أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَا عْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَا لُكُمْ وَاَ وْلَا دُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)
Harta dan anak anak sebagai fitnah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah memperingatkan kaum Muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada kaum Muslimin sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta dan anak-anak banyak itu menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah. Apabila seorang muslim diberi harta kekayaan oleh Allah, kemudian ia bersyukur atas kekayaan itu dengan membelanjakannya menurut ketentuan-ketentuan Allah berarti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah terhadap mereka. Tetapi apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal serta enggan menafkahkan hartanya, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah.
Dalam kehidupan manusia di masyarakat, harta benda adalah merupakan kebanggaan dalam kehidupan dunia. Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan.
Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggaan seseorang. Hal ini adalah merupakan cobaan pula terhadap kaum Muslimin. Anak itu harus dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang saleh. Apabila seseorang berhasil mendidik anak-anaknya menurut tuntutan agama, berarti anak itu menjadi rahmat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi apabila anak itu dibiarkan sehingga menjadi anak yang menuruti hawa nafsunya, tidak mau melaksanakan perintah-perintah agama, maka hal ini menjadi bencana, tidak saja kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada masyarakat seluruhnya. Oleh sebab itu, wajiblah bagi seorang muslim memelihara diri dari kedua cobaan tersebut. Hendaklah dia mengendalikan harta dan anak untuk dipergunakan dan dididik sesuai dengan tuntutan agama, menjauhkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh harta dan anak tadi.
Allah menegaskan bahwa sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maksudnya ialah barang siapa yang mengutamakan keridaan Allah dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari sisi Allah. Peringatan Allah agar manusia tidak lupa kepada ketentuan agama lantaran harta yang banyak dan anak yang banyak disebutkan pula dalam ayat yang lain.
“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9).
Kata fitnah di sini diartikan sebagai cobaan atau ujian. Allah SWT mengingatkan bahwa harta benda dan anak-anak, meskipun merupakan nikmat yang besar, juga bisa menjadi ujian bagi manusia. Ujian ini bisa muncul dalam beberapa bentuk:
1. Ujian Ketaatan: Apakah manusia tetap taat kepada Allah meskipun diberikan kekayaan dan keturunan? Atau justru harta dan anak-anak membuat mereka lalai dari kewajiban agama dan lebih mencintai dunia daripada Allah?
2. Ujian Kesabaran dan Syukur: Bagi sebagian orang, harta atau anak bisa menjadi sumber kekhawatiran, kesedihan, atau kesulitan. Ini adalah ujian bagi seseorang untuk tetap sabar dan bersyukur dalam kondisi apapun.
3. Godaan Duniawi: Harta dan anak-anak sering kali membuat seseorang terfokus pada kehidupan duniawi, sehingga lupa akan kehidupan akhirat. Ini adalah ujian untuk menjaga keseimbangan antara memenuhi tanggung jawab dunia dan tetap mengingat akhirat.
Melalui ayat ini, Allah mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia, baik harta maupun keluarga, harus dipandang sebagai sarana ujian untuk melihat bagaimana mereka menjalani kehidupan, apakah mereka tetap taat dan bersyukur kepada Allah, atau justru terjerumus dalam kecintaan yang berlebihan kepada dunia.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ketaatan kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, serta agar aku mampu menunaikan amanah yang Engkau percayakan kepadaku, baik dalam hal harta maupun anak-anak. Ya Allah, bantulah aku untuk menjaga dengan baik nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, dan jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa