Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
لَاُ قَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَ رْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَا فٍ ثُمَّ لَاُ صَلِّبَنَّكُمْ اَجْمَعِيْنَ
“Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang (tangan kanan dan kaki kiri atau sebaliknya), kemudian aku akan menyalib kamu semua.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 124)
Hukuman sadis memotong tangan dan kaki bersilang, kemudian menyalibnya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini diceritakan bahwa Firaun melanjutkan ancamannya kepada mereka; Pasti aku akan memotong tangan dan kakimu secara bersilang, kemudian sungguh aku akan menyalib kamu semua.
Demikianlah Firaun memandang para pesihir itu bersalah, akibat mereka beriman kepada Allah tanpa meminta izinnya lebih dahulu. Oleh sebab itu, ia merasa berhak dan berkuasa untuk menjatuhkan hukuman yang berat kepada mereka, dengan memotong tangan kanan dan kaki kiri atau sebaliknya. Sesudah itu masing-masing mereka akan disalibnya. Hukuman tersebut dimaksudkan juga untuk menakut-nakuti orang-orang lain yang berniat pula untuk melakukan tipu daya semacam itu terhadapnya atau bermaksud untuk memberontak dan membebaskan diri dari kekuasaannya.
Firaun sangat khawatir kalau rakyatnya, bangsa Mesir mengikuti pula jejak para pesihir itu untuk beriman kepada Musa a.s, karena hal itu akan mengakibatkan keruntuhan bagi kerajaan dan kekuasaannya sebagai tuhan bagi rakyatnya yang selama ini telah dipaksa untuk menyembahnya sebagai Tuhan. Di samping itu, ia mencoba pula untuk berbuat seolah-olah ia membela kepentingan rakyatnya yaitu memelihara kemerdekaan mereka serta melindungi agama mereka. Oleh sebab itu ia mengatakan bahwa para pesihir telah berkomplot dengan Musa untuk merebut kekuasaan Mesir dari negeri mereka sendiri.
Demikianlah umumnya sikap penguasa yang zalim dan angkara murka. Ia sangat khawatir apabila rakyatnya memalingkan muka kepada pemimpin yang lain. Namun bangsa yang punya harga diri dan ingin memelihara hak-hak azasinya, pasti akan bersatu padu menentang kekuasaan yang zalim itu, betapa pun hebatnya sang penguasa.
Sejarah selalu berulang, kezaliman selalu berakhir, dan dalam Quran ada beberapa ayat meyebutkan perhatikanlah akhir kisah orang orang yang berbuat zalim.
فَاَ خَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ ۚ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ
“Maka Kami siksa dia (Fir’aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 40)
فَا نْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Lalu Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran).” (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 25).
Sampaikanlah kisah kisah untuk dijadikan ibrah (pelajaran)
فَا قْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kisah yang ada dalam al Quran.