ذٰ  لِكُمْ  وَصّٰٮكُمْ  بِهٖ  لَعَلَّكُمْ  تَتَّقُوْنَ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 153)

Sebagai keadaan atau perwujudan persatuan umat yang di bangun atas dasar tauhid, aqidah dan muamalah atau bisa juga kita sebut dengan kata ukhuwah islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah berarti persaudaraan Islam. Adapun secara istilah, ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa untuk menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah.

Pada hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebutkan:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari-Muslim).

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya.” (HR Bukhari-Muslim).

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian tidak beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya dengan apa yang dia dicintai dirinya.” (HR Bukhari-Muslim).

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya”.

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak merendahkannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)”.

Bahkan apabila kita memperhatikan firman Allah, yang artinya: “Demi masa. Sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Jika kita memperhatikan firman Allah di atas, yang artinya, “dan mereka saling memberikan nasihat ”, ini juga termasuk fonemena persatuan.

Karena saling menasihati tidak akan terjadi pada satu orang saja, akan tetapi terjadi pada suatu kelompok antara satu dengan yang lain, saling mengingatkan, menasehati dan saling meluruskan.

Banyak hadis yang isinya melarang bercerai-berai dan memerintahkan untuk bersatu dan rukun.

Seperti yang dinyatakan di dalam kitab Sahih Muslim melalui hadis Suhail ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا، يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»

“Sesungguhnya Allah rida kepada kalian dalam tiga perkara dan murka kepada kalian dalam tiga perkara. Allah rida kepada kalian bila kalian menyembah-Nya dan kalian tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, bila kamu sekalian berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai, dan bila kalian saling menasihati dengan orang yang dikuasakan oleh Allah untuk mengurus perkara kalian. Dan Allah murka kepada kalian dalam tiga perkara, yaitu qil dan qal (banyak bicara atau berdebat), banyak bertanya dan menyia-nyiakan (menghambur-hamburkan) harta.”

Ketika Islam datang dan sebagian masuk agama Islam, maka jadilah mereka sebagai saudara yang saling mengasihi berkat keagungan Allah. Mereka dipersatukan oleh agama Allah dan saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan.

Allah menyebutkan di dalam akhir surat Ali Imran 103:

كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آياتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu agar kamu mendapatkan petunjuk.”

Begitulah, Allah telah menunjukkan jalan hidayah yakni persatuan umat, dan inilah jalan yang lurus jalan hidayah dari Allah.

Semoga kita bersatu dalam jama’ah dan bukan dalam sholat saja tapi mu’amalah yang lain.