Dulu Unta Meringankan Beban, Kini Teknologi Menggantikannya: Semua adalah Nikmat Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَحْمِلُ  اَثْقَا لَـكُمْ  اِلٰى  بَلَدٍ  لَّمْ  تَكُوْنُوْا  بٰلِغِيْهِ  اِلَّا  بِشِقِّ  الْاَ نْفُسِ ۗ اِنَّ  رَبَّكُمْ  لَرَءُوْفٌ  رَّحِيْمٌ ۙ

“Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 7)

Dulu Unta Meringankan Beban, Kini Teknologi Menggantikannya: Semua adalah Nikmat Allah

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Dan kamu pun bisa memperoleh manfaat lain dari hewan ternak itu karena ia sanggup mengangkut beban-bebanmu yang berat dan tidak mampu kamu pikul sendiri ke suatu negeri nun jauh yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah.

Sungguh, Tuhanmu yang telah menciptakan hewan ternak itu dan menyediakan berbagai manfaat darinya adalah Tuhan Yang Maha Pengasih kepada hamba yang taat dan mendekatkan diri kepada-Nya, Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

QS. An-Nahl ayat 7 justru menarik kalau dibaca dengan kacamata zaman sekarang. Yang berubah adalah alatnya, bukan pesan dan prinsip ayatnya.

1. Ayatnya berbicara tentang teknologi transportasi pada zamannya

Pada masa turunnya Al-Qur’an, unta, sapi, kuda, dan hewan tunggangan merupakan teknologi transportasi yang sangat penting. Hewan bukan sekadar makanan, tetapi membantu manusia memindahkan beban dan mencapai tempat yang sulit dijangkau.

Tafsir Kemenag sendiri menjelaskan bahwa nikmat itu berupa kemampuan hewan ternak mengangkut barang atau beban manusia dari satu tempat ke tempat lain yang tidak sanggup dibawa manusia sendiri.

Jadi, jangan berhenti pada pertanyaan:

“Apakah sekarang kita masih menggunakan unta untuk mengangkut barang?”

Tetapi tanyakan: “Apa fungsi unta pada zaman itu, dan apa yang menggantikan fungsi tersebut pada zaman kita?”

2. Sekarang fungsi itu berpindah kepada teknologi

Dahulu: Manusia → membutuhkan tenaga hewan → untuk mengangkut beban → menuju tempat jauh.

Sekarang: Manusia → menggunakan teknologi → untuk mengangkut beban → menuju tempat yang jauh.

Contohnya:

  • Unta → truk
  • Kuda → kendaraan bermotor
  • Gerobak → kendaraan logistik
  • Kapal layar sederhana → kapal kontainer
  • Perjalanan berhari-hari → pesawat terbang
  • Mengangkut hasil pertanian secara manual → mesin dan kendaraan pertanian.

Bahkan ada daerah pegunungan atau medan tertentu yang sampai sekarang masih menggunakan hewan angkut, karena kendaraan modern tidak selalu mampu menggantikan hewan secara praktis. Sekalipun sudah ada kereta, truk, dan pesawat, manusia belum sepenuhnya terbebas dari kebutuhan terhadap hewan dalam kondisi tertentu.

3. Tetapi ada pesan yang lebih dalam daripada sekadar transportasi

“Gunakanlah unta untuk mengangkut barang.”

Tetapi menunjukkan satu pola besar dari nikmat Allah: Allah menciptakan sesuatu yang memiliki kemampuan tertentu, kemudian kemampuan itu menjadi sarana bagi manusia untuk mengatasi keterbatasannya.

  • Manusia mempunyai keterbatasan fisik.
  • Tidak kuat membawa 100 kg.
  • Tidak mampu berjalan ratusan kilometer.
  • Tidak mampu menyeberangi lautan.
  • Tidak mampu terbang.

Maka Allah menyediakan sarana. Dulu sarana itu hewan. Sekarang sarana itu bisa berupa mesin, kendaraan, kapal, pesawat, teknologi digital, dan berbagai inovasi manusia.

4. Bahkan kata أَثْقَالَكُمْ — atsqālakum menarik

Artinya adalah beban-bebanmu.

Beban tidak harus selalu dipahami semata-mata sebagai barang.

Dalam konteks ayat, memang yang dimaksud adalah beban fisik yang diangkut hewan. Tetapi untuk tadabbur kehidupan, kita bisa melihat prinsip yang lebih luas: Allah memberi manusia berbagai sarana untuk meringankan beban kehidupan.

Dulu: Unta meringankan beban manusia.

Sekarang: Truk meringankan beban manusia.

Dulu: Kuda membantu manusia bepergian.

Sekarang: Mobil, kereta dan pesawat membantu manusia bepergian.

Dulu: Hewan menjadi alat transportasi.

Sekarang: Teknologi menjadi alat transportasi.

Yang harus kita lihat adalah nikmat Allah di balik perubahan teknologinya.

5. Bahkan ayat ini sangat menarik jika disandingkan dengan ayat berikutnya

QS. An-Nahl 8 mengatakan:

وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”

Ini luar biasa. Ayat 7 berbicara tentang manusia yang menggunakan hewan untuk mengangkut beban.

Lalu ayat 8 menyebut bahwa Allah menciptakan apa yang belum kamu ketahui.

Sehingga kalau dibaca sebagai rangkaian:

Ayat 5: Hewan memberikan manfaat.
↓
Ayat 6: Hewan memberikan keindahan.
↓
Ayat 7: Hewan membantu mengangkut beban dan membawa manusia ke tempat jauh.
↓
Ayat 8: Allah menciptakan pula sesuatu yang belum kamu ketahui.

Seakan-akan ada isyarat tentang berkembangnya sarana kehidupan manusia.

Bukan berarti ayat 8 secara spesifik meramalkan mobil, pesawat, kereta, atau teknologi tertentu. Tetapi ayat itu membuka kesadaran bahwa nikmat dan ciptaan Allah jauh lebih luas daripada apa yang telah diketahui manusia pada suatu zaman.

6. Maka relevansinya hari ini bisa dirumuskan begini

QS. An-Nahl 7 bukan hanya berbicara tentang hewan pengangkut. Ayat ini mengajarkan kita untuk melihat teknologi sebagai bagian dari nikmat Allah yang memudahkan keterbatasan manusia.

Kalau dahulu manusia bersyukur karena Allah memberi unta untuk meringankan beban, apakah kita hari ini juga bersyukur ketika Allah memberi manusia ilmu yang melahirkan kendaraan, mesin, teknologi dan berbagai sarana yang meringankan kehidupan?

Tetapi ada batas penting:

Teknologi adalah nikmat ketika membuat manusia semakin mudah menjalankan kehidupan dan semakin bersyukur kepada Allah. Teknologi menjadi masalah ketika justru membuat manusia lupa kepada Pemberi nikmat.

Karena itu penutup ayat sangat tepat:

إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Maha pengasih dan penyayangnya Allah menjadikan hewan sebagai sarana meringankan beban manusia. Manusia dituntut berkembang terus, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, manusia diberi akal untuk mengembangkan sarana sarana yang meringankan bebannya.

Jangan hanya bertanya: apa yang Allah berikan kepada kita? Tetapi bertanyalah: dengan apa yang Allah berikan kepada kita, beban siapa yang dapat kita ringankan?”

Inilah salah satu bentuk syukur atas akal yang Allah berikan. Sebab sebaik-baik manusia bukanlah yang hanya menikmati kemudahan, tetapi yang menggunakan ilmu, akal, tenaga, dan hartanya untuk menciptakan kemudahan dan meringankan beban orang lain.

Semoga hidup kita tidak berhenti pada menjadi pengguna nikmat Allah, tetapi tumbuh menjadi pencipta manfaat bagi kehidupan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، وَمِنَ النَّافِعِينَ لِعِبَادِكَ، وَارْزُقْنَا عَقْلًا حَكِيمًا وَعِلْمًا نَافِعًا، وَوَفِّقْنَا لِأَنْ نُخَفِّفَ عَنْ النَّاسِ أَعْبَاءَهُمْ، وَنَجْعَلَ حَيَاتَهُمْ أَيْسَرَ وَأَفْضَلَ، وَاجْعَلْ كُلَّ مَا أَعْطَيْتَنَا سَبَبًا لِلنَّفْعِ وَالْخَيْرِ وَالْعِبَادَةِ.

Allahumma aj‘alnā minasy-syākirīna lini‘amika, wa minan-nāfi‘īna li‘ibādika, warzuqnā ‘aqlan ḥakīman wa ‘ilman nāfi‘an, wa waffiqnā li-an nukhaffifa ‘anin-nāsi a‘bā’ahum, wa naj‘ala ḥayātahum aysara wa afḍala, waj‘al kulla mā a‘ṭaitanā sababan lin-naf‘i wal-khairi wal-‘ibādah.

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur atas nikmat-Mu dan orang-orang yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Mu. Karuniakanlah kepada kami akal yang bijaksana dan ilmu yang bermanfaat. Berilah kami kemampuan untuk meringankan beban manusia dan menjadikan kehidupan mereka lebih mudah dan lebih baik. Jadikanlah segala sesuatu yang Engkau karuniakan kepada kami sebagai jalan untuk memberikan manfaat, menghadirkan kebaikan, dan beribadah kepada-Mu.”